Rabu, 08 Februari 2012

Hanya Seorang Perempuan

Beberapa waktu ini, kadang aku sedih menonton film drama romantis. Bukan hanya karena itu adalah film drama, lebih karena romantisme menyiksaku. Hal-hal bodoh yang terjadi ketika seseorang jatuh cinta. Mungkin aku merindukan hal itu.

Dulu, aku pernah tersenyum lebar seharian jika mendapatkan pesan singkat. Atau sekedar berbincang pendek ketika berpapasan. Sesuatu menggelitik ketika seorang pria secara konstan menghubungi. Satu dua nama sering tersebut di dalam cerita bersama teman-teman terdekat. Selalu berharap setiap hari mendapatkan senyum bahagia.

Itu dulu. Sekarang? Aku seperti patah hati. Intensitas komunikasi tidak lagi bisa menjadi patokan ketertarikan secara romantis. Mendapatkan kejutan atau sesuatu yang membuat diri ini tersenyum, tampak sulit. Apakah aku sudah meninggalkan kemanusiaan? Atau ini sekedar respon terhadap yang sosial (masyarakat) inginkan?

Banyak temanku sudah menikah, memiliki anak, bahkan dua malaikat kecil yang begitu menggemaskan. Apakah aku terdorong oleh desakan yang tidak pernah membuat desakan buatku? Selalu membuatku bertanya-tanya, kenapa aku harus berbeda? Apakah aku melakukan sesuatu yang buruk? Aku memang buruk. Atau untuk mendapatkan percikan romantisme dalam hidup memang butuh perjuangan?

Bolehkah aku tahu perjuangan apa yang dibutuhkan? Pernah mencoba mengatakan kepada seseorang kalau aku menyukainya tapi itupun tidak membuat senyum melekat dalam waktu lama. Sekali dua mengatakan apa yang aku inginkan. Itu hanya aku. Bukan keinginan bersama.

Mungkin masalahnya adalah aku. Aku yang menginginkan hal dari orang lain. Mungkin aku harus berhenti berharap. Namun, ketika harapan mati, dunia runtuh.

Doakan saja aku bertemu priaku. Aku hanya ingin mendapatkan tambahan senyuman, tetap saja, aku hanya seorang perempuan.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Batin.. selalu mendoakan yang terbaik untukmu, kapanpun n dg siapapun *hugs! menurutku, seseorang yang bs 'menaklukkanmu itu sdh cukup :)