Kamis, 17 Mei 2012

Kalau

Andaikan aku tahu apa arti cinta. Bagaimana dia bisa menjelaskan apa yang terjadi dalam diri. Namun, cinta itu abstrak. Cinta itu bagaikan ilusi yang menjebak diri dalam buah pikiran yang seringkali memabukkan. Ilusi hanyalah ilusi.

Kalau memang hanya cinta yang mampu menjadi jawaban atas semua pertanyaan, itu sungguh jauh dari logika. Apakah harus begitu kompleks sehingga tidak mampu dipahami oleh logika? Atau karena aku tidak cukup memiliki logika yang tepat untuk menjelaskan semua?

Kalau cinta mampu membuatku tidak mampu membencimu. Mampukah aku membunuh cinta ini?

Selasa, 15 Mei 2012

Lampung dalam Keraguan

Hal yang paling menggetarkan adalah ketika mendengar pembakaran kantor Pemda Kabupaten Mesuji (3 Mei 2012), Provinsi Lampung. Sebelumnya kejadian pembakaran, patung Zainal Abidin Pagaralam di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, dirubuhkan oleh massa (Senin, 30 April 2012). Keduanya bukan peristiwa yang patut dibanggakan. Ini bahkan memunculkan pertanyaan. Apakah hanya kerusakan yang kita bisa?

Pembakaran kantor dilakukan sebagai wujud protes pencabutan Wakil Bupati Mesuji dari jabatannya. Pencabutan tersebut didasarkan atas status terpidana kasus suap. Harusnya tidak perlu ada penolakan dari simpatisan dan sebagainya. Toh, memang sudah terpidana. Sudah nyata bersalah. Bupati dan Wakil Bupati Mesuji dilantik pada 13 April 2012. Itu berarti masa jabatannya hanya 17 hari kalender.

Sebagai orang awam di dunia perpolitikan Lampung, pembakaran ini memicu buah pikiran. Tentang masyarakat yang menolak pemberhentian Ismail Ishak, mungkin rasa cinta dan percaya pada pribadi tadi begitu besar. Hebat kalau memang itu yang dimaksudkan. Dengan masa kerja yang hanya 17 hari dan selama itu pula dia berada di dalam Rutan, apa saja yang telah dilakukan? Pasti ada sebagian pula yang berpendapat, kalau mau diberhentikan buat apa dilantik? Sederhana saja, administrasi tetap harus berjalan sebagaimana mestinya. Dia kan Wakil Bupati Terpilih, ya, harus dilantik. Kalau tidak dilantik, juga tetap membuat keruh simpatisan. Kalau sudah dilantik, berarti jabatan sudah jelas. Dengan begitu, bisa diberhentikan.

Entah apapun itu. Membakar gedung pemerintah daerah suatu kebodohan. Terlebih, usia daerah kabupaten itu baru sekitar 4 tahun. Bisa dikatakan gedung masih baru, semua yang ada masih berfungsi baik (harusnya). Masyarakat yang mengaku simpatisan mantan wakil bupati membakarnya seperti hal itu bukan suatu kesalahan. Mengabu-bakarkan uang belanja daerah. Kebodohan.

Soal patung di Kalianda, Lampung Selatan. Tokoh Zainal AP adalah Gubernur Lampung kedua (1966-1973) yang banyak memberikan sumbangsih pembangunan. Sebagai salah satu yang memprakarsai pendirian Universitas Lampung.  Di masa pemerintahannya juga dibangun Pelabuhan Bakauheni dan Bandara Udara Raden Inten II.

Haruskah patung itu dirubuhkan? Banyak alasan yang memicu patung itu patut dibangun dan dirubuhkan. Mungkin sejak perencanaan juga tidak diterima dengan baik. Atau masyarakat merasa ada tokoh lain yang ingin mereka hormati, ada sejarah yang bisa diingat terus. Atau karena pembangunan patung tampak seperti arogansi Gubernur Lampung dan Bupati Lampung Selatan. Alasan demi alasan bisa dibuat oleh manusia. Namun, bagiku, merubuhkan sesuatu yang telah dibangun itu juga kebodohan. Itu bagaikan membakar uang sendiri.

Bagiku pribadi, kekacauan yang terjadi bisa memicu beberapa asumsi. Hal yang terpenting dan tidak dapat dihindarkan adalah ketidakmampuan pemimpin daerah untuk meredam kekacauan yang terjadi di sekitar masyarakat. Ketidakmampuan ini harus menjadi renungan adan masukan pemerintah daerah dalam melakukan tindakan selanjutnya. Melakukan pemetaan politik dengan baik. Mendahulukan kepentingan umum. Pemerintah memerlukan legitimasi dalam menjalan pemerintahannya, kekacauan bisa menghilangkan itu.

Kalau memang daerahku yang tercinta ini memiliki perpolitikan yang begitu kacau. Harus lebih sering menghela napas dan berjuang lebih agar dunia tetap menjadi lebih baik. Aku bosan dengan kebodohan.

Rabu, 02 Mei 2012

Surat untuk Sahabat

Rusa,


Akan selalu ada ruang di hati untuk adamu. Adakah kau baik-baik saja di sana? Pertemuan terakhir, ketika aku berkunjung ke kotamu, kita tidak banyak berbincang semana biasanya kita lakukan. Aku kadang merindukan saat-saat bodoh di masa lalu.


Aku hanya bisa berkata, "Jangan bersedih". Nyatanya, hanya kamu yang tahu apa yang sesungguhnya kamu rasakan. Apapun yang ingin kamu rasakan. Kamu harus tahu, ketika kamu tidak bercerita dan terdiam, aku menangis di dalam hati. Ketika kamu bersedih, aku pun bersedih. Sedihku hanya berdasar atas sedihmu. Sedihmu, hanya kamu yang tahu.


Entah kamu memiliki alasan yang tepat untuk bersedih. Andai aku tahu apa yang sesungguhnya kamu butuhkan agar kamu tidak perlu sesedih itu. Entah perlu kesedihan itu dijaga tetap ada. Jadi, mari kita bergembira.


Kamu tahu kebiasaanku, aku tidak akan bertanya sampai kamu mulai membuka cerita padaku. Sampai waktunya, aku akan terus bercerita tentang diriku. Maafkan untuk itu. 


Ayo! Kita rayakan kehidupan! Tertawakan kesedihan yang berlalu. Kita tertawa bersama.
I only a phone away from you.


Sahabatmu dari Lampung,
Madu