Selasa, 19 April 2011

Terorisme

Berat rasanya berbicara soal terorisme. Mungkin gara-gara post ini, saya bisa masuk dalam daftar orang yang patut dicurigai. Semoga saya sebelum dimasukkan dalam daftar, para penyelidik menyempatkan diri untuk membaca blog saya. Jadi, traffic blog saya pun bertambah. *Informasi tambahan yang tidak penting sama sekali*

Pada 15 April 2011, terjadi bom bunuh diri di Cirebon. Bukan sembarang bom. Pelaku memilih tempat kejadian di Masjid Adz Zikro, Mapolresta Cirebon. Jemaahnya tentu kebanyakan berasal dari kepolisian. Ketika saya dengar kabar ini, dianggap sebagai angin lalu.

Agak malam, saya meng-klik berita-berita di media elektronik. Ada satu artikel yang memunculkan pendapat dari tokoh politik. Tiba-tiba saya pun tersadar. Bener juga, ini bisa kita anggap bukan sekedar bom penyebar teror. Lebih dari itu. Tempat pengeboman mewakili sesuatu. Kenapa Cirebon?


Saya tidak tahu kenapa Cirebon yang dipilih.

Kalau saya sepatutnya menggunakan ilmu yang pernah saya pelajari dengan baik, topik ini bisa menjadi diskusi berkepanjangan tanpa makna yang benar-benar memberikan solusi. Untungnya, saya hanya ingin menuangkan secercah celetuk pikiran saya. Secara awam, terorisme itu adalah apapun yang menyebarkan teror. Tidak perlu ditambah -isme juga sudah cukup menyeramkan. Itu berbicara soal terornya. Teror dari bom ini apa? Siapa yang terkena efek teror?

Hubungan sosial di masyarakat Indonesia terasa penuh kepercayaan dan kekeluargaan. Didukung dengan sila pertama dari Pancasila yang merupakan dasar negara Indonesia yang berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa. Tampak percaya dan yakin akan keberadaan Tuhan dalam hidup bernegara. Peledakan bom tersebut terjadi di dalam masjid, yang merupakan rumah ibadah bagi umat Islam. Bom meledak ketika takbir dilafazkan. Siapa orang ini? Seakan memperjelas bahwa orang tersebut tidak layak memegang kewarganegaraan Indonesia dan tidak memiliki keyakinan akan Tuhan dan ibadah.

Kembali lagi, kemana efek teror ini? Kemanapun teror ini tersebar berarti orang tersebut patut disebut teroris. Dia telah berhasil menyebarkan teror. Ini mendorong agar kita lebih waspada terhadap lingkungan sekitar kita. Terorisme dapat menargetkan siapapun, dengan satu kondisi: teror tersebar. Sialnya, kejadian kemarin berada dalam lingkungan jemaah kepolisian. Efek teror semakin besar. Lembaga yang dapat menjadi cerminan pengamanan masyarakat pun dapat berada di dalam kondisi terancam. Kejadian itu begitu melecehkan.

Kalau saya adalah orang yang sering kentut dan kentut saya bau. Maka, pertama kali saya kentut di hadapan orang yang baru saya kenal adalah peringatan pertama bahwa teror akan terjadi. Teror kentut bau. Bisa saja, orang-orang menjauhi saya dan mengucilkan saya agar tidak menyebarkan teror itu lagi. Atau ada yang baik hati dan menjadi pengawas makanan saya agar saya mengurangi makanan yang dapat menimbulkan bau busuk.

Pada akhirnya, saya juga menjadi bingung arah tulisan saya kali ini. Antara bom paku dan bom kentut sulit dipisahkan pembahasannya. Yang pasti, kita harus lebih waspada di manapun kita berada karena bahaya selalu ada.

Tidak ada komentar: