Minggu, 01 Januari 2012

Cinta Semanis Cupcake


Cinta dalam potongan kue, pastilah manis. Kebanyakan kue memang terasa manis, walau ada juga yang sedikit asin seperti cheesecake. Kalau sepotong kue, cupcake, bisa menceritakan atau merealisasikan perasaan yang abstrak menjadi nyata: cinta itu manis.

Kalau boleh, kali ini aku akan tetap menggunakan cupcake daripada kue mangkok. Pemaknaan yang terjadi kalau menggunakan kue mangkok adalah kudapan tradisional Indonesia dengan tepung beras dan dikukus. Untuk itu, digunakan cupcake untuk menghindari kecampuradukkan. Kesannya sangat membenarkan penggunaan bahasa asing dalam bertutur bahasa Indonesia. Mohon maaf sebelumnya, tiada maksud.

Beberapa waktu belakangan ini, aku berkutat dengan cupcakes. Meneruskan yang telah dimulai oleh adikku tersayang, sekarang kami bersama-sama mengerjakan ini. Kebanyakan pemesan cupcakes adalah perempuan. Sebagian membeli untuk perayaan ulang tahun teman, seringkali pacar, dan sekali dua untuk orang tua mereka. Ada juga yang pemesannya pria, seorang pacar atau ayah.

Aktivitas ekonomi ini membuatku menjadi mempertanyakan atau tersadarkan atas konsepsi cinta. Ah! Membicarakan cinta memang perlu konsep? Rasanya cinta itu abstrak (padahal rasa itu indra pengecap dan abstrak itu bentukan ide). Cinta memiliki kebebasan untuk pengartian. Aku, anda, kamu, mereka bisa memiliki konsep yang berbeda, namun merasakan cinta yang serupa tapi tak sama.

Akankah kamu tersenyum bahagia ketika seseorang memberikan cupcakes?
Akankah aku tersenyum jika kamu atau entah siapa memberikanku cupcakes?

Kalau aku berpikir bahwa senyuman atas alasan cupcakes itu rancu, berarti aku meluluhkan konsep romantisme dalam hidup. Bisa jadi aku menjadi seperti dr. Bones, yang mengakui cinta hanya sekedar reaksi kimia (walau sekarang dia mulai menerima adanya cinta). Kalau itu yang terjadi, aku bisa menjadi orang tanpa perasaan. Berdiri hanya berdasarkan logika. Seperti menanggalkan rasa kemanusiaan yang membedakan kita dengan makhluk hidup lainnya.

Kalau benar aku atau kamu tersenyum ketika diberikan cupcakes oleh siapapun, maka cinta itu manis.  Kecuali orang yang berusaha meracuni atau berniat jahat, semoga tidak ada yang berbuat itu. Berharap saja penerima cupcakes menyukai makanan manis. Maka, sesuatu yang abstrak menjadi nyata. Sebuah perasaan bisa terasa oleh indra pengecap manusia. Cinta itu manis!

Perasaan kita ketika menerima perhatian dari orang terkasih adalah perasaan yang luar biasa. Perhatian itu ditambah dengan perwakilan wujud cupcakes, menambah efek debaran jantung mempesona. Oh, begitu indah hidup ini. Ketika orang lain memberikan cupcakes dengan muka tersenyum, pastilah kita tersenyum. Ketika dia menyebarkan aura kebahagiaan, terkenalah kita oleh kebahagiaannya. Kita hanya perlu menerima, dan semua tersenyum bahagia. Jika kita memakannya, maka benar sudah tentu: cinta itu manis.

Ada cinta anaknya memberikan pada sang mama ketika Hari Ibu, 22 Desember. Ada cinta si pacar ketika tanggal bulan itu mengingatkan ketika pertama menjadi pasangan. Ada juga tante terbaik yang memberikan keponakannya kue super lucu. Dihiasi dengan warna-warna favorit dan bentuk representasi kesukaan. Cupcakes yang seakan-akan mencitrakan adanya penerima. Penegas nyata atas abstrak.

Maka romantisme berjaya. Setangkai mawar, sekotak coklat, sepotong cupcakes, dan seorang terkasih. Lestarilah romantisme. Cinta untuk semua!


Jadi, aku patut menasehati diriku sendiri. Cinta itu terasa. Percayalah pada cinta. Cinta itu nyata, cinta itu semanis cupcakes.


Salam cupcakes, Manis!

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Kalau kata Tie Pat Kai: "Begitulah cinta, deritanya tiada akhir..."

Gita P Djausal mengatakan...

sedih yah jadi Tie Pat Kai, sudah pula dia itu babi, cintapun dia harus menderita.
Hiks.