Minggu, 01 Mei 2011

Mungkin

Rasanya perih kalau orang yang paling dipercaya tidak mau mempercayai apa yang aku lakukan. Dengan cepat topik pembicaraan dibelokkan. Sungguh mematahkan hati. Tidak bolehkah aku menjadi diriku sendiri?

Peringatan yang tidak terlalu dini patut disampaikan. Tulisan ini kuketik dalam keadaan hormon tinggi. Suasana berlebihan dan pikiran menggila cenderung akan muncul.

Aku sadar atas segala yang aku lakukan. Dengan kesadaran itu juga aku memilih segala konsekuensi yang muncul. Buah pikiran selalu muncul. Kadang aku merasa seperti orang penuh ketakutan dan kehati-hatian. Semua pikiran tidak langsung dinyatakan kepada orang lain, namun ditahan dalam putaran. Disalurkan pada pelampiasan yang memungkinkan, seperti menuliskannya dalam rangkaian atau berbagi kepada teman.

Pemilihan kata dan pernyataan kalimat seringkali diberi analisis tambahan olehku. Mungkin alasan utama adalah pengisi waktu luang. Alasan lainnya, tidak memiliki pekerjaan lain, terhipnotis oleh kata, atau beranggapan kemungkinan selalu ada. Dari kata atau kalimat yang terucap oleh orang lain, memunculkan pikiran dengan segala kemungkinan yang bisa kupikirkan. Sangat menyeramkan. Kalau pikiran mampu membunuh, aku takut sekali aku terbunuh oleh kata-kataku sendiri.

Satu waktu, aku ingin berbagi tentang keraguanku dan reaksiku mengenai satu hal kepada salah seorang yang kupercaya. Dan hal itu ditolaknya mentah-mentah. Dia ganti topik pembicaraannya. Aku hanya bisa terdiam. Aku tahu kenapa dia mengganti topiknya, aku juga masih bisa berpikir. Dia berharap aku bisa melupa. Dengan menekankan topik tertentu, dia berharap telah mengingatkanku atas apa yang dia anggap penting dan patut.

Dulu, seingatku, ketika dia dalam penuh keraguan, aku pernah bilang, "Apapun yang lo putuskan, gue tetep temen lo. Apapun itu, sebaiknya lo pertimbangkan dengan baik dan tidak boleh ada penyesalan sedikitpun di masa depan." Kondisi itu terjadi ketika dia berada dalam kesepakatan bersama pihak-pihak lain.

Lalu, siapakah dia yang mampu membatasi apa yang terjadi di dalam diri? Apakah dia mencoba memberikan jalan pintas? Tuhan pun begitu adil, Dia memberikan kebebasan terhadap manusia untuk berbuat. Perbuatan yang baik dan buruk telah Dia sampaikan, manusia hanya perlu melakukan mana yang ia lakukan karena semua penghargaan dan balasan akan dilakukan di hari kiamat.

Aku juga tidak cukup berani mengembalikan pembicaraan yang aku inginkan. Aku tidak merasa ada alasan yang tepat bagi dirinya. Hal yang dibicarakan adalah hal-hal yang aku alami. Jelas sulit dimengerti oleh dirinya yang tidak berada di dalam pikiranku. Entah aku perlu dimengerti atau tidak.

Kalau dia membunuh pikiranku, berarti dia membunuhku. Kalau secara nyata, aku pun masih hidup. Maka, bisa saja aku telah dianggap mati oleh pikirannya. Itu berarti aku sudah tidak layak lagi menjalani kehidupan yang bersinggungan dengannya.

Maukah kamu menggunakan kalimat yang sama untukku? Aku butuh proses ini. Aku perlu menjalani hal ini tanpa ada rasa ragu dan penyesalan di masa datang. Ini aku yang menjalaninya. Ini prosesku.

Aku, saat ini, masih menginginkan segala kemungkinan.

4 komentar:

kudiarto mengatakan...

kadang memang menyakitkan ketika sesuatu yang kita lakukan apa itu tindakan apa itu pilihan tidak dikehendaki oleh mereka, sama kayak gue git, jalan hidup gue begitu wa..ka..ka... (kok gue jadi curcol) tapi dengan keteguhan hati dan niat yang kuat yah gue pilih ajah jalan atau pilihan gue yang udah gue perhitungkan dengan benar, meski semua teriak, gue nekat jalani, baik dan buruk, benar dan salah keputusan ada dikita, toh jikapun salah bukan berarti kita langsung kalah, salah belum tentu kalah.

okeh mari kita tersenyum :D

Gita P Djausal mengatakan...

tersenyum....

Semua terjadi atas alasan. Kalau demi kebaikan, tidak boleh ada yang menghalangi.

Jaman kuliah aja, ada temen gue minjemin HP ke temennya yang baru jadian karena HP temennya lagi rusak. Alasannya, "TIdak boleh ada yang menghalangi cinta".

Pada akhirnya, selama kita yakin atas diri kita. Itu yang baik untuk dijalani. Kalau sendirian menjalaninya, ga masalah. Tapi mungkin akan terasa lebih ringan dan menyenangkan kalau ada yang mendukungnya :D

semangat!

mita mengatakan...

Ya..aku mengerti..terkadang aku juga mengalami hal demikian. Banyak orang salah tangkap, atau mungkin memang menghindar karena malas berpikir.. Hmmm...

Gita P Djausal mengatakan...

suka nyebelin ya mit?
hehehe.. gapapa.. namanya juga hidup. kadang ada yang baik, kadang ada juga yang sulit.