Minggu, 14 Agustus 2011

Sakit itu Kekal

Pernah sakit hati? Pernah menyakiti perasaan seseorang atau banyak orang? Tentu tahu kalau sakit itu tidak pernah menyenangkan. Jangankan sakit hati, sakit gigi juga bisa membuat orang mau jungkir balik buat menghilangkan sakitnya.

Kalau memang pernah sakit, sudah lupakah pada sakitnya?

Banyak orang bilang kalau sakit itu harus diobati supaya sembuh. Benar. Lukanya sembuh; tidak ada lagi darah mengalir, tidak lagi terasa sakit di bagian luka. Saya cuma mau bilang kalau terkadang kita masih mengingat rasa sakit itu, selalu.

Dulu, saya pernah tersengat ubur-ubur api. Ketika itu rasanya ingin membuang rasa sakit itu jauh-jauh. Sampai saya ingin pergi ke rumah sakit terdekat agar bisa dilakukan sesuatu sehingga rasa sakit itu hilang. Pada akhirnya, obatnya hanyalah minyak goreng panas yang menjadi media kompres pada bengkak di kaki saya. Sekarang, saya masih ingat rasanya seperti apa. Rasa gatal yang menggila, panas yang membakar, mengganggu titik nyaman hingga sulit tersenyum.

Sepintas seperti orang yang putus dari pacarnya, sakit hati. Kemudian dia tidak ingin merasakan sakit hati karena pacar. Gara-gara itu dia tidak mau lagi menjalin percintaan, menghindari masalah. Walau ada juga yang memilih untuk mengurangi rasa sakit tiap jalinan yang dia bentuk, dia berusaha memperbaiki keadaan.

Saat kita berinteraksi dengan orang-orang yang kita kenal baik dan memiliki kecenderungan untuk berinteraksi sangat lama dengan orang tersebut, hindarilah konflik. Ini satu cerita yang sulit untuk dibagi, namun ini juga merupakan proses pembelajaran bagi saya dalam menghargai manusia.

Ketika berkonflik, terlibat dua atau lebih pihak. Konflik ini terjadi bisa karena pendapat atau prinsip yang berbeda. Misalnya, Ayam dan Bebek* berniat untuk bertemu di suatu tempat pada jam tertentu. Si Ayam, datang lebih dulu 30 menit dari waktu yang disepakati. Lalu, si Bebek datang satu jam setelah waktu kesepakatan. Ketika bertemu, mereka berkelahi. Mempermasalahkan kedatangan yang telat dan lebih awal, waktu yang ditentukan, kekesalan ketika menunggu dan juga kekhawatiran ketika menuju tempat. Akhirnya, mereka kelelahan berdebat dan bersitegang. Mereka meninggalkan tempat itu.

Secara sederhana, konflik itu bisa terjadi ketika kita melemahkan kemampuan kita untuk mengerti. Harusnya Ayam ingat bahwa Bebek memiliki kesulitan untuk muncul tepat waktu. Bisa saja diingatkan lebih dulu atau dibanding bertemu di tempat lain, lebih baik menjemputnya di tempat Bebek berada. Kalau Ayam tidak melakukan pencegahan, Bebek juga bisa memberi pilihan untuk Ayam agar tidak mudah bosan ketika menunggu, dipilihkan tempat yang menarik atau tempat yang juga dikunjungi oleh teman Ayam. Di saat Bebek kelelahan mengejar waktu agar tiba di saat yang tepat, Ayam juga kelelahan menunggu di tempat yang sama. Mereka berdua kelelahan dan mereka menyerah untuk mengerti.

Seperti orang pada umumnya, Ayam dan Bebek hanya menjadi mereka. Hal yang terjadi pula pada diri kita, kita ingin dihargai sebagi diri kita sendiri. Ayam memiliki alasannya sendiri, Bebek juga. Tidak ada yang salah, yang menilai hal itu benar atau tidak, kalau mau adil, biarkan Allah yang menilai. Kalau tidak mau sampai seberat itu, kecuali ujian, ulangan, atau keuntungan perusahaan, yang namanya salah itu relatif.

Di suatu kondisi, saya mengenal baik dua individu. Kedua dari mereka tersakiti hatinya. Entah mengapa Satu begitu kukuh dengan pendiriannya dan menunjukkan kesalahan yang menurutnya dilakukan Dua. Satu membuat perbuatannya terekam di dalam memori berjejak dan teringat. Dua, hanya berusaha menjadi orang yang manusia. Menghargai adanya orang lain, siapapun itu. Tindakan itu yang tidak disukai oleh satu. Baginya, hal itu menyalahi prinsipnya.

Siapa yang memaksakan apa atas hal yang ada? Satu harusnya bisa mendengar dan berusaha memahami apa yang dia lakukan, dan sebaliknya juga Dua. Dengan harapan, Satu dan Dua mampu menghargai keputusan yang masing-masing ambil, bukan bermusuhan. Seperti hal yang terjadi pada Ayam dan Bebek. Satu membuat luka pada hati Dua mengekal, ketika ada rekaman tidak sekedar memori, sesuatu untuk disentuh. Rekaman itu yang mampu membangkitkan memori sakitnya ketika itu pertama kali terjadi.

Sedih rasanya. Sakit pertama sudah mengajarkan bahwa hidup itu penuh rasa. Ditambah, ada sesuatu yang dapat dengan mudah mengangkat ingatan akan sakit yang kemudian itu terasa begitu nyata. Sakit kesekian tentang sakit pertama. Sakit terepetisi.

Mungkin saya pernah menyakiti seseorang begitu dalam sehingga diapun sulit untuk menyimpan ingatan itu di tempat yang terlupakan. Saya minta maaf jika itu terjadi padanya, sungguh. Kisah-kisah yang diceritakan oleh orang-orang terdekat mengajarkanku bahwa rasa sakit itu kekal, terekam dengan baik dalam ingatan.

Catatan kali ini: hargai manusia.


* Ayam dan Bebek bukan dimaksudkan hewan, sekedar penamaan belaka.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

hidup sakit gigi... ouww yeaahh!!