Rabu, 15 Agustus 2018

Petani Semakin Tua

Akhir pekan lalu, 11-12 Agustus 2018, saya mengikuti workshop dengan topik utama agraria. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Edelweiss Center for Sustainable Development (ECSD). Narasumber utama adalah Prof. Ben White, (pensiunan) dosen di International Institute of Social Studies, Netherland.

Pada tulisan ini, saya nggak mau menceritakan tentang dinamika workshop berlangsung atau diskusi apa saja yang terjadi. Lebih tertarik untuk mengeksplorasi buah pikiran gue sendiri yang (walau) diakibatkan oleh perdiskusian tersebut. Tentu saja, saya tidak memiliki data yang relevan atau argumentasi yang paling tepat, jadi kalau ada yang baca blog ini, tolong jangan dikutip, yah. Unreliable opinion.

Tantangan yang akan dihadapi (most participants agreed on this) adalah semakin sedikitnya pemuda (youth) yang mau/akan jadi petani. Keadaan saat ini menunjukkan bahwa petani semakin tua. Tua ini berarti secara fisik mereka (mungkin beberapa, lah, ya) tidak sekuat pemuda dan itu (lagi-lagi) mungkin mempengaruhi produktivitas.

Petani semakin tua. Apakah suatu hal yang baik atau buruk? Ataukah situasi tersebut mampu merefleksikan suatu hal? Pertanyaan lain yang paling sulit untuk saya jawab sendiri adalah apa tujuan dari perdebatan/pergerakan/perjuangan agraria ini? Kesejahteraan? Keadilan? (yang kata adil pun seringkali memiliki keberpihakan). Harap maklum, saya pendatang baru dalam isu ini.

Pak Ben juga bilang (kita semua juga bisa cek di sebaran data yang ada di internet, tinggal google) bahwa umur harapan hidup manusia sekarang makin tinggi. Manusia Indonesia semakin sehat. Petani juga walau tua, tetap sehat (harapan saya, sih, demikian).

Lalu, apa salahnya dengan petani makin tua? Sepintas terpikir, jangan-jangan dalam sektor pertanian, atau sepetak lahan tani memiliki daya serap maksimal. Sehingga, kalau yang tua belum pensiun dari lahan tadi, yang muda belum bisa masuk (bekerja). Maka, umur memasuki sektor pertanian di usia yang cukup matang.

Alternatif solusi yang kemudian terpikir, mungkin harus ada pekerjaan sela, sebelum mereka menjadi petani tetap (meminjam istilah pegawai tetap). Pemuda (youth) diskenariokan untuk memiliki pekerjaan sela atau yang tua diberikan pekerjaan pensiunan petani. Atau lebih pada model bisnis? Aktivitas bisnis yang berkenaan dengan sektor pertanian. Maka alternatif lain yang muncul menjadi (misal) wisata agraria, wisata panen padi, wisata petik buah, dsb. Besaran nilai tambah seringkali pertimbangan utama bagi pebisnis (petani).

Pernyataan Pak Ben, di lain kesempatan, kuliah umum 14 Agustus 2018 di FISIP Universitas Lampung, pertanian memiliki daya serap tenaga kerja yang tinggi. Pernyataan lainnya, kurang-lebih, dinyatakan modern ketika hal tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Indonesia saat ini membutuhkan lowongan pekerjaan, mengurangi pengangguran. Mengapa tidak sektor pertanian dibuat daya serap maksimum? Ini buah pikiran yang menarik. Sebelumnya tidak terpikirkan. Secara umum ini mengartikan bahwa pemerintah patutnya memiliki kebijakan yang mendukung sektor pertanian dengan pertimbangan di antaranya: penyerapan tenaga kerja, ketahanan pangan, dan kemampuan produksi.

Ini beneran PR. Kalau saya dan rekan-rekan akan melakukan riset mengenai sektor agraria, saya pasti pusing sendiri dengan pikiran-pikiran ini. Belum lagi permasalahan lain yang belum saya sebut, seperti kepemilikan lahan, relasi antar anggota keluarga, pola reproduksi rumah tangga, sampai dengan kebijakan publik yang pro pertanian hingga tingkat internasional.

Ayo, jadi petani!

Sabtu, 17 Maret 2018

Persinggungan Jalan

Jika kita andaikan, kehidupan ini seperti setapak jalan, melangkah dalam waktu, maka tiap jejaknya akan kentara membekas. Dalam ilusi, tapak jalan yang terjadi memungkinkan kita untuk bertemu, berjauhan, dan juga berdampingan. Diri kita yang tetap berjalan, orang lain yang memilih setapak yang berbeda, seketika itu menghilang dari pandangan.

Istilah yang teman saya dulu sering bilang, "Pathnya ga crossing crossing". Sekarang, sih, sudah ada Path, tinggal unduh saja aplikasinya di telepon genggam. Semudah itu crossing.

Sayangnya, kita ini masih manusia. Bukan robot. Secanggih apapun teknologi yang berkembang, interaksi primitif masih dibutuhkan. Kita masih butuh jabat tangan, berpegangan tangan, berpelukan, dan terserah saja.

Bagi saya, jabatan tangan pertama itu memberikan impresi. Apakah impresi pertama itu benar atau tidak, silakan dibuktikan masing-masing. Selayaknya manusia yang baik, tidak tepat menilai di pertemuan pertama, saran saya.

Sejarah berulang. Ada juga yang bilang, kalau sejarah berulang, berarti manusia tidak belajar sejarah. Entah bagaimana, kita mungkin bertemu dengan teman-teman yang memiliki kemiripan dengan teman-teman yang sudah lama kita kenal. Setidaknya, setidaknya 3 orang berbintang Cancer adalah sahabatku ketika sekolah, ketika kuliah aku mendapatkan 2 sahabat berbintang Cancer. Suamiku Libra, seingatku ada 3 sahabatku juga berbintang Libra. Kebetulan? Tidak juga. Pas pathnya crossing, saja.

Menikmati hidup itu paling mudah. Memperhatikan tanda-tanda yang ada, menyerap informasi yang tersaji, dan menghirup udara lebih dalam. Waktu akan menjadi penentunya. Pada titik-titik tertentu itu yang menjadi pertemuan kita, kamu (pembaca blog ini) dan saya. Titik pertemuan kita berikutnya menjadi misteri. Kepentingannya, adalah rasa ingin tahu kita penjawabnya.

Hal yang pasti, setapak ini selalu sejalan dengan keluarga. Darmanto, Djausal, dan Soekardi. Never let them go.

Jumat, 03 November 2017

Lihat di Sekelilingmu

Percaya ga percaya, salah satu pernyataan yang sering temanku bilang. Terpaksa kupinjam untuk tulisan kali ini. Satu hal dua, karena ternyata kadang kita belum percaya sekarang, selalu nanti percaya.

Pertemuan dengan teman lainnya, membuatku harus mengingat kembali beberapa peristiwa di masa lalu. Hal-hal yang mungkin mendukung dan menjadikanku seperti sekarang ini. Bukan secara langsung terkait pada personal, tapi pada perkara how do i like enjoying my time.

Waktu selalu konsisten. Seperti slogan, always moving forward. Bagi orang-orang yang senang membaca buku fiksi ilmiah, (mungkin) waktu jelas terus berjalan, namun bersamaan dengan itu mungkin terjadi paralel waktu terjadi. Sederhananya, kalau mungkin ada yang berpikir, ada kenyataan lain yang berjalan bersamaan dengan kenyataan yang ini, maka pada kenyataan yang lain mungkin kita akan memiliki keputusan yang berbeda.

Kembali pada judul, pembicaraan itu membuat saya melihat kembali sekeliling saya di masa lampau dan hingga sekarang. Dalam lini masa, titik-titik waktu memungkinkanku memiliki pengalaman musik.

Kaset pertama yang dibeli, dianjurkan oleh kakak tertuaku  Kaset yang sengaja dibeli dari uang tabunganku sendiri. Meminta dipilihkan karena saat itu saya tidak tahu artis yang bagus. Mungkin seperti ilmu sosial, manusia memiliki kemampuan dasar: imitasi. Jadi, saya mengimitasi kakak saya.

Kalau anak 90-an, siapa yang ga dengerin Slank. Bagi saya, saat itu, kakak saya pendengar Slank garis kelas. Periode awal Slank, Dewa19, dan Gigi muncul.

Jaman SD atau SMP (entahlah), orang tua saya memanggil seseorang untuk mengajarkan bermain gitar. Beberapa orang di sekitar saya mengajarkan cara memainkan gitar. Salah satu lagu yang akan saya nikmati memainkannya (sampai sekarang) More Than Words-Extreme. Lagu itu sepupuku yang mengajarkannya.

Jaman kuliah, jamannya bermandikan musik setiap minggu (hampir). Band-band Bandung yang saat itu baru kukenal. Kemudian, menjadi penikmat Mocca, Bubi Chen (LIVE!!!), Idang Rasjidi (Live juga lho), grup yang kemudian membentuk D'cinnamons, groupiesnya Equinox (duonya temenku, Pai and Dina). Juga pernah sengaja ke Jakarta untuk nonton Jazz Goes to Campus dan pastinya Java Jazz (yang ini sih setelah lulus). Bahkan, foto bareng Bubi Chen menjadi mungkin.

Sewaktu jadi mahasiswa, saya juga ikutan UKM Lingkung Seni Sunda (LISTRA) (yang sekarang super membanggakan). Ketika berlatih gamelan, teman-temanku diajak berkolabirasi memainkan lagu dengan iringan biola. Maaf ya, saya lupa loh namanya tapi terima kasih sudah memberikan pertunjukan yang menyenangkan.

Satu hal yang secara hidup kunikmati, ketika nonton langsung Endah N Rhesa, 2 kali dalam minggu yang sama. Pertama, aku foto, cetak, belikan pigura. Pada saat pertunjukan kedua, sengaja mencari waktu untuk memberikan foto itu.

Ada 1 teman lama, sudah lama tak bersua dan bercengkerama -entah dia ingat atau tidak-, her fave music group: 4peniti. Sangat menyenangkan untuk mendengarkan mereka bermain langsung (live).

Hollywood Nobody dulu, saya kenal vokalis dan juga sang keyboardist. I adore her voice. Sekarang di Makasar, coba aja datang ke se.cangkir.

Sekeliling aku, sahabat SMA dulu ada yang jadi DJ. Gara-gara dia, selama 18 hari berturut-turut mempersiapkan dan menikmati panggung musik dan pagelaran seni. I did enjoy every adrenalin because the beat. Dari sekian performance, ada 1 band jazz. Cuma 1.

Setelah menikah, dan selama hamil Banyu sering banget nonton band/music performance yang kebanyakan adalah teman suami saya.

Life is fun with music. I need more music vitamin.



Selasa, 20 Juni 2017

Sejati Manusia

Hidup itu kita yang punya. Kita yang tentukan. Hal-hal yang ada dan terjadi karena peran manusia sendiri. Percaya atau tidak.

Sampai pada waktunya (dulu) sayapun mempertanyakan, setiap kali (rasanya) saya diberikan cobaan, adakah benar Tuhan memberikanku cobaan seperti ini? Saatnya kita memaknai hidup manusia. Salah satu yang saya percaya (Anda tidak perlu), bahwa Allah memberikan umat-Nya petunjuk. Bukan saja yang Dia telah sampaikan tapi semesta terkadang menunjukkan kebenaran ada-Nya.

Apa yang terjadi pada diriku (sampai) saat ini pun kusadari (sebagian besar) karena hendakku dan sadarku. Puaskah? Jika memang ini adalah batas mampuku sebagai manusia. Kepuasan tidak lagi perlu ditanyakan. Sejati sudah.

Terasa beberapa langkah dalam hidup begitu berat. Bahkan, kuasa terbesar dalam diri hanya ingin terdiam. Diam sesaat. Bukan untuk menikmati waktu yang ada, namun hanya menatap kekosongan. Kehampaan.

Jika hidup kita usai, menyesalkah kita?

Maka, walau berat, kaki harus tetap melangkah. Saya memilih untuk melangkah ke depan. Terlalu lelah untuk melihat ke belakang.

Jalan ini masih perlu ditentukan; lurus, belok kanan atau belok kiri.

Lakukanlah hal-hal yang lebih menyenangkan untuk menikmati hidup. Berkelok itu biasa. Lurus saja bahkan terlalu biasa. Pembeda utama berada pada pemandangan di kanan dan kiri jalan, juga daya tarik penghenti waktu. Demi kehidupan yang lebih menyenangkan.

Rabu, 27 Mei 2015

Pelajaran Menghargai

"Ketika mereka merasa terluka, mereka menangis dan pergi jauh dari kita.".

Padahal setiap luka akan sembuh. Sesakit apapun luka itu, tubuh ini akan berusaha untuk sembuh, kembali pulih seperti senantiasa. Mungkin justru itu yang ktia perlukan, terluka dan penyembuhan.

Bukan sesungguhnya tentang luka berdarah. Tentang hati yang terluka, mudah tersakiti oleh ilusi. Ilusi yang berhasil membentuk perspektif melukai pada perasaan kita. Apakah artinya pikiran kita begitu kejam hingga kita mampu membuat diri kita sendiri terluka?

Pikiran kita membentuk suatu imajinasi, suatu gambaran dengan deskripsi yang terasa begitu nyata. Kadang kita terlupa bahwa kita memenangkan rasa dan lupa melibatkan daya pikir yang berlogika. Kita dikalahkan rasa.

Bagi sebagian besar orang, keinginan untuk menjadi lebih baik itu selalu ada. Entah apapun itu. Alasan apapun itu. Akupun demikian, berusaha untuk lebih baik. Ketika SMP, aku diajarkan berteman baik dengan banyak orang oleh sahabatku. Lalu, aku tidak bisa selamanya bergantung bersamanya untuk menjadi "orang" yang kumau. Aku harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang lebih baik.

Ternyata, setelah berbagai kisah, persahabatan dan pertentangan yang aku alami. Kunci utama yang harus kita lakukan adalah menghargai orang lain. Dengan penuh pengharapan, mereka juga akan menghargai diri ini.

Seperti keponakanku yang menyukai warna merah. Tentu saja kalau ingin membuat dia bahagia, belikanlah dia baju berwarna merah. Kalau kita paksa dia untuk memakai hijau, yang adalah warna kesukaan kita, pastilah akan ada konflik yang terjadi.

Konflik memang sesuatu yang mungkin terjadi dan kadang kala tidak bisa kita hindari. Aku hanya bisa berusaha untuk meredamnya atau membuat konflik tidak berkepanjangan. Bukankah tiap dari kita memang individu yang berbeda?

Pertanyaan yang patut kita pertanyakan pada diri kita adalah "Seberapa mampu kita memaksa diri kita untuk menghargai orang lain, tanpa syarat. Menerima mereka apa adanya.".

Aku bisa membayangkan aku ketika di awal umur 20 tahun. Darah masih mendidih. Pemudi yang merasa dan berpikir bahwa dia akan melakukan yang terbaik dan perubahan di dunia ini. Penuh harapan yang luar biasa. Mampu menyatakan bahwa yang lain itu salah, dan yang benar selayaknya yang diinginkan. Menolak diperintah. Memiliki keinginan sendiri.

Ternyata tidak. Harapan memang selalu ada. Namun, pelajaran tentang hidup ditemukan pada dua hal; buku yang dituliskan dan buku yang dibukakan halamannya oleh alam semesta. Membuatku sadar. Orang tua (dan orang yang lebih tua) adalah mereka yang telah membaca buku kehidupan lebih dulu dan lebih banyak. Untuk itu, mereka patut kita hargai. Atas segala keberhasilan yang telah tercapai dalam hidupnya, adalah inspirasi bagi yang muda. Akupun berusaha bernegosiasi dengan diriku sendiri agar menjalani waktu dengan lebih baik.

Apakah kita masih akan terdiam, menangisi luka, dan pergi dari yang sejati? Akankah kita mengecap dan mewarnai hidup ini dengan penuh warna, warna hitam sekalipun? Beranikah kita menjadikan semua tempat adalah tempat ternyaman?