Kamis, 05 Juli 2012

Tentang Bandar Lampung

Ini tentang keseruan pernyataan Kota Terjorok. Kota kelahiranku yang aku cintai ini, membuat heboh. Kota Bandar Lampung tidak meraih penghargaan Adipura, penilaian kebersihan suatu kota. Apa benar Bandar Lampung adalah kota terjorok?

Perkara dibilang jorok, kotor, atau apapun itu bukan solusi. Sepatutnya dibahas mengenai rencana pengelolaan sampah, tata kota, taman kota, atau apapun demi memperbaiki lingkungan. Bagiku, yang penting adalah bagaimana kita menjaga diri kita, menjaga kota kita. Bukan sekedar hal yang dinilai oleh orang atau lembaga. Namun yang pasti, itu merupakan batu teguran.

Kejadian yang menghebohkan itu terjadi pada awal Juni 2012. Agak terlambat untuk dikomentari, hanya ingin mengutarakan yang ada di kepala. Berita itu pertama kali didengar ketika kedua orang tuaku membicarakan pemberitaan di koran, dengan tambahan komentar sosial yang didapat oleh papa. Walau begitu, tidak juga membuatku membaca koran. Beberapa tajuk di akun twitter media massa membahas hal itu. Sejenak tadi baru kutelusuri beritanya.

Agak sulit untuk memetakan kronologis peristiwa terkait. Ada satu berita video yang fenomenal bagi diri, ada cuplikan pidato dari Walikota Bandar Lampung. Pidato itu disampaikan pada peringatan Ulang Tahun Bandar Lampung pada tanggal 7 Juni 2012. Bapak Herman HN berkata, "... malam ini kita bawa 5 bis, demo di  Kementerian Lingkungan Hidup. Apabila perlu cari orang yang nilai, cekek sekalian".


Patutkah seorang pemimpin daerah berkata serampangan di depan publik?


Sebagai pemimpin daerah, harusnya dia mampu secara bijak menunjukkan kemampuan dia memimpin dengan menjamin bahwa warganya merasa aman. Rasa aman terkait hal ini adalah rasa kepercayaaan yang dibangun dari penghargaan atas kerja sebagai petugas kebersihan. Untuk menunjukkan bahwa dia melindungi, menghargai dan mendukung warganya, dia mengerahkan lima bis (beserta penumpang -tentunya-). Kelima bis itu diperintahkan untuk berdemo di Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Seperti tidak ada cara lain yang dapat ditempuh, sampai harus berdemo dan masyarakat yang berkontak langsung. Demo seringkali dikonotasikan negatif, itupun tidak mencegah Walikota mendukung demo tersebut. Apakah harus se-primitif itu? Kenapa dia harus mengirim masyarakat untuk mewakili kota Bandar Lampung sebanyak lima bis? Padahal dia sendiri, dia secara individi, dia yang tunggal itu mampu secara de facto dan de jure mewakili Kota Bandar Lampung. Kenapa harus lima bis?

"... Apabila perlu, cari orang yang nilai, cekek sekalian...". Kalimat itu yang paling tidak layak didengar di dalam forum umum. Salah satu tugas pimpinan daerah adalah pengaturan. Kata cekek menunjukkan kemampuan pengaturan yang dilakukan oleh Walikota adalah melalui kekerasan. Di masa sekarang ini, dia masih menekankan kekerasan untuk dilakukan dalam penegakkan yang dia anggap benar. Membuat kepala mengiangkan isu kekerasan terhadap manusia. Sulit memang memiliki pemimpin yang ideal ketika harus ada satu dari sekian banyaknya masyarakat. Secara terang-terangan mendukung kekerasan? Di masa kini? Mungkin dia harus belajar detterence.

Satu yang masih membuat aku penasaran adalah pernyataan dari pihak KLH. Kata per kata. Cara penyampaiannya. Media penyampaiannya. Supaya aku mampu lebih memahami  interaksi antara kota Bandar Lampung dan KLH, apakah terjadi distorsi atau tidak. Kalaupun memang terjadi distorsi, penyampaian dan penerimaan siapa yang membuat perseteruan ini menjadi seru.

Walikotaku yang terhormat itu patutnya berkata lain yang mampu membesarkan hati masyarakatnya dan juga tetap menunjukkan gigi kepada orang luar bahwa orang Lampung bukan sembarang orang. Untuk bisa menunjukkan sikap seperti itu, harusnya orang politik yang terhebat. Lebih keren kalau Walikota menunjukkan kemampuan diplomasinya dengan pihak luar, dalam hal ini adalah KLH. Dia juga bisa mempertimbangkan dulu, apa benar kotaku kurang bersih. Kalau memang perlu perbaikan, harus diperbaiki segera. Kalau sudah benar, jangan ambil pusing penilaian orang, buatlah Penghargaan Walikota. Berikan penghargaan itu kepada seluruh pihak yang terkait langsung dengan kebersihan kota. Buat acara khusus untuk petugas kebersihan yang menyapu tiap subuh menjelang. Tunjukkan kewibawaan pemimpin! Setidaknya, itu yang terlintas di kepalaku ketika membayangkan diri menjadi Walikota. Semoga kalau aku bisa menjadi walikota, kotaku akan lebih bangga.

Belum selesai berkomentar soal kejadian bulan lalu, Senin yang lalu (02/07/2011) ada berita tentang kerusuhan di Kalianda, Lampung Selatan. Bukan karena patung (karena patungnya juga sudah rubuh), ini karena perkataan Bupati Lampung Selatan. Kurang lebih perkataannya begini, "...tai kucing dengan adat...". Entah apa yang ada di otaknya. Perkataan yang tidak seberapa itu membuat kelompok masyarakat adat murka*, mereka mengamuk. Ketika Bupati menyatakan permintaan maaf di depan publik, masyarakat melemparkan botol dan batu. Peristiwa tersebut melumpuhkan jalur Lintas Sumatra. Kalau sempat, akan kubuat tulisan tentang kejadian ini.

Lampung dalam banyak tanya, banyak keraguan, dan masih perlu banyak perjuangan dari generasi yang masih berkarya. Tiap-tiap daerah memiliki intrik dan konflik yang menarik, namun jauh dari solusi yang lebih baik. Kita tidak boleh patah arang, harus terus berjuang. Sampai nanti kita tersadar bahwa kita sudah melakukan yang terbaik bagi tanah sendiri.


* Pemilihan kata yang agak berlebihan, namun dipertahankan karena aku kesal teramat dengan peristiwa itu.

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Si walikota = buruk rupa, cermin dibelah

Si bupati = wajarlah, dulunya emang anak manja berlagak mafia dan tidak tau adat, apa2 disediakan, kebiasaan memaksakan kehendak, mendapatkan segala sesuatu dengan tidak wajar, hidup jadi benalu dibawah nama besar keluarga, dll...

jenderal mengatakan...

wah, ini berita lama tapi baru..

soale saya baru dengan soal ini, komentar2 yang terucap dari kepala daerah itu apakah benar seperti itu ??

ckckckck

Gita P Djausal mengatakan...

mas yang anonim tampak ada dendam tersendiri :D indeed, i agree with your word.

Jeli: bener kok jel, bisa dilihat di video-nya. aku cek ulang sebelum ngetiknya kok, mengkonfirmasi fakta dan isu. *gaya*