Senin, 30 Januari 2012

Hidup Luar Biasa

Beberapa buku atau literatur, dan mungkin orang juga teman-teman, berpendapat judul itu harus menarik perhatian. Saya pun memilih judul Hidup Luar Biasa. Ide awalnya hanya sekedar ingin berbagi cerita tentang yang biasa dilakukan atau apa yang mungkin terpikir di sela kebiasaan tapi kalau berjudul hidup itu biasa-biasa saja, rasanya tidak tepat.

Hal pertama yang membuat luar biasa adalah kita hidup. Kita hidup di dunia yang begitu luar biasa dengan aneka ragam bentang alam, ragam budaya, cita karsa, dan nilai-nilai dalam sosial. Sudah lebih dari 10 tahun aku terhipnotis oleh kehadiran kupu-kupu dan segala fase metamorfosisnya. Sekarang, masih pula terkagum dan menyenangkan melihat si ulat memakan daun, fase perubahan ulat-kepompong, dan tentunya ketika kupu-kupu menghisap madu bunga. Untuk memperhatikan itu, kita harus berdiam dan bersabar. Bukan suatu kenikmatan yang bisa dilalui dalam sekelebat.

Berada di dalam satu keluarga, selalu memberikan rasa luar biasa. Kita selalu memiliki yang mendukung, mengkritik, dan menjaga. Aku memiliki orang tua super, semua orang tua bagi anaknya adalah super. Mereka selalu santai, minum kopi sambil bercanda gurau yang sering kali menjadi saling ejek. Kalau seluruh berkumpul akan seperti acara lawak. Memiliki kakak, memberikan rasa aman. Adanya seorang adik, mendorong rasa jagoan untuk menjadi penjaga. Keponakan juga selalu menjadi pencair dan penceria suasana. Menyenangkan.

Teman-teman luar biasa. Selalu membawa perbincangan yang memberi kehidupan lebih hidup. Interaksi demi interaksi memberi wawasan dan kebijakan. Sepatutnya tiap interaksi membawa kebajikan dan menambah kebijakan. Seperti ketika kita baru pertama kali berkenalan dengan seseorang dan perasaan kita sedang penuh kesal. Kalau kita cukup bijak dan mengenal diri dengan baik, kita akan tahu yang harus dilakukan untuk mengembalikan suasana hati kembali netral.

Keadaan yang kualami sekarang pun penuh keluarbiasaan. Biasanya, aku sering membaca buku dan menulis sesuatu di buku. Kebiasaan itu menjadi keterasingan. Menulis di blog juga seperti hal yang janggal. Ide tak kunjung datang dan menyelesaikan kalimat demi kalimat itu seperti hal yang begitu sulit. Apa aku mengeluh? Sedikit. Hidup harus bervariasi, sesekali mengeluh itu perlu biar ada pertanda bahwa kita tidak puas. Yang harus dilakukan berikutnya adalah bagaimana setelah itu. Maka, akupun mengetik tulisan ini.


Selalu anggap hidup itu indah dan menyenangkan. Sambut hari dengan bahagia. Tidak ada istilah biasa-biasa saja. Bagi kita biasa, mungkin bagi orang lain itu adalah sesuatu yang luar biasa. Adakah kita membiarkan orang lain mengetahui itu? Akankah orang lain sadar dengan itu? Kita harus beri ruang buat orang lain memberikan apa yang mungkin kita butuhkan. Biarkan hidup memberi kejutan. Siapa tahu kita akan mendapatkan hadiah tambahan.

Ingat untuk berkata dalam kalimat positif dan bermakna positif. Hargai orang lain. Hargai waktu. Mari kita menjadi pribadi yang lebih baik. Selalu.


Selamat menikmati hidup, Teman!

Senin, 23 Januari 2012

(Besok) Ketemu Siapa

Siapa saja yang kita temui hari ini, kita tahu ketika penghujung hari telah tiba. Sesaat menelaah siapa dan apa yang kita lakukan. Besok? Siapa yang tahu?

Kita bisa punya rencana kalau hari besok kita berdiam di rumah. Ternyata, orang tua, adik atau kakak dikunjungi oleh rekan mereka dan kita berkenalan. Bertambah satu orang di luar rencana awal. Bisa juga, berencana nongkrong di cafe sendirian. Kalau sendiri, harusnya tunggal, bukan jamak. Toh, itu pun langsung tergagalkan karena kita bertemu dengan pelayan. Di cafe itu pelayan beda dengan penjaga kasir, itu menjadi tambah dua orang.

Supaya lebih enak, kita andaikan aku duduk sendiri di cafe, memesan roti bakar dan segelas kopi tubruk (menu favorit). Ketika datang, sudah bertemu pelayan yang mencatat pesananku. Cafe tidak terlalu ramai, bisa saja ada yang mendatangiku dan mengajakku berbincang. Bisa pelayannya, bisa pemilik, atau sesama loner di cafe itu. Satu-dua cerita bisa mengalir dari lawan bicara yang saya baru kenal.

Biasanya, ketika awal perbincangan, saya lebih suka mendengar. Dengan mendengar saya bisa mengetahui siapa dia. Harus ingat selalu bahwa manusia, siapapun dia, membutuhkan pengakuan. Pengakuan yang paling sederhana adalah pujian. Tidak perlu didengar yang dibenci, berikan pujian tindakan yang dia senangi dan sesungguhnya dikagumi. Usahakan minimal penilaian atau tetapkan nilai positif untuk awal.

Lain cerita, aku sengaja menemui teman lama, sebentar saja. Siapa sangka kalau pertemuan itu memberikan keberkahan di masa yang datang. Tidak pernah akrab sangat atau apa. Hanya bertegur sapa sekejap. Tidak akan melukai diri, kan? Kita tidak pernah tahu sampai waktunya tiba, ternyata meneruskan silaturahmi penuh berkah.

Aku bisa merasa sangat bersalah kalau melupakan seseorang yang mengingatku dengan baik. Itu seperti menegaskan bahwa aku tidak layak untuk diingat. Alhasil, aku kadang berani melakukan hal memalukan, seperti menegur orang asing yang tampak akrab, yang bisa saja itu bukan orang yang aku pikir. Teman susah dicari, musuh selalu saja datang. Aku percaya kalau aku ingin diperlakukan baik oleh orang lain, maka akupun harus memperlakukan orang lain sebaik yang aku mau dan mampu.

Ada juga cerita tentang citra atau rekaman peristiwa akan sosok seseorang begitu melekat di ingatan. Dikarenakan rekaman itu, hubungan pada kekinian terganggu atau bahkan ditutup. Haruskah kita membiarkan luka lama terus menganga?

Biar lebih jelas, diberi contoh tentang aku. Ketika SMA, teman-teman baik dan akrab sewajarnya menganggap aku pribadi yang baik dan juga aneh. Namun, kalau yang tidak mengenal baik, apapun yang ingin mereka ingat tentang diriku, itu terserah pada mereka. Ada yang membocorkan kalau aku dianggap judes dan sombong. Wow! Itu menarik sekali. Membuktikan bahwa aku mampu menjadi pemeran antagonis dan refleksi diri atas kekurangan. Harapan untuk sekarang adalah semoga mereka memberiku ruang untuk merubah atau mungkin membenarkan persepsi itu.

Kita hanya mampu tahu ketika waktu itu tiba. Kita mungkin tidak akan pernah tahu kalau orang di sebelah kita adalah pengusaha sukses yang sedang memikirkan untuk membagikan uangnya tanpa alasan. Kita mungkin tidak tahu kalau orang yang baru kita kenal tadi adalah teman akrab dari pasangan teman baik kita yang sudah lama tidak bersua. Atau ternyata, orang yang kita kenal ini adalah yang memperkenalkan kita dengan jodoh kita, bahkan bisa saja dia adalah jodohnya. Mulailah mengenal, mulai sebuah perjumpaan.

Mungkin.

Setiap pertemuan membawa cerita.

Minggu, 01 Januari 2012

Cinta Semanis Cupcake


Cinta dalam potongan kue, pastilah manis. Kebanyakan kue memang terasa manis, walau ada juga yang sedikit asin seperti cheesecake. Kalau sepotong kue, cupcake, bisa menceritakan atau merealisasikan perasaan yang abstrak menjadi nyata: cinta itu manis.

Kalau boleh, kali ini aku akan tetap menggunakan cupcake daripada kue mangkok. Pemaknaan yang terjadi kalau menggunakan kue mangkok adalah kudapan tradisional Indonesia dengan tepung beras dan dikukus. Untuk itu, digunakan cupcake untuk menghindari kecampuradukkan. Kesannya sangat membenarkan penggunaan bahasa asing dalam bertutur bahasa Indonesia. Mohon maaf sebelumnya, tiada maksud.

Beberapa waktu belakangan ini, aku berkutat dengan cupcakes. Meneruskan yang telah dimulai oleh adikku tersayang, sekarang kami bersama-sama mengerjakan ini. Kebanyakan pemesan cupcakes adalah perempuan. Sebagian membeli untuk perayaan ulang tahun teman, seringkali pacar, dan sekali dua untuk orang tua mereka. Ada juga yang pemesannya pria, seorang pacar atau ayah.

Aktivitas ekonomi ini membuatku menjadi mempertanyakan atau tersadarkan atas konsepsi cinta. Ah! Membicarakan cinta memang perlu konsep? Rasanya cinta itu abstrak (padahal rasa itu indra pengecap dan abstrak itu bentukan ide). Cinta memiliki kebebasan untuk pengartian. Aku, anda, kamu, mereka bisa memiliki konsep yang berbeda, namun merasakan cinta yang serupa tapi tak sama.

Akankah kamu tersenyum bahagia ketika seseorang memberikan cupcakes?
Akankah aku tersenyum jika kamu atau entah siapa memberikanku cupcakes?

Kalau aku berpikir bahwa senyuman atas alasan cupcakes itu rancu, berarti aku meluluhkan konsep romantisme dalam hidup. Bisa jadi aku menjadi seperti dr. Bones, yang mengakui cinta hanya sekedar reaksi kimia (walau sekarang dia mulai menerima adanya cinta). Kalau itu yang terjadi, aku bisa menjadi orang tanpa perasaan. Berdiri hanya berdasarkan logika. Seperti menanggalkan rasa kemanusiaan yang membedakan kita dengan makhluk hidup lainnya.

Kalau benar aku atau kamu tersenyum ketika diberikan cupcakes oleh siapapun, maka cinta itu manis.  Kecuali orang yang berusaha meracuni atau berniat jahat, semoga tidak ada yang berbuat itu. Berharap saja penerima cupcakes menyukai makanan manis. Maka, sesuatu yang abstrak menjadi nyata. Sebuah perasaan bisa terasa oleh indra pengecap manusia. Cinta itu manis!

Perasaan kita ketika menerima perhatian dari orang terkasih adalah perasaan yang luar biasa. Perhatian itu ditambah dengan perwakilan wujud cupcakes, menambah efek debaran jantung mempesona. Oh, begitu indah hidup ini. Ketika orang lain memberikan cupcakes dengan muka tersenyum, pastilah kita tersenyum. Ketika dia menyebarkan aura kebahagiaan, terkenalah kita oleh kebahagiaannya. Kita hanya perlu menerima, dan semua tersenyum bahagia. Jika kita memakannya, maka benar sudah tentu: cinta itu manis.

Ada cinta anaknya memberikan pada sang mama ketika Hari Ibu, 22 Desember. Ada cinta si pacar ketika tanggal bulan itu mengingatkan ketika pertama menjadi pasangan. Ada juga tante terbaik yang memberikan keponakannya kue super lucu. Dihiasi dengan warna-warna favorit dan bentuk representasi kesukaan. Cupcakes yang seakan-akan mencitrakan adanya penerima. Penegas nyata atas abstrak.

Maka romantisme berjaya. Setangkai mawar, sekotak coklat, sepotong cupcakes, dan seorang terkasih. Lestarilah romantisme. Cinta untuk semua!


Jadi, aku patut menasehati diriku sendiri. Cinta itu terasa. Percayalah pada cinta. Cinta itu nyata, cinta itu semanis cupcakes.


Salam cupcakes, Manis!