Jumat, 20 Mei 2011

Komunikasi yang Baik

Dulu, waktu kuliah, saya punya teman yang sering sekali ,mengucapkan kata maaf. Dia mengucapkannya dengan sungguh. Justru itu yang membuat kesal rasanya. Kenapa dia harus meminta maaf, selalu?


Maaf adalah salah satu kata yang katanya sulit diucapkan oleh orang pada kebanyakan*. Maaf juga berarti ada suatu kesalahan yang dilakukan kepada orang lain oleh seseorang. Itu memang harus dinyatakan, atas alasan yang tepat dan orang yang juga harus sangat tepat. Saya pun patut mengucapkan maaf kepada orang yang telah saya ganggu ketenangannya.

Sebelum ada maaf, tentunya ada kejadian. Bisa saja kejadian itu secara disengaja dilakukan dan ternyata menyebabkan respon yang tidak sesuai harapan, perasaan orang tersakiti. Misalnya, teman saya (yang lain lagi) pernah hendak menyampaikan kesulitannya dalam suatu acara kampus dan dengan santainya saya memilih kata-kata yang bermakna tajam. Kata-kata saya membuat dia langsung berdiri dari tempat duduknya dan melangkah keluar ruangan. Saya berlari mengejarnya. Saya meminta maaf. Kemudian saya jelaskan mengapa saya memilih kata-kata itu dan saya juga sadari bahwa intonasi yang saya pilih tidak tepat dengan kondisi dia saat itu. Sampai sekarang kami masih berteman.

Ada juga kejadian yang tidak disengaja. Kita tidak tahu apa yang salah terjadi. Seketika lawan bicara kita memberikan respon yang sepertinya dia marah atau kecewa. Dalam kondisi normal, kita harus segera meminta maaf.

Kadang saya tidak menginginkan maaf. Saya lebih suka kalau orang lain mengerti benar mengapa saya memilih untuk memberi respon negatif terhadap interaksi yang terjadi. Saya pernah menjadi orang yang sangat menyebalkan, saya mengabaikan perasaan orang lain. Mungkin maaf sudah tidak ada pengaruhnya. Saya hanya bisa berusaha untuk mengurangi kebiasaan saya dan memasang penuh senyum.

Lebaran tahun lalu, saya mengundang teman SMA untuk hadir di rumah. Bersilaturahmi, mengenang masa lalu, dan menikmati waktu bersama. Ada beberapa dari mereka yang belum pernah banyak berbincang bersama. Seperti mengenal orang yang baru, padahal mereka sudah lama kita kenal.

Ini lebih sulit dibanding dengan orang yang kita baru kenal. Dengan orang yang masih asing, kita biasanya sudah memiliki batasan, secara otomatis demi kebaikan sosial, apa yang masih wajar untuk dibagi. Kalau dengan orang lama tapi interaksi baru. Itu yang unik. Kita merasa memiliki kedekatan yang berbeda tapi ketidaktahuan yang banyak.

Ketika lebaran itu, ada teman saya yang muncul pertama dan sangat tepat waktu. Selama SMA, kita tidak pernah satu kelas. Hal yang saya ingat dan tahu adalah dia teman sekelas ketika SD dan pernah menjadi pacar dari dua teman saya. Saya pun bingung harus memilih kalimat basa-basi untuk memecah kejanggalan sampai teman yang lain hadir.


Watch and learn. Ketika cukup ramai, saya banyak berinteraksi dengan orang yang memiliki kecenderungan menguasai pembicaraan. Kemudian melihat respon dan interaksi tiap dari teman-teman saya. Itu yang kemudian membuat semuanya berjalan dengan baik saja.

Kadang kita mendengar kisah seorang teman dari cerita orang lain. Si itu gini, yang satu lagi begitu, dan siapa itu begini. Orang tua dari teman dekat dari si itu ternyata adalah orang yang dikenal oleh salah satu anggota keluarga. Ternyata istri siapa pernah berjumpa dimana dan kita pernah berbincang panjang lebar. Kita bisa tahu kalau yang satu lagi kuliah dimana karena temannya pernah cerita ketika bertemu di pusat keramaian. Memusingkan. Semacam gosip tapi itu sekedar dari upaya pengumpulan informasi. Berbekal informasi ini juga yang membantu kita untuk memiliki buah perbincangan yang aman. Kita pun harus bijak memilih informasi yang tepat kita pilih sebagai dasar informasi seseorang. Jangan penuhi pikiran dengan asumsi, cukup kenali dengan baik orang yang kita kenal.

Layaknya komunikasi yang baik, komunikator memilih media untuk menyampaikan pesan kepada komunikan yang kemudian akan memberikan timbal baik. Jika komunikasi yang baik terjadi, maka timbal balik ini akan sesuai dengan tujuan komunikasi tersebut. Jika tidak, berarti saya, anda, dia atau mereka adalah komunikator yang buruk.

Kembali ke perihal maaf. Sebelum meminta maaf kepada orang lain, sebaiknya kita tahu bahwa kita telah mengetahui apa yang salah. Beri waktu sejenak buat kita sendiri untuk memahami hal yang terjadi. Dengan begitu, kita bisa memahami orang lain. Jika maaf diperlukan, maka ucapkan dengan tulus. Jika sekedar konfirmasi dan klarifikasi yang diiringi kata maaf, tidak ada salahnya. Kalau dalam tujuan berkomunikasi tidak pernah menginginkan maaf dilibatkan, jangan.

Kalau sekedar maaf, semua orang pasti bisa memberi. Maaf bukan sesuatu yang dapat diukur dengan alat tukar uang yang digunakan dalam kehidupan ekonomi. Jangan membuat maaf itu suatu hal yang ada harganya, murahan. Urusan horisontal, antar manusia, hal yang sangat duniawi. Manusia bisa juga dengan keterbatasannya tidak semudah itu memberikan maaf, maka mintalah kepada Yang Pemaaf. Hiduplah dengan penuh ikhlas, permudah hidup. Nikmati hidup.



* Kata lain yang juga sulit diucapkan adalah tolong dan terima kasih. Satu hal yang sering dilupakan adalah tersenyum.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

remember everything, forgive nothing...