Jumat, 06 Desember 2013

Mereka adalah Kakek-Kakekku

Sebagian orang memiliki kesempatan untuk mengenal kakeknya atau bahkan buyutnya. Harus diakui, ketika usia hidup lebih pendek, kesempatan mengenal mereka adalah kesempatan yang langka. Aku tidak memiliki kesempatan mengenal kakek-kakekku dengan kedekatan. Kakek dari mamaku meninggal sebelum aku lahir. Kakek dari papaku lebih kukenal ketika liburan hari raya atau hari-hari spesial.

Ini layaknya menjadi misteri kehidupan. Mungkin karena aku adalah orang Indonesia yang seringkali dikenal sebagai "anaknya si bapak x". Itu membuatku berpikir, "Mengapa identitas terdahulu menjadi krusial sebagai identitas kita yang kini?". Apakah aku akan mengalami krisis identitas jika aku tidak mengenal mereka? Mungkin iya.

Mulai dari namaku yang terdiri dari tiga kata. Yang terakhir adalah nama yang diturunkan oleh papaku, Djausal. Papaku mendapatkan dari Buya-nya, singkatan dari nama belakangnya dan nama ayahnya (yang berarti buyutku). Itu membuatku menganggap bahwa Siddiku (kakekku) adalah orang yang cerdas dan cerdik. Dia memastikan anaknya dan mungkin cucunya mengingat pendahulunya. Mungkin kamu memiliki teman yang bernama akhir Djausal dengan cerita yang berbeda. Bagi keluargaku, nama itu adalah identitas nyata. Nama itu diteruskan oleh keturunan laki-laki karena Lampung beradatkan patrilineal.

Pemikiran awal membuat tulisan ini, untungnya, membuat aku menanyakan tentang pekerjaan Siddi. Karena waktu kecil yang aku tahu pekerjaannya adalah menjadi seorang kakek, tidak lebih dan tidak pernah berkurang. Ternyata dulu dia pernah kerja di tukang jahit atau tailor (bahasa keren masa kini). Baru kemudian dia menjadi seorang pegawai negeri sipil Dinas Agama. Dan pekerjaan terakhirnya adalah pekerjaan paling membanggakan dan luar biasa. Dia menjadi khotib shalat Jumat.

Sewaktu dia masih hidup, aku mash terlalu kecil untuk mengenalnya dengan sangat baik. Beberapa waktu lalu, papaku menunjukkan tumpukan berkas. Itu adalah tumpukan paling berharga yang pernah aku temukan atas nama Siddiku. Berkas-berkas itu adalah kumpulan bahan khotbah Jumat dan teks khotbah, bahkan tulisan yang kemudian dia beri catatan bahwa topik itu tidak cukup baik untuk dijadikan khotbah. Menjadi khotib seperti sebuah pekerjaan penuh yang dilakukan dengan penuh kesungguhan.

Kakekku dari pihak mama kukenal hanya melalui cerita dan imajinasi yang terbentuk ketika aku melihat fotonya. Awalnya kupikir dia berkulit lebih gelap tapi mamaku bercerita kalau justru dia yang lebih terang kulitnya, hanya menggelap karena hobinya berburu. Sering juga dia pergi berburu mengajak anak-anaknya.

Awal mula cerita Mbah Kakung dan Mbah Putri diceritakan dengan keterbatasan komunikasi yang, menurutku, penuh romantisme. Mbah Kakung hanya bisa berbicara Jawa dan Belanda, yang membuat dia disebut Londo Item. Sedangkan, Mbah Putri berbahasa Melayu dan Lahat. Tidak terbayang seperti apa komunikasi mereka ketika awal itu. Pakdeku yang tertua, Pakde Win, juga menceritakan tentang kisah perkenalan mereka yang berawal dari halaman yang indah tertata rapi. Beruntung Pakde Win menuliskan kisah dia, dari kisahnya ketika masih bersama Mbah Kakung dan Mbah Putri memberikan gambaran yang lebih jelas atas sosok yang belum pernah kutemui secara langsung.

Menurut cerita, Mbah Kakung juga sangat senang untuk berangkat Shalat Jumat. Baginya, itu merupakan salah satu tempat untuk menjalin silaturahmi, selain ibadah yang utama. Banyak orang yang bisa dia temui. Membuatku tersenyum karena kutahu kalau kedua kakekku itu rajin shalat Jumat, bukan hanya karena nilai ibadahnya tapi juga hubungan antar manusia. Hablu minallah wa hablu minannas.

Doa untuk para pendahuluku. Semoga hati terus mengingat kisah supaya kita semua pun mengingat asal.

Tidak ada komentar: