Rabu, 19 Oktober 2011

Sesuatu Menggelitik


Ketika kita melintas di jalan yang melewati desa atau perkampungan, sering membuat merindu. Suasana itu mampu menggiring kita dalam keterasingan. Apa yang membuat mereka menjadi asing? Karena mereka memiliki bangunan rumah yang berbeda, cara berpakaian yang berbeda. Membuat kita merindu akan kenangan.

Kota yang kita tinggali seperti mengalami perubahan sebagaimana mestinya. Tidak pernah terlibat khusus dalam perbincangan atau perdebatan terkait sejarah perkembangan perkotaan. Yang terasa sekarang, perubahan terjadi karena pergantian pemimpin, entah dalam aspek atau wilayah manapun.

Secara global, banyak orang memberi pandangan bagaimana suatu perkembangan di negara akan mempengaruhi negara yang lainnya. Dalam teknologi, hal itu yang mempermudah kita untuk mengakses informasi, apapun informasi yang kita butuhkan. Dengan begitu, sudah sepatutnya kita lebih pandai dari generasi kita sebelumnya.

Masihkah kita hendak bertanya pada yang tua?

Perjalanan bulan ini, mendorongku untuk memiliki perbincangan dengan orang yang hidup di bukan daerah perkotaan besar. Sekedar menanyakan kabar, berbasa-basi. Kesederhanaan yang mereka miliki menjadi ketertarikan tersendiri. Kalaupun tidak sederhana, selalu menyenangkan mendengarkan cerita yang berbeda dengan pengalaman kita.

Seorang bapak tinggal di tepian danau, ia tinggal bersama keluarganya. Mereka tinggal di rumah kayu. Tanamnya ditata dengan rajin, penuh dengan bunga. Tidak berlebihan. Secukupnya saja. Ketika aku hendak ke kamar mandi, aku melintasi ruang keluarganya. Beberapa anggota keluarganya sedang menonton televisi dan televisinya layar datar yang berukuran besar! Luar biasa.

Aku pun kemudian bertanya tentang aktivitas yang dia kerjakan. Dia menceritakan dengan kerendahan hatinya tentang keramba ikan yang dia miliki. Tempatnya dulu bukan rumah yang sekarang dia tempat. Dia bilang, "Makanya saya bilang rumah ini rumah ikan karena hasil dari ikan itulah saya bisa bikin rumah ini.". Hasil panen ikannya berton-ton, satu kilogram ikan nila itu memiliki harga jual sekitar Rp. 25.000, tergantung harga di pasar. Ketika ramadhan tiba, panen terkadang tidak sesuai dengan berat ikan ideal. Itu berarti dengan kehidupan yang seperti dia jalani mampu menghidupi keluarganya.

Kalau aku tidak bertanya? Tahukah aku tentang kisah itu?

Kadang membuat terpikir, mungkin itu salah satu peluang yang patut dicoba, berternak ikan. Kalaupun memang iya hendak dilakukan, sepertinya saya harus belajar banyak. Tiap dari kita memiliki kisahnya sendiri. Mungkin kalau kita mendengar lebih banyak, kita bisa belajar lebih banyak.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

sebenernya berbisnis apapun asal ada niat, ikhtiar & fokus serta pintar membaca peluang tentu akan membuahkan hasil, termasuk usaha di bidang perikanan, bkn krn gw oknum perikanan y? he2 tp betul gw aja ngerasa punya tanggung jawab ilmu yg hrs diaplikasikan, tentunya melihat sisi komersialitas jg. so...mw buka usaha apa qt git? xixi

Gita P Djausal mengatakan...

hmm...

usaha apa dong yang baiknya? :p

emang paling enak ngerjain sesuai dengan ilmu yang kita miliki.
bentar, ini dian apa tirza nih? soalnya ga ada namanya...