Selasa, 20 Juni 2017

Sejati Manusia

Hidup itu kita yang punya. Kita yang tentukan. Hal-hal yang ada dan terjadi karena peran manusia sendiri. Percaya atau tidak.

Sampai pada waktunya (dulu) sayapun mempertanyakan, setiap kali (rasanya) saya diberikan cobaan, adakah benar Tuhan memberikanku cobaan seperti ini? Saatnya kita memaknai hidup manusia. Salah satu yang saya percaya (Anda tidak perlu), bahwa Allah memberikan umat-Nya petunjuk. Bukan saja yang Dia telah sampaikan tapi semesta terkadang menunjukkan kebenaran ada-Nya.

Apa yang terjadi pada diriku (sampai) saat ini pun kusadari (sebagian besar) karena hendakku dan sadarku. Puaskah? Jika memang ini adalah batas mampuku sebagai manusia. Kepuasan tidak lagi perlu ditanyakan. Sejati sudah.

Terasa beberapa langkah dalam hidup begitu berat. Bahkan, kuasa terbesar dalam diri hanya ingin terdiam. Diam sesaat. Bukan untuk menikmati waktu yang ada, namun hanya menatap kekosongan. Kehampaan.

Jika hidup kita usai, menyesalkah kita?

Maka, walau berat, kaki harus tetap melangkah. Saya memilih untuk melangkah ke depan. Terlalu lelah untuk melihat ke belakang.

Jalan ini masih perlu ditentukan; lurus, belok kanan atau belok kiri.

Lakukanlah hal-hal yang lebih menyenangkan untuk menikmati hidup. Berkelok itu biasa. Lurus saja bahkan terlalu biasa. Pembeda utama berada pada pemandangan di kanan dan kiri jalan, juga daya tarik penghenti waktu. Demi kehidupan yang lebih menyenangkan.