Rabu, 05 November 2014

Kisah Seorang Ibu

Seseorang pernah berkata, "Berikan waktu dirimu untuk mengingat semua hal yang kamu lakukan dalam satu hari. Semuanya, setiap detilnya.". Kadang, terasa bahwa 24 jam itu membatasi. Kita butuh lebih dari 24 jam untuk menyelesaikan segala hal yang terjadi di hadapan kita.

Menjadi seorang ibu itu sebuah tantangan luar biasa. Tantangan seumur hidup. Karena itu dijalani sepanjang hidup, aku bahkan mungkin lebih setuju jika itu dianggap sebagai sebuah petualangan. Ya. Petualangan yang dijalani oleh satu keluarga.

Petualangan memiliki anak dimulai ketika menginjakkan kaki di rumah sepulang dari rumah sakit bersalin. Ujian pertama yang aku hadapi adalah kembali membiasakan diri dengan kipas angin, bukan AC. Dan ternyata ketika pulang, listrik padam. Badan keringatan dan Banyu menangis, sampai mukanya memerah. Perjuangan. Kipas tangan pun beraksi.


Tiba-tiba cucian menumpuk. Kain bedong, cawat, baju kecil bergambar bebek. Hari-hari seperti kisah mengejar matahari. Kalau telat mencuci, matahari keburu tergelincir. Kalau telat menjemur, mataharinya keburu nyumput. Kalau telat kering, nanti Banyu ga bisa ganti popok. Dan melelahkan. Di antara menyusui dan berurusan dengan cucian, masih pula harus menahan rasa sakit jahitan operasi. Jangan lupa yang penting: makan yang cukup dan segelas teh manis. Akhirnya, suamiku yang baik hati itu tidak ingin istrinya jatuh sakit. Dia membelikan mesin cuci baru, satu tabung. Tinggal pencet. Done!

Kepanikan datang ketika suamiku sedang pergi dan Banyu tidak bisa tidur nyenyak. Sungguh membuat frustasi. Sampai menangis. Banyu hanya tertidur di pelukan, jika diletakkan di kasur, langsung terbangun, Akhirnya aku menelpon temanku yang juga seorang bidan. Kalimat pertamanya, "Lo nangis ya?". Ternyata si Banyu mungkin masuk angin, Ada sesuatu yang salah dengan perutnya. Temanku menyarankan memijat gerakan I-L-U (I Love You) di perut. Pernah juga sahabatku yang lain memberitahu untuk memijat bayi seperti yang dijabarkan di lembaran kertas di dalam kotak set perlengkapan mandi bayi Johnson and Johnson. Sejak itu, aku memijat Banyu sebelum mandi. Sampai pada waktu dia terlalu lincah untuk dipijat dengan tenang.

Aku percaya hidup itu pilihan. Tergantung seberapa bijak kita memilih dari sekian banyak pilihan itu. Menjadi orang tua, membuat pilihan itu bukan tunggal. Pilihan kita juga memberi dampak kepada pasangan, anak, dan mungkin keluarga besar.

Layaknya seorang ibu memilih untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan atau tidak. Itu pilihan. Aku ingin sekali mengalami IMD (Inisiasi Menyusu Dini), sayangnya pilihan itu tidak bisa dilaksanakan karena masih ada luka operasi. Untungnya, air susuku baik-baik saja. Mendengarkan cerita teman yang sudah memiliki anak, tentang badan yang menjadi panas tinggi karena air susunya tersumbat dan payudara bengkak, memberikan tindakan preventif sehingga rajin menstimulasi payudara untuk memproduksi air susu dan membersihkan puting.

Memang memberi keuntungan jika senang mendengarkan. Banyak orang punya kisah, banyak orang punya pengalaman. Mamaku setidaknya berhasil mengurus empat orang anak. Belum lagi cerita dari saudara kandung dan saudara terdekat, melihat bagaimana mengurus anaknya. Semua bisa belajar dari itu.

Memiliki teman yang juga melahirkan di tahun yang sama atau waktu yang berdekatan menjadi referensi tumbuh kembang. Banyu sebagai anak ibu yang super jagoan itu, tidak seperti teman-temannya yang beraktivitas lebih banyak. Mungkin dia lebih seperti ibunya, menikmati tiap waktu, menyesapi detik yang berjalan. Bahagia ketika dia bisa bolak-balik sendiri, seperti ayam yang mau digoreng tepung crispy. Nanti juga semua bayi belajar dan bisa, begitu kata mamaku. Asalkan dia sehat selalu dan dokter tidak memberikan instruksi tambahan, aku rasa semua baik-baik saja.

Detik-detik menegangkan kemudian datang ketika saatnya makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI). Memilih makanan pertama, memikirkan responnya terhadap makanan, seberapa porsi yang patut diberikan, memakai peralatan makanan apa, atau apapun itu yang sepertinya sepele dan tidak penting namun dipikirkan tanpa alasan.

Aku pilih pisang. Aku membeli 1 pak sendok silikon berisi 5 (atau 6, entah) dan 1 sendok yang tampak lebih lengkung pegangannya. Aku membongkar kado dari sepupuku dan mengambil kotak makan. Aku mengeluarkan kursi pemberian teman kami. Kakakku memberikanku slabber, dan aku menggunting kain bedong yang sudah butut.

Awalnya pisang kucampur air tapi Banyu tidak begitu tertarik. Hari kedua aku campur ASI, dia lumayan suka. Berikutnya aku berikan puree pisang saja. Lalu ternyata Banyu suka semangka dan kemudian jeruk. Sampai pada waktunya, mungkin Banyu butuh variasi, bukan cuma rasa tapi juga nutrisi untuk tubuh.

Buku tentang MPASI menyatakan kalau gula, garam, dan madu diberikan kepada bayi di atas usia 12 bulan. Aku dan suami juga bertanya kepada dokter anak. Setelah aku merebus daging dan merasakan kaldunya, memang ada rasa gurih. Tadinya, hewani boleh diberikan kepada bayi berusia di atas 8 bulan, namun sekarang WHO (World Health Organisation) menganjurkan untuk memberikan di usia 6 bulan. Itupun aku tahu karena banyak ibu muda (yang juga temanku) memberi komentar di status media sosialku. Mengonsumsi hewani penting karena kandungan Fe (zat besi) membantu tubuh untuk menyerap nutrisi. Aku mungkin salah, silakan dicari tahu saja. Ketika Banyu diare, dokter anak juga memberika Zinc yang ternyata untuk membantu perbaikan sel, bahasa mudahnya temanku, "Menambal yang bocor-bocor supaya nutrisi terserap makin oke.".

Ke,mudian, aku mengobrol dengan sepupuku, dia cerita banyak tentang BLW, Baby Led Weaning. Di usia Banyu ke-7 bulan lebih sedikit, aku coba untuk Banyu makan sendiri. Ternyata memang bisa. Makanan dibuat finger food. Kalau keras boleh direbus atau dikukus supaya lembut. Sempat pula Banyu menjadi penggemar mentimun dan labu siam.

Banyu belum merangkak, mulai merayap. Kalau dia mulai merangkak terbayang heboh. Slow but sure. Yang penting senang. Apapun yang terjadi, asalkan Banyu sehat. Semoga nanti dia menjadi anak yang cerdas dan memberi manfaat bagi kehidupan.

Tidak ada komentar: