Rabu, 27 Mei 2015

Pelajaran Menghargai

"Ketika mereka merasa terluka, mereka menangis dan pergi jauh dari kita.".

Padahal setiap luka akan sembuh. Sesakit apapun luka itu, tubuh ini akan berusaha untuk sembuh, kembali pulih seperti senantiasa. Mungkin justru itu yang ktia perlukan, terluka dan penyembuhan.

Bukan sesungguhnya tentang luka berdarah. Tentang hati yang terluka, mudah tersakiti oleh ilusi. Ilusi yang berhasil membentuk perspektif melukai pada perasaan kita. Apakah artinya pikiran kita begitu kejam hingga kita mampu membuat diri kita sendiri terluka?

Pikiran kita membentuk suatu imajinasi, suatu gambaran dengan deskripsi yang terasa begitu nyata. Kadang kita terlupa bahwa kita memenangkan rasa dan lupa melibatkan daya pikir yang berlogika. Kita dikalahkan rasa.

Bagi sebagian besar orang, keinginan untuk menjadi lebih baik itu selalu ada. Entah apapun itu. Alasan apapun itu. Akupun demikian, berusaha untuk lebih baik. Ketika SMP, aku diajarkan berteman baik dengan banyak orang oleh sahabatku. Lalu, aku tidak bisa selamanya bergantung bersamanya untuk menjadi "orang" yang kumau. Aku harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang lebih baik.

Ternyata, setelah berbagai kisah, persahabatan dan pertentangan yang aku alami. Kunci utama yang harus kita lakukan adalah menghargai orang lain. Dengan penuh pengharapan, mereka juga akan menghargai diri ini.

Seperti keponakanku yang menyukai warna merah. Tentu saja kalau ingin membuat dia bahagia, belikanlah dia baju berwarna merah. Kalau kita paksa dia untuk memakai hijau, yang adalah warna kesukaan kita, pastilah akan ada konflik yang terjadi.

Konflik memang sesuatu yang mungkin terjadi dan kadang kala tidak bisa kita hindari. Aku hanya bisa berusaha untuk meredamnya atau membuat konflik tidak berkepanjangan. Bukankah tiap dari kita memang individu yang berbeda?

Pertanyaan yang patut kita pertanyakan pada diri kita adalah "Seberapa mampu kita memaksa diri kita untuk menghargai orang lain, tanpa syarat. Menerima mereka apa adanya.".

Aku bisa membayangkan aku ketika di awal umur 20 tahun. Darah masih mendidih. Pemudi yang merasa dan berpikir bahwa dia akan melakukan yang terbaik dan perubahan di dunia ini. Penuh harapan yang luar biasa. Mampu menyatakan bahwa yang lain itu salah, dan yang benar selayaknya yang diinginkan. Menolak diperintah. Memiliki keinginan sendiri.

Ternyata tidak. Harapan memang selalu ada. Namun, pelajaran tentang hidup ditemukan pada dua hal; buku yang dituliskan dan buku yang dibukakan halamannya oleh alam semesta. Membuatku sadar. Orang tua (dan orang yang lebih tua) adalah mereka yang telah membaca buku kehidupan lebih dulu dan lebih banyak. Untuk itu, mereka patut kita hargai. Atas segala keberhasilan yang telah tercapai dalam hidupnya, adalah inspirasi bagi yang muda. Akupun berusaha bernegosiasi dengan diriku sendiri agar menjalani waktu dengan lebih baik.

Apakah kita masih akan terdiam, menangisi luka, dan pergi dari yang sejati? Akankah kita mengecap dan mewarnai hidup ini dengan penuh warna, warna hitam sekalipun? Beranikah kita menjadikan semua tempat adalah tempat ternyaman?

Rabu, 01 April 2015

Kesadaran Diri

Sebagai orang yang sudah lama tidak mengisi tulisan di blognya sendiri, mencari hal yang ingin dikomentari itu sangat sulit. Pada kehidupan sehari-hari, banyak sekali yang dikomentari. Tentang tukang sayur yang tidak memberikan uang kembali, tukang sampah yang tidak kunjung lewat, atau kenapa pemerintah daerah tampak seperti angin lalu begitu saja.

Bercerita dan berbagi itu bukan suatu hal yang mudah. Memilahnya agar pihak yang mungkin tersinggung tanpa sengaja begitu minim. Membuat tulisan ini menjadi bagian dari sadar yang membaca. Mungkin sekarang tidak lagi menjadi pilihan untuk membaca blog curahan hati semacam ini. Entahlah. Dimanapun kamu, saya, atau bahkan kita berada, jarak kita hanya sejauh satu tekan pada layar telepon atau tombol kiri pada tetikus.

Interaksi kita sekarang sederhana, follow atau unfollow, add friend atau unfriend, accept atau  ignore. Kita pun memiliki begitu banyak pilihan komunikasi. Bertemu langsung, berbincang melalui telepon, kirim pesan via teks atau ragam aplikasi yang ada di telepon genggam. Melihat info kontak di Twitter yang dilanjutkan via SMS untuk menanyakan pin BBM, yang ternyata setelah menyimpan nomor telepon kontaknya muncul di whatssapp dan LINE. Karena juga terhubung dengan facebook, ketika masuk instagram muncul beberapa kontak sebagai rekomendasi. Lalu, apa yang menjadi pilihan kita?

Saya sebagai pedagang kue, tidak masalah apapun yang dipilih. Asal hal tersebut memberikan pemasukan yang signifikan. Ya, kan?

Saya rasa, saya pun kelelahan akan segala media sosial yang mendunia ini. Tidak afdol kalau kita juga tidak punya akun Path, yang terpaksa mengunduh Talk Path karena, sebut saja Mawar (nama samaran), berkata, "Gue chat di TalkPath, ya dear". Atas dasar ke-kepo-an saya, sayapun patut mengunduhnya.

Terasa begitu disita perhatian oleh media sosial.

Bukankah memang itu yang kita butuhkan? Seberapa banyak love yang kita dapatkan ketika mengunggah hal. Seberapa panjang perbincangan terhadap hal yang kita unggah. Semua itu karena  kebutuhan manusia: pengakuan.

Ke-aku-an itu yang dulu bahkan membuat saya berpikir keras, bahkan belum bisa menemukan jawaban yang patut hingga sekarang. Siapa aku? Mempertanyakan diri sendiri atas nyatanya keberadaan diri dan apakah benar atas apa yang kita jawab atas pertanyaan itu sendiri. Lalu, temukanlah alasan kenapa diri ini hidup di dunia.

Era sosial media sekarang mungkin mampu merubah itu. "Ini aku.". Ketika foto selfie menjadi keharusan. Menemukan sudut atau sisi terbaik untuk pose berkali-kali membutuhkan keahlian khusus. Ini menjadi cara menemukan jati diri. Menyatakan ada kepada orang lain, kepada dunia. "Kamu love, maka aku ada" atau "Kamu komentar, maka aku ada". Logika sederhana dari "Saya ada karena kamu ada.".

Apapun bentuk interaksi dan sebagainya. Wajar, saja. Bukan berarti saya tidak setuju dengan kegilaan media sosial yang berterbangan di udara tanpa terlihat (perpindahan data dari satu alat ke alat lain yang tidak tersambung kabel, memang tak tampak, kan?). Saya pun menjadi korban. Mungkin korban terlalu kasar. Saya pun menjadi pengguna segala aplikasi tersebut. Dengan sadar bahwa pihak manapun mampu menggunakan segala informasi yang kita unggah atau secara otomatis perangkat telekomunikasi kita mengunggahnya. Entah menguntungkan atau merugikan.

Sadarkah kita atas segala yang kita unggah di dunia maya? Sadarkah kita sudah menelanjangi diri melalui informasi yang begitu terbuka? Hanya melalui satu tekan. Mampukah sadar kita membawa kebermanfaatan yang lebih atas perkembangan teknologi informasi yang pesat ini?


Sadarkah kita, ketika ada kabar pembunuhan di suatu tempat, dan yang kita nyatakan adalah "Ada fotonya?". Seketika itupun etika kita runtuh. Sadarkah?

Rabu, 05 November 2014

Kisah Seorang Ibu

Seseorang pernah berkata, "Berikan waktu dirimu untuk mengingat semua hal yang kamu lakukan dalam satu hari. Semuanya, setiap detilnya.". Kadang, terasa bahwa 24 jam itu membatasi. Kita butuh lebih dari 24 jam untuk menyelesaikan segala hal yang terjadi di hadapan kita.

Menjadi seorang ibu itu sebuah tantangan luar biasa. Tantangan seumur hidup. Karena itu dijalani sepanjang hidup, aku bahkan mungkin lebih setuju jika itu dianggap sebagai sebuah petualangan. Ya. Petualangan yang dijalani oleh satu keluarga.

Petualangan memiliki anak dimulai ketika menginjakkan kaki di rumah sepulang dari rumah sakit bersalin. Ujian pertama yang aku hadapi adalah kembali membiasakan diri dengan kipas angin, bukan AC. Dan ternyata ketika pulang, listrik padam. Badan keringatan dan Banyu menangis, sampai mukanya memerah. Perjuangan. Kipas tangan pun beraksi.


Tiba-tiba cucian menumpuk. Kain bedong, cawat, baju kecil bergambar bebek. Hari-hari seperti kisah mengejar matahari. Kalau telat mencuci, matahari keburu tergelincir. Kalau telat menjemur, mataharinya keburu nyumput. Kalau telat kering, nanti Banyu ga bisa ganti popok. Dan melelahkan. Di antara menyusui dan berurusan dengan cucian, masih pula harus menahan rasa sakit jahitan operasi. Jangan lupa yang penting: makan yang cukup dan segelas teh manis. Akhirnya, suamiku yang baik hati itu tidak ingin istrinya jatuh sakit. Dia membelikan mesin cuci baru, satu tabung. Tinggal pencet. Done!

Kepanikan datang ketika suamiku sedang pergi dan Banyu tidak bisa tidur nyenyak. Sungguh membuat frustasi. Sampai menangis. Banyu hanya tertidur di pelukan, jika diletakkan di kasur, langsung terbangun, Akhirnya aku menelpon temanku yang juga seorang bidan. Kalimat pertamanya, "Lo nangis ya?". Ternyata si Banyu mungkin masuk angin, Ada sesuatu yang salah dengan perutnya. Temanku menyarankan memijat gerakan I-L-U (I Love You) di perut. Pernah juga sahabatku yang lain memberitahu untuk memijat bayi seperti yang dijabarkan di lembaran kertas di dalam kotak set perlengkapan mandi bayi Johnson and Johnson. Sejak itu, aku memijat Banyu sebelum mandi. Sampai pada waktu dia terlalu lincah untuk dipijat dengan tenang.

Aku percaya hidup itu pilihan. Tergantung seberapa bijak kita memilih dari sekian banyak pilihan itu. Menjadi orang tua, membuat pilihan itu bukan tunggal. Pilihan kita juga memberi dampak kepada pasangan, anak, dan mungkin keluarga besar.

Layaknya seorang ibu memilih untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan atau tidak. Itu pilihan. Aku ingin sekali mengalami IMD (Inisiasi Menyusu Dini), sayangnya pilihan itu tidak bisa dilaksanakan karena masih ada luka operasi. Untungnya, air susuku baik-baik saja. Mendengarkan cerita teman yang sudah memiliki anak, tentang badan yang menjadi panas tinggi karena air susunya tersumbat dan payudara bengkak, memberikan tindakan preventif sehingga rajin menstimulasi payudara untuk memproduksi air susu dan membersihkan puting.

Memang memberi keuntungan jika senang mendengarkan. Banyak orang punya kisah, banyak orang punya pengalaman. Mamaku setidaknya berhasil mengurus empat orang anak. Belum lagi cerita dari saudara kandung dan saudara terdekat, melihat bagaimana mengurus anaknya. Semua bisa belajar dari itu.

Memiliki teman yang juga melahirkan di tahun yang sama atau waktu yang berdekatan menjadi referensi tumbuh kembang. Banyu sebagai anak ibu yang super jagoan itu, tidak seperti teman-temannya yang beraktivitas lebih banyak. Mungkin dia lebih seperti ibunya, menikmati tiap waktu, menyesapi detik yang berjalan. Bahagia ketika dia bisa bolak-balik sendiri, seperti ayam yang mau digoreng tepung crispy. Nanti juga semua bayi belajar dan bisa, begitu kata mamaku. Asalkan dia sehat selalu dan dokter tidak memberikan instruksi tambahan, aku rasa semua baik-baik saja.

Detik-detik menegangkan kemudian datang ketika saatnya makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI). Memilih makanan pertama, memikirkan responnya terhadap makanan, seberapa porsi yang patut diberikan, memakai peralatan makanan apa, atau apapun itu yang sepertinya sepele dan tidak penting namun dipikirkan tanpa alasan.

Aku pilih pisang. Aku membeli 1 pak sendok silikon berisi 5 (atau 6, entah) dan 1 sendok yang tampak lebih lengkung pegangannya. Aku membongkar kado dari sepupuku dan mengambil kotak makan. Aku mengeluarkan kursi pemberian teman kami. Kakakku memberikanku slabber, dan aku menggunting kain bedong yang sudah butut.

Awalnya pisang kucampur air tapi Banyu tidak begitu tertarik. Hari kedua aku campur ASI, dia lumayan suka. Berikutnya aku berikan puree pisang saja. Lalu ternyata Banyu suka semangka dan kemudian jeruk. Sampai pada waktunya, mungkin Banyu butuh variasi, bukan cuma rasa tapi juga nutrisi untuk tubuh.

Buku tentang MPASI menyatakan kalau gula, garam, dan madu diberikan kepada bayi di atas usia 12 bulan. Aku dan suami juga bertanya kepada dokter anak. Setelah aku merebus daging dan merasakan kaldunya, memang ada rasa gurih. Tadinya, hewani boleh diberikan kepada bayi berusia di atas 8 bulan, namun sekarang WHO (World Health Organisation) menganjurkan untuk memberikan di usia 6 bulan. Itupun aku tahu karena banyak ibu muda (yang juga temanku) memberi komentar di status media sosialku. Mengonsumsi hewani penting karena kandungan Fe (zat besi) membantu tubuh untuk menyerap nutrisi. Aku mungkin salah, silakan dicari tahu saja. Ketika Banyu diare, dokter anak juga memberika Zinc yang ternyata untuk membantu perbaikan sel, bahasa mudahnya temanku, "Menambal yang bocor-bocor supaya nutrisi terserap makin oke.".

Ke,mudian, aku mengobrol dengan sepupuku, dia cerita banyak tentang BLW, Baby Led Weaning. Di usia Banyu ke-7 bulan lebih sedikit, aku coba untuk Banyu makan sendiri. Ternyata memang bisa. Makanan dibuat finger food. Kalau keras boleh direbus atau dikukus supaya lembut. Sempat pula Banyu menjadi penggemar mentimun dan labu siam.

Banyu belum merangkak, mulai merayap. Kalau dia mulai merangkak terbayang heboh. Slow but sure. Yang penting senang. Apapun yang terjadi, asalkan Banyu sehat. Semoga nanti dia menjadi anak yang cerdas dan memberi manfaat bagi kehidupan.

Rabu, 02 Juli 2014

Rekam Jejak Politik Indonesia

Baru kali ini banyak orang yang aku kenal dan bahkan masyarakat Indonesia yang melek media massa ambil bagian dalam penyeruan (baca: pembuat seru) proses pemilihan umum. Padahal beberapa sebelumnya, Indonesia juga menyelenggarakan pemilihan umum legislatif dan bersamaan dengan itu, Lampung memilih Gubernurnya yang saat ini telah dilantik. Bagiku, ini suatu momentum yang luar biasa. Perbincangan yang tiada henti (sampai nanti selesai penghitungan suara). Selalu pula diiringi oleh jantung yang berdetak kencang.

Calon Presiden (capres) dan Calon Wakil Presiden (cawapres) Indonesia ada dua pasang. Yang satu mendapatkan nomor urut 1 (satu), yang lainnya mendapatkan nomor urut 2 (dua). Perkara mudah. Kalau memang suka yang salah satu, yang lain itu tidak usah dilirik lagi. Kalau tidak suka salah satu, pilihlah yang satu lagi. Kenapa ini bisa menjadi perdebatan yang begitu panjang tanpa berkesudahan, sampai-sampai kita seperti sang kandidat presiden itu sendiri?

Referensi termudah bagi pemilih adalah pilihlah yang terdekat dari lubuk hati nurani. Bahasa susahnya, pilihlah yang paling mirip dengan diri kita. Mirip bagaimana? Ambillah salah satu aspek yang paling kita ketahui, dan tentukan kandidat mana yang lebih mendekati kriteria tersebut. Sekedar becanda, aku menanyakan temanku siapa yang akan dia pilih nanti. Komentarku kemudian, "Ya wajar lo pilih dia kan secara fisik dia memiliki persamaan dengan suamimu". Bagi yang memiliki pasangan, coba dilihat sebelah kiri atau kanan, apakah pasangan Anda pipi tirus atau agak berpipi tembem nan lucu. Sederhana. 

Dikarenakan kehidupan kita yang sudah sedemikian kompleks, di antara kita tidak akan puas dengan saran pipi tirus atau pipi tembem*. Kita membutuhkan alasan untuk hidup. Alasan yang dapat kita pertanggungjawabkan selama lima tahun kedepan. Ini yang kemudian membuatku kagum dengan bangsa Indonesia. Individu Indonesia bisa banyak belajar dari proses demokrasi kali ini. Sejatinya, Indonesia mulai membentuk kesadaran politiknya secara nyata. Mengenal sosok capres dan cawapres bukan sekedar nama. Beberapa diantara kita memerlukan rekam jejaknya. Lalu memilah fakta yang ditemukan. Diantara sekian banyak fakta tersebut memunculkan nilai lebih salah satu pasangan, barulah kita ketok palu

Pesta demokrasi adalah istilah yang tepat untuk mewakili keadaan saat ini. Seperti layaknya pesta, penuh hiruk pikuk, keriaan diantara keriaan, dan adrenalin yang meningkat. Memiliki kebanggaan sendiri membela atas nama kandidat yang kita dukung dan menyatakan dukungan dengan lebih terbuka. Tidak jarang perselisihan antara individu atau antara kelompok terjadi. 

Perdebatan ditambah dengan pemahaman atas perbedaan pendapat dan menghargai pendapat orang lain yang berbeda-beda memicu friksi (gesekan). Kadang dengan orang sebaya, bisa juga dengan orang yang lebih tua. Tidak susah untuk memahami dan meredam friksi dengan teman sendiri. Kesamaan waktu tumbuh kembang, membuat kita memiliki referensi sama untuk bergaul. Woles aja, selesai sudah. Kalau yang kita aja berbagi pendapat dengan orang tua, hal ini mungkin membutuhkan keahlian lebih. Orang yang lebih tua tersebut patut dihargai pengalamannya dan pendapatnya. Mempelajari makna dan pesan dari balik pendapat mereka bisa membuat kita lebih bijak. Cara mereka mendapatkan informasi itu berbeda dengan kita yang jauh lebih muda. Perjalanan waktu juga telah membuat mereka lebih kaya akan pengalaman, begitu pula keberadaan mereka sebagai saksi negara ini tumbuh. Beberapa kali orang tuaku menceritakan tentang bedanya ruang gerak dulu dan sekarang. Dulu, menyuarakan pendapat itu terlalu gamblang. Sekarang, rasanya seperti kalau kita tidak bersuara, itu terlalu aneh.

Aku dan mamaku hampir setiap hari memperbincangkan apa yang ditemukan di laman facebook. Entah itu komentar si A, atau si F ternyata memilih entah siapa. Kebanyakan cerita mamaku lebih seru karena teman-teman dia kantornya juga bertukar pendapat dan ketika kembali ke rumah, dia menceritakan kembali dengan penuh bumbu. Sesungguhnya, pemilu kali ini memang memberikan euforia luar biasa di tiap lapisan masyarakat. Semoga.

Kalau ada yang masih bingung apa yang terjadi pada gambar orang bernomor, tanya orang tuamu atau orang yang lebih tua. Baru setelah itu tanya teman terdekatmu. Dari dongeng yang telah terkumpul, tentukanlah pilihan. Tidak harus sama dengan orang tuamu atau teman terdekat. Namun, dengan begitu kamu akan tahu bagaimana cara terbaik untuk memiliki perbedaan dalam keberagaman. Saling menghargai. 

Indonesia adalah negara yang luar biasa. Sudah pernah menaiki gajah di tengah hutan, melihat bunga bangkai ketika mekar, menikmati pemandangan bawah laut, dan tidur di bawah kanopi pohon dengan hiasan kupu-kupu beterbangan. Aku bertemu banyak teman yang menyenangkan dan memiliki kepintaran dalam keahliannya. Memiliki keluarga besar yang begitu memberi inspirasi.

Sebagai warga negara Indonesia, tiap individunya memiliki hak dan kewajiban. Mungkin kita tidak butuh presiden. Mungkin. Indonesia hanya membutuhkan rakyatnya yang haus akan prestasi. Rakyatnya yang terus menerus memberi solusi pada keadaan yang sulit. Ini jamannya orang berkarya, bukan duduk diam.

Merah Putih akan terus berkibar, Indonesia Raya akan terus berkumandang. Lakukan untuk dirimu dan untuk Indonesia.



*Mengingatkanku pada komik Donal Bebek. Keluar konteks tapi lucu.

Kamis, 24 April 2014

Banyu Nararya Darmanto



Adalah anakku yang lahir pada Minggu, 2 Maret 2014 pukul 23.00 WIB. Dia keluar dari perutku dengan sempurna, atas izin-Nya. Ketika itu, bahkan sampai sekarang, bagaikan mimpi. Nyata terasa namun penuh pertanyaan, "Apakah ini benar nyata?". Banyu adalah nyata. Kenyataan atas perjalanan waktu 9 bulan yang menjadikan suatu perwujudan dari kebesaran Allah SWT. Dulu dia berada di dalam perutku, kami masih menjadi satu individu yang bersatu. Sekarang, kami merupakan dua individu yang saling bergantung. Salah satu alasannya adalah dia menjadi motivasiku untuk bangun lebih pagi.

Banyak orang bilang kalau kita akan diberikan rejeki ketika kita memang layak menerimanya. Apakah sebelumnya aku merasa siap menjadi orang tua seorang bayi yang lucu yang akan terus tumbuh menjadi pribadi yang bercahaya? Tidak. Aku tahu, kita tahu, bahwa aku akan terus berusaha menjadi orang tua yang terbaik. Kita semua manusia tidak luput dari kesalahan. Pilihannya, apakah kita akan membiarkan diri tenggelam dalam kesalahan atau terus melakukan perbaikan. Tentu saja, kita harus menjadi pejuang, terus berusaha, tanpa henti. Menyadarkan kita bahwa orang tua kita memiliki kesabaran luar biasa membesarkan kita, bahkan ketika terkadang kita bersikap buruk tapi mereka selalu memaafkan lebih dulu. Terima kasih papa mama, terima kasih para orang tua di dunia.

Orang tua itu memanglah pasti lebih pintar dari anaknya. Apapun kondisinya. Kalau mereka tidak pintar, mana mungkin kita bisa berinteraksi melalui tulisan ini sekarang. Sebagai contoh, nenekku yang tidak pernah duduk di bangku kuliah memiliki 14 anak dengan berbagai macam latar belakang dan prestasi, ada yang dokter spesialis, doktor, mantan asisten menteri, dan lainnya. Aku, setidaknya 29 tahun lebih dulu lahir dari anakku. Pengalaman hidupku 29 tahun lebih banyak, walau mungkin hanya sebagian besar pengalaman yang terekam memori.

Sebelum melahirkan, aku dan suamiku memilih rumah sakit khusus bersalin. Alasan utama karena memang khusus bersalin, tidak dirawat bersama yang memiliki penyakit. Aman untuk yang rawat inap juga yang berkunjung. Selain itu, kakak-kakakku pernah bersalin di rumah sakit itu, pengalaman orang terdekat biasa menjadi referensi utama. Dan aku bersyukur memilihnya. Di Rumah Sakit khusus Bersalin Anugrah Medika aku diajarkan banyak hal. sekitar 3 hari berada di sana, pengetahuanku bertambah. Pertama, cara memakai gurita yang tepat sehingga mengurangi rasa sakit ketika berjalan setelah operasi. Kedua, cara menyusui ; semakin dalam semakin bagus, semakin sering semakin banyak*. Ketiga, membedong. Keempat, memijat payudara sehingga ASI terstimulasi produksinya. Kelima, informasi tentang frekuensi pipis atau pup anak yang minum ASI. Semua itu sangat bermanfaat. Sayangnya kemarin mereka belum bisa mengajarkan cara memandikan anak karena sedang renovasi bangunan.

Karena aku menjalani operasi, aktivitas setelah melahirkan sangat terbatas. Sampai 24 jam aku harus berdiam di atas kasur. Membiarkan diri menjadi sangat tergantung pada orang lain, khususnya suamiku. Begitu terharu ketika melihat dia menyuapi istrinya, memberikan minuman berkali-kali supaya ASI semakin lancar, menguatkan dirinya untuk menggendong anaknya pertama kali, mengatasi paniknya ketika dia belum bisa mengganti popok. I love him and I know he would do anything for us. Bersyukur memiliki suami yang super baik hati.

Banyu sudah memiliki gelar adatnya, Radin Umpu Migo artinya (kurang lebih) Raden Asal-Usul Marganya. Diartikan dengan keterbatasan kemampuan bahasa Lampung. Sederhananya, Migo diambil dari nama adat datuknya, Ratu Migo. Zodiaknya Pisces, sama pula dengan datuknya (juga dengan 2 sepupunya). Jidatnya perpaduan jidat Darmanto dan Djausal bersatu padu dalam kebebasan berpikir (hihihi). Semoga Banyu menjadi pribadi yang bermanfaat bagi kehidupan.

Sebagai akhir tulisan ini, aku senang bisa menulis kembali, kembali berkarya di sini. Sungguh ingin berbagi pengalaman karena masa-masa pertama menjadi orang tua begitu mendebarkan. Love you, Banyu :*



* Aku agak ragu tentang slogannya tapi kurang lebih seperti itu bunyinya.