Senin, 27 Februari 2012

Peluk Hangat untuk Sahabat

Rabu malam lalu (22/02/2011), sahabat terbaikku mengirim pesan. Menyapaku dan simbol menangis. Hanya itu. Aku tahu dia bersedih, namun aku belum mengetahui alasannya.

Kalau memang dia bisa berkata, dia akan melanjutkan perkataannya. Sinyal buruk, pengiriman pesan tertunda. Aku menelponnya. Dia menangis. Seketika aku terdiam dan kehilangan kata. Apa yang terjadi?


Akupun mulai menangis. Aku tidak mampu melakukan hal lain. Apa yang membuatnya sedih, membuatku sedih juga. Andaikan aku dapat berada di dekatnya agar dia lebih kuat dan tegar menghadapinya.

Akan kudoakan yang terbaik. Selalu yang terbaik. Ingatlah untuk selalu kuat, untuk dirimu dan semua yang menyayangimu. Aku siap sedia kapanpun kau membutuhkanku.


Selasa, 14 Februari 2012

Semangatku Meredup

Hanya perlu satu bulan lebih beberapa hari, membuat seseorang menarik kata-katanya dan menjadikan itu semua sebuah perpisahan. Berakhir sudah. Kalau kita berjodoh? Sudahlah, yang benar saja, semua itu harus diperjuangkan. Hubungan dua manusia adalah perjuangan. Sekarang sudah terhenti, ya, berhenti, saja.

Hanya kehilangan orang terdekat yang (dulu) mungkin aku harapkan sebagai pelengkap kebahagiaan. Bertahun-tahun sudah kumengenalnya. Mengetahui apa yang mungkin terjadi, dan ini adalah salah satu di antaranya. Dia memperkecil dan meniadakan yang aku harapkan.

Patah semangatku. Ingin menangis saja. Ingin menghentikan semua rancangan aktivitas di depan mata untuk membenarkan kesedihan yang kurasa. Namun, itu adalah kebodohan jika benar dilakukan. Rasanya, ingin kudiamkan saja. Tiada perlu aku ungkapkan ke dalam tulisan yang dapat dibaca oleh siapapun. Entahlah. Mengungkapkan sesuatu di ruang publik membuat aku harus secara penuh sadar akan apa yang mungkin dipikirkan oleh pembaca. Dan membantuku berpikir, apakah yang sesungguhnya ingin kurasa.

Adakah selama ini dia benar temanku? Mungkinkah dia pribadi manusia yang menghargai manusia lainnya? Mungkin iya, mungkin tidak. Dia membenarkan adanya, bukan adaku. Kalau dia teman yang sudah bertahun lamanya, patutnya dia tahu waktuku yang tidak bisa diganggu oleh pikiran lain. Seperti hari ini. Ketika seharusnya aku berada di dapur, aku memilih di depan komputer.

Dia harus melakukan apa yang dia pikir harus lakukan. Begitupun aku. Tidak lama setelah ini, aku harus beraktivitas.Semua indah pada waktunya, (mungkin) kesedihan memiliki keindahan yang tiada kentara.

Rabu, 08 Februari 2012

Hanya Seorang Perempuan

Beberapa waktu ini, kadang aku sedih menonton film drama romantis. Bukan hanya karena itu adalah film drama, lebih karena romantisme menyiksaku. Hal-hal bodoh yang terjadi ketika seseorang jatuh cinta. Mungkin aku merindukan hal itu.

Dulu, aku pernah tersenyum lebar seharian jika mendapatkan pesan singkat. Atau sekedar berbincang pendek ketika berpapasan. Sesuatu menggelitik ketika seorang pria secara konstan menghubungi. Satu dua nama sering tersebut di dalam cerita bersama teman-teman terdekat. Selalu berharap setiap hari mendapatkan senyum bahagia.

Itu dulu. Sekarang? Aku seperti patah hati. Intensitas komunikasi tidak lagi bisa menjadi patokan ketertarikan secara romantis. Mendapatkan kejutan atau sesuatu yang membuat diri ini tersenyum, tampak sulit. Apakah aku sudah meninggalkan kemanusiaan? Atau ini sekedar respon terhadap yang sosial (masyarakat) inginkan?

Banyak temanku sudah menikah, memiliki anak, bahkan dua malaikat kecil yang begitu menggemaskan. Apakah aku terdorong oleh desakan yang tidak pernah membuat desakan buatku? Selalu membuatku bertanya-tanya, kenapa aku harus berbeda? Apakah aku melakukan sesuatu yang buruk? Aku memang buruk. Atau untuk mendapatkan percikan romantisme dalam hidup memang butuh perjuangan?

Bolehkah aku tahu perjuangan apa yang dibutuhkan? Pernah mencoba mengatakan kepada seseorang kalau aku menyukainya tapi itupun tidak membuat senyum melekat dalam waktu lama. Sekali dua mengatakan apa yang aku inginkan. Itu hanya aku. Bukan keinginan bersama.

Mungkin masalahnya adalah aku. Aku yang menginginkan hal dari orang lain. Mungkin aku harus berhenti berharap. Namun, ketika harapan mati, dunia runtuh.

Doakan saja aku bertemu priaku. Aku hanya ingin mendapatkan tambahan senyuman, tetap saja, aku hanya seorang perempuan.

Jumat, 03 Februari 2012

(Tak Berjudul)

Baru saja melihat video klip Maliq D'essential - Coba Katakan. Itu semacam membuat hati terasa tertohok. Mungkin benar. Temanku tadi siang men-tweet, "Orang yang ga move on itu orang yang masih membiarkan tampilan lama di facebook". Itu yang terjadi pada halaman facebook-ku.

...
Aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti
Lebih baik kita menangis dan terluka hari ini
...

Kalau memang ada seseorang yang bisa aku tanyakan agar ia mau mengatakan, aku mungkin akan lebih tenang. Apakah aku benar menunggu? Atau aku hanya berdiam diri hingga seseorang mengetuk? Atau ternyata hatiku telah membeku.

Aku memiliki kecemburuan kepada orang yang memiliki pasangan dan selalu memiliki alasan untuk lebih bahagia setiap harinya demi orang lain. Entah kenapa. Harusnya hal seperti ini tidak mengurangi nilai kita sebagai manusia individu, tidak juga menambah. Kenapa harus berpikir untuk memiliki pasangan? Bagiku, itu menyeimbangkan diriku yang penuh ketidakteraturan. Maka, jika aku memilih untuk menghadapi masalah yang aku miliki, aku akan menyeimbangkan diriku sendiri. Jika diriku telah seimbang sendiri, aku tidak memerlukan orang lain. Hal itu kembali ke dalam kondisi hati membeku.

Sekuat itukah diriku? Rasanya tidak. Aku masih memilih untuk memiliki pasangan. Aku ingin merasakan romansa. Ingin bersama seseorang yang entah bagaimana caranya membuat diri bisa melakukan yang lebih dari biasanya.

Dengan menulis tulisan ini, seakan-akan membenarkan keputusasaanku akan romansa. Bisa saja. Tapi aku tidak pernah mau putus asa. Ini pun seperti pengumuman besar-besaran. Akupun bingung. Entah apa mauku.

Mungkin aku hanya seperti perempuan pada umumnya, ingin diinginkan.

Biarkan aku terluka dan menangis jika itu membuatku terus melangkah demi masa depan.