Rabu, 18 Mei 2011

Kalau Memang Berjodoh

Hari tadi, saya berjumpa dengan seseorang yang hanya beberapa tahun lebih tua dari saya dan memiliki suami yang umurnya dua kali lipat dari umurnya saat ini. Seperti umur antara bapak dan anak. Itu satu kisah tentang jodoh.

Saya jadi terpikir. Dengan ketulusan yang mereka miliki, harusnya itu juga yang dimiliki setiap pasangan suami-istri. Kalau kata mama saya, "Soal cinta aja kok dipersulit". Sederhana aja, jangan ditambahi bumbu yang tidak perlu. Kalau memang jodohnya, harus dilanggengkan jalannya. Teman saya dulu berslogan, "Tidak boleh ada yang menghalangi cinta".

Teman dekat saya lagi dilanda kegalauan. Saya sedih kalau dia terbebani banyak pikiran, seringkali dia menjadi sangat sulit tidur. Padahal, pada kondisi normal, dia adalah ratu tidur. Sebisa mungkin memiliki waktu tidur siang. Agak rancu. Biasanya anak kecil diminta untuk istirahat siang karena membantu proses regenerasi atau pertumbuhan mereka. Entah untuk apa tujuan tidur siang teman saya itu.

Kegalauan dia disebabkan oleh seorang pria, sebut saja Timon*. Keraguan muncul atas suatu hal yang terjadi pada dirinya. Dia ingin sesuatu yang teateritikal. Timon mendatangi teman saya dan mereka akan berbincang serius. Dalam perbincangan itu, ada satu adegan dimana Timon akan mengonfrontasi pemicu masalah di antara mereka berdua. Dia akan merasa puas jika itu terjadi. Itu akan menjadi titik dimana dia akan melangkah berikutnya.

Apakah pertemuan itu akan benar menyelesaikan masalahnya? Kalau memang sesederhana itu, kenapa teman saya harus sampai sulit tidur? Jika pasangan melandasi interaksi mereka dengan kepercayaan, berarti itu yang dibutuhkan. Lalu jika pertemuan itu menjadi sangat krusial dalam pembentukan kepercayaan? Saya bingung.

"Dia tampak tidak ambil pusing dengan masalah ini", seru temanku.

Kalau saya sungguh cinta pada seseorang, apa yang penting baginya adalah penting bagi saya. Dengan respon Timon yang sepertinya tidak menghargai perasaan teman saya, rasanya tidak adil. Mungkin teman saya juga terbawa emosi. Entah. Bisa juga ini adalah proses yang mereka harus lalui.

Saya hanya berharap teman saya sungguh tahu apa yang dia mau. Harus tahu betul apa yang dia rasakan. Keraguan boleh hadir tapi seiring waktu harus terus dipenuhi dengan keyakinan akan hal-hal baik. Apapun yang saya sarankan, toh, pada akhirnya teman saya yang memutuskan dan menjalaninya.

Kebaikan untuk semua orang yang berusaha. Harus!


*Terinspirasi Lion King

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Yah tidur siang itu hanya sekedar membunuh waktu hahahahaha,,

Teman, merelakan Timon pergi butuh proses dan waktu,,mungkin kalo masalahnya bukanlah dikarenakan itu, akan lebih mudah merelakannya, ingin sekali berpikir secara logika, tapi apa daya, perasaan masih menguasai pemikiran,,,

Gita P Djausal mengatakan...

Memang harus menumbuhkan perasaan yang lebih bijak. Ambil waktu yang diperlukan tapi jangan terlena.

Yang penting adalah teman saya. Apapun yang dia lakukan. Semoga itu dengan penuh rasa percaya dan keberanian. I always be her friend .

Tidak boleh ada penyesalan. Apapun keputusannya. * Big HUG

mita mengatakan...

jadi inget chattingan kemaren..ada yang berharap untuk berjodoh..

Anonim mengatakan...

penyesalan pasti ada,,, tapi yang pasti semua harus tetap berjalan seperti biasanya,,,

*warm HUGS