Kamis, 22 Oktober 2009

Percaya yang Mana?

Malam tadi salah satu teman berkata,
"Lo percaya ga sama tarot? Gue ga percaya."
Memang, kalau kita mau bijak berkata, "Percaya itu sama Tuhan."
Daripada tampak terlalu menjadi orang penghindar kenyataan, saya lebih memilih untuk berkata, "Gue sih lebih percaya kalau Tuhan memberi petunjuk bagi umatNya melalui cara-cara tersendiri sehingga umatNya memiliki gambaran atas kehidupan yang akan mereka jalani."

"Gini deh. Kalau lo diramalkan nanti bakal jadi kaya raya dalam kurun waktu lima tahun, trus lo santai saja menjalani hidup lo. Berarti lo percaya sama ramalan itu dong?", pertanyaan dilontarkan lagi. Entah karena ingin berdiskusi atau dia juga dalam proses menemukan jawaban itu.

Lalu, kenyataannya adalah lima tahun lagi lo tidak kaya. Trus, lo tanya lagi dengan orang yang meramal lo,
'Kok gue ga kaya seperti yang lo ramal sih?'.
Dan si peramal bilang, 'Lah, yang bego sapa? udah gue bilang lo bakal kaya. kenapa lo ga terus berusaha?" Hihihi. Peramal memang menggunakan bahasa pergaulan karena mereka berteman.

Gara-garanya, teman saya berkomentar lagi, "Jadi itu nunjukkin kalau lo ga bisa percaya sama ramalan dong?"
Menurut saya sih, bisa saja dianggap seperti itu, "Seperti yang udah pernah gue bilang, itu salah satu cara Tuhan menunjukkan kemungkinan jalan yang akan dihadapi oleh umatNya. Tetap saja, yang nyata terjadi adalah ketika si aksi/tindakan tersebut dilakukan/terjadi."

Kalau dipikir-pikir, sepertinya kita harus melihat arti kata ramalan sendiri. Baru saja terlintas di pikiran bahwa perencanaan kita dalam hidup itu dapat saja dianggap ramalan. Mungkin ini lebih karena saya menganggap bahwa jika mengenai waktu di depan (alias masa depan) adalah kemungkinan. Kepastian hanya terjadi pada waktunya terjadi. Jika telah lampau maka itu menjadi sejarah. Ya. Kemungkinan.

Ramalan atau perencanaan atas sesuatu bisa saja menunjukkan bahwa adanya alternatif jalan untuk kita ambil. Kenapa kita harus takut atas itu? Hal yang utama adalah Keyakinan kita akan adanya Tuhan Yang Maha Esa, ya kan? Negara Indonesia juga meyakini itu. Sama halnya jika kita berjanji atau yang senapas dengan janji, dianjurkan untuk kita -umat Islam- menjawabnya dengan, "Insya Allah." Hal tersebut menunjukkan bahwa kita mempercayai bahwa setiap hal yang terjadi itu atas kehendakNya, dengan konsekuensi dan tanggung jawab tetap berada di tangan manusia.

Pada akhirnya, menurut saya, diperlukan kebijakan dari tiap individu untuk melihat fenomena atau reaksi masyarakat akan sesuatu yang tidak pasti di masa yang belum terjadi. Kalau cukup bijak dalam menentukan suatu sikap/tindakan dalam kondisi tertentu, semoga saja manusia tersebut mendapatkan anugrah dan cobaan untuk memperkaya hidupnya. Apakah ingin percaya pada mimpi, ramalan, garis tangan, atau ampas kopi? HADAPI KENYATAAN.

Fiuh! Merasa aneh, berputar, dan terbingung sendiri.

Rabu, 14 Oktober 2009

Hati-Hati di Jalan

Jika ingin pergi, pergilah. Jangan biarkan diri ini menahanmu.
Sesungguhnya, kuasa hanyalah milikNya.


Ketika kau tanyakan keraguan, yang dapat kujawab sepenuhnya hanyalah keraguan itu.

Entah apa yang terjadi jika yang kau tanyakan adalah harapan. Mungkin aku juga akan berkata tentang pengharapan atas hidup atau keraguan yang tersembunyi itu akan muncul ke permukaan.

"Dapatkah kau beri kepastian untukku?", begitu ujarmu.
"Tidak", dan bagiku kepastian akan tiba pada waktunya yang tepat. Sebelum itu terjadi, hanyalah kemungkinan.

Haruskah aku berkata,
Sabar ya. Berikan waktu aku berpikir.
atau
Pasti.
Jawaban mana yang kau pilih?

Aku adalah manusia penuh kurang. Menjadi wajar jika dirimu tidak pernah puas. Akupun begitu, tak pernah puas atas apa yang ada pada dirimu. Bahkan, aku tak pernah tahu apakah keberadaanku di dunia ini sesungguhnya memberi arti bagi kehidupan orang lain. Mohon maaf darimu jika kesulitan yang didapat ketika dirimu berinteraksi denganku. Pernahkah hadirku ini memberi arti?

Apakah aku akan menghentikan langkahmu yang begitu pasti ingin pergi dari tempat kita berdiri? Tidak. Pergilah, demi kebaikan. Bagaikan merenda, dia bisa saja menjadi satu taplak meja makan untuk 8 orang atau hanya cukup untuk menjadi tatakan gelas. tinggal pilih proses mana yang ingin dijalani. Kalau untuk menyelesaikan satu tatakan gelaspun tidak terampungkan, jangan harap dapat menyusun rangkaian taplak meja. Maka, teruslah melangkah. Jangan pernah berhenti, jangan pernah berpaling ke belakang. Buat hidupmu menjadi rangkaian benang yang tak pernah putus.

Pada titik tertentu,hidup pernah terasa begitu menyeramkan dan mungkin akan terjadi lagi. Harapanku yang tidak pernah ingin dipadamkan sampai kapanpun, hanya satu, kehidupan yang lebih baik. Bukan hanya untukku, juga untukmu, kalian semua, dan mereka. Dengan begitu, kebahagiaan akan terasa kehadirannya. Masih sering terlihat pelangi setelah hujan lebat, kan?

Aku akan tidur ketika kau pergi agar semua dapat terlepas oleh dongeng mimpi yang indah. Bayanganmu akan lekang di alam mimpiku.

Hati-hati di jalan.

Minggu, 11 Oktober 2009

Umang-Umang Penuh Warna



Rekamannya mungkin terlalu pendek untuk bisa diperhatikan apa yang terjadi di dalam box tersebut. Box itu berisikan umang-umang yang rumahnya telah diwarnai dengan sedemikian kreatif. Rajin banget ya? Tangan mereka waktu mewarnai itu digigitin ga ya?

Sempetin jalan-jalan di Pasar Minggu Gasibu.

Tonijack Indonesia!

Semalam, kunikmati waktu dengan sendiri. Alasan utamanya adalah bosan dengan diri sendiri yang sepanjang siang berada di rumah.

Tindakan awal untuk penyelamatan perut adalah mengisinya dengan karbohidrat berwujud nasi, pastinya. Dasar Indonesia. Beberapa hari yang lalu membaca pemberitaan tentang gugatan Pak Bambang N Rachmadi terhadap McDonald's Inc. (atau international yah?). Hal tersebut kemudian yang berakibat berubahnya bendera alias merek makanan cepat saji di 13 gerai di Indonesia. Tonijack's, dengan slogan, better than that one. Temanku ada yang komentar, slogannya sangat menyindir. Ketika ingin memesan, sedikit bingung karena menunya berbeda dengan yang sudah familiar bagi kita. Ada satu menu yang tampak menggugah selera, Blackpepper Burger. Bisa saja itu super duper biasa saja makanannya tapi ketika itu superb menggoda. Namun, berhubung ini urusan perut - bukan hanya lidah-, aku memilih untuk menu bernasi.

Benar-benar luar biasa! Ini namanya buru-buru banget deh! Seperti suatu buku pernah bilang, urgency only arrive when you do. Kertas buat nampan hanyalah kertas putih kosong. Kertas bungkus nasi hanya cukup di cap saja, tulisan merek makanan cepat saji itupun tersamar. Gelas minuman plastik see through, bukan gelas styrofoam berlabel merek seperti umumnya.

Ditambah lagi, pembagian gelang gratis bagi anak-anak. Dengan menunjukkan gelang tersebut, si anak bisa memperoleh ice cream cone (ada pilihan lain sepertinya. tapi saya lupa). Untuk pengguna provider CDMA Esia, cukup menunjukkan layar hp, maka akan mendapatkan sesuatu (juga lupa). Promo yang lumayan.

Dosen pemasaranku pernah bilang terkadang beberapa bisnis dijalankan bukan untuk menguasai pasar secara langsung. Namun, untuk mengambil market share secara perlahan namun pasti. Seperti kita memakan satu potong kue tart, akan lebih baik jika kita memakannya sedikit demi sedikit.

Petualangan dilanjutkan dengan menikmati waktu di Starbuck Coffe. Hmm... Kalau dipikir-pikir, kok seperti menjadi korban penjajahan modern bangsa Amerika ya? Bukannya memilih warung kopi pinggir jalan atau memilih merek yang berada di bawah bendera merah putih. Bodoh. Sesekali. Kenapa tidak?


Rabu, 07 Oktober 2009

Go Ahead with Aqua

Pada hari beberapa kali menonton iklan produk air mineral dan rokok. Saya komentari yang menyenangkan dulu. Iklan rokok yang menunjukkan hidup bagai hitam dan putih. Rutinitas kehidupan adalah suatu hal yang bisa menjadi sangat membosankan. Bagaikan robot yanhg bergerak secara terprogram. Monoton. Penutupnya yang membuatnya menjadi seru, baik perempuan maupun laki-laki, menggerakkan keinginannya untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Tanpa merasa terbebani.

Iklan air mineral nih, kenapa membingungkan, ya? Ini iklan air mineral atau iklan kesehatan. Diakui memang, bisa saja dari pihak marketing dan atau advertising membangun imej terhadap produk tersebut agar berkaitan dengan kesehatan. Ibu hamil dan minum air mineral? Siapapun di dunia ini jika tidak meminum air, bisa terkena penyakit. Kalau seseorang itu selalu minum soda, dia mungkin terserang diabetes dan pengeroposan tulang. Atau kita harus menggiring ini dengan konsep the power of water. Terserahlah. Bisa juga karena orang tua kita sering berpesan, kalau sakit, banyakin minumnya.

Kurang lebih seperti itu.