Selasa, 16 November 2010

Mandiri Tanpa Arti

Sudah terlalu lama.


Apakah aku kehilangan diriku?


Harusnya aku menyempatkan diriku untuk membuat sesuatu. Entah itu membaca, membuat tulisan atau karya lainnya. Belakangan ini, aku merasa terjebak dalam kekosongan. Kenapa seperti itu?


Berarti ada yang salah.


Yang sepatutnya disalahkan adalah diriku sendiri. Tegakah aku pada diriku sendiri? Kalau memang tega, kenapa aku tidak memberikan keadilan pada diriku sendiri? Kenapa dibiarkan begitu saja? Ini aneh. Terlalu banyak tanda tanya. Ketika aku menggunakan kata 'harus', maka hal tersebut sepatutnya menimbulkan konsekuensi. Karena 'harus' menggambarkan kewajiban. Aku pun kebingungan menentukan ganjaran atas tidak terlaksananya kewajiban atas diri.


Kadang merasa memerlukan penyemangat pribadi supaya rasa bersalah ini berkurang. Kalau itu yang diharapkan, berarti diri ini tidak mandiri. Salahkah itu? Kemandirian apa yang sebetulnya kita perlukan. Kemandirian yang hakiki? Apa pula itu artinya?


Mandiri sering kali diartikan mandi sendiri. Kalau orang-orang yang mandi di tempat umum beramai-ramai berarti dia orang yang tidak mandiri. Pengertian yang salah, kukira. Secara konotatif, mandiri diartikan berdiri sendiri. Mandiri juga kerap dianggap kemampuan sesorang untuk hidup independen secara ekonomi. Mampu membiayai kehidupan sehari-hari sampai dengan kehidupan sosial lainnya.


Aku harus mengakui bahwa aku adalah orang yang belum (atau tidak) mandiri. Jangankan untuk hal secara ekonomi, untuk memutuskan hal-hal yang terjadi dalam keseharian pun aku berjuang terlalu keras. Entah itu karena terlalu banyak pertimbangan atau memiliki cara pandang yang tidak tepat dalam pengambilan keputusan. Seorang teman pernah bilang, "Kamu itu tampak orang yang pemikir, orang jadi sulit untuk mengenal kamu." Aku tidak bisa mempersalahkan default setting dari muka ini. Kadang, ketika aku bengong pun, orang bisa merasa terancam oleh tatapan kosongku. Kita tidak bisa menilai sesuatu dari tampilan atau fisik semata. Itu pula yang aku coba gunakan dalam menjalani keseharian, meminimalisir penilaian terhadap apa yang terlihat atas seseorang. Semoga selama ini baik-baik saja. Pada akhirnya, aku tidak bisa memungkiri bahwa apa yang tampak di diri saya sepertinya luar biasa, terkadang terasa hambar di diri.


Berpikir terlalu banyak. Tidak juga. Tidak pernah terlalu banyak, secukup dan semampunya keinginan diri. Dalam memutuskan sesuatu terkadang banyak bertanya kepada orang, kadang menyimpan pendapat untuk diri sendiri. Untuk orang yang penuh keyakinan atas dirinya dalam mengambil keputusan, kuberikan salut kepada mereka! Aku berharap aku seperti itu. Namun, terasa sulit untuk dilakukan. Aku sering mempertimbangkan ada-ku sebagai anak, kakak, atau adik dan bagaimana keputusan yang aku ambil selalu membuat hatiku dan mereka senang gembira. I love my family.


Ini seperti menyadari kelemahanmu dan menyebarkannya kepada seluruh dunia. Yang selalu menjadi yang terpenting adalah apa selanjutnya? Masihkah aku merasa tidak mandiri? Masih. Apakah itu mengurangi nilai yang ada di diri? Semoga tidak. Seperti malam ini, semesta mungkin secara sengaja membuat aku menonton Ugly Betty yang berkata, Lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Jangan biarkan orang lain menghalanginya. Ini tentang kamu.


*mohon maaf kalau ada bahasa selain Bahasa Indonesia digunakan dalam tulisan ini. 

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri jika merasa tidak mandiri... manusia tidak ada yang sempurna (karena kodratnya yang masih membutuhkan manusia lain, dalam satu sisi bisa sangat mandiri, tetapi menjadi tidak mandiri disisi yang lain. Ini terjadi karna manusia memiliki keterbatasan pengetahuan, pengalaman, mental, dll untuk memecahkan masalahnya. Yang terpenting adalah mengetahui kelemahan kita dan memperbaikinya.. ada pelajaran yang bisa kita ambil dari ketidak mandirian kita. Hidup terus berjalan, roda terus berputar... sebisa mungkin lakukanlah hal2 yang baik dengan ikhlas. Hiduplah dengan penuh isi , penuh arti, penuh bakti...

Gita P Djausal mengatakan...

Manusia memang seorang individu dan juga manusia sosial. Manusia juga tidak pernah sempurna, kesempurnaan hanya milik-Nya. Insya Allah selalu berusaha untuk mengisi hidup dengan makna dan karya.

Di titik mana kita menggantungkan kepada orang lain, ketika kita tidak dapat melakukannya? Hmm.. langsung terlintas pemikiran lain-lain nih. Belum tentu berhubungan.

Satu per satu, kita belajar di setiap langkah yang kita ambil. :D

dheaditya's mengatakan...

An empty space lies within the eager to be seen as strong woman, yeah that's what you are now.

But indeed, you are strong, its just now something has missing and you don't know what is that. You just feel it. so just enjoy it.

You're not weak, you just follow your heart. You have a great mind, so just keep telling the world.

But lets not forget, we're not in the world of our own.. That is why people need their significant others to help them live. live high.


maaf gak pake bahasa indonesia, karena bisa terdengar gombal.
--

Iyo imoet mengatakan...

Ada yang pernah bilang, orang bisa karena terbiasa ataupun bahkan dengan terpaksa bahkan dipaksakan. Intinya, keluarlah dari zona "nyaman" karena disana ada tantangan baru tuk dihadapi dan trus motivasi diri tuk selalu bergerak dan meraih mimpi2mu.

Tidak akan ada rasa manis jika tidak ada rasa pahit dan tidak akan ada rasa bahagia jika kita tidak tau apa itu arti suatu rasa kesedihan.

Meyakini kita memiliki arti, karena we're beautiful no matter what they say. Masih ada yg mencintai kita dan sesuatu yg kita cintai bahkan cinta untuk diri sendiri yang akan menutupi segala kekosongan. Dan Laskar Pelangi sedang mewujudkan mimpi para Sang Pemimpi.