Senin, 25 April 2011

Pahlawan Terhebat: Mama

Namanya juga pahlawan, hanya orang terhebat yang bisa jadi pahlawan. Kalau dalam cerita fiksi, pahlawan mengalahkan para penjahat bertopeng. Pahlawan menumpas kejahatan dan memenangkan kebaikan. Dalam hidup nyata, saya percaya pada penyebar kebaikan sebagai pahlawan.

Pahlawan dalam hidup saya adalah Mama saya, Herawati Soekardi.

Sosok ibu atau orang tua perempuan sepatutnya memperoleh penghargaan atas hidup lebih banyak. Dengan caranya yang istimewa, dia mampu mendorong kita, sang anak, merasakan kenyamanan. Dengan keibuan yang dia miliki mampu membuat kita tenang menghadapi penyakit yang sedang kita alami. Atas kelebihan dan kekurangan yang kita miliki, dia masih akan berkata, "Semua anak mama istimewa".

Waktu saya kecil, saya selalu bahagia. Tidak pernah kelaparan dan tidak pernah tersiksa. Makanan saya sederhana saja, sayur sop. Biar keren, vegetable soup. Kadang saya makan tidak habis karena saya kenyang atau malas makan saja. Lalu saya bilang, "Mam, aku ga habis." Mamapun menjawab, "Ya udah, ga apa-apa." Saya juga pernah, kok, mendengar cerita tentang nasi yang menangis karena dibuang tidak dihabiskan. Karena saya tidak kena marah, keesokan harinya saya dengan bahagia memakan nasi saya. Setidaknya itu yang saya ingat, saya selalu bahagia ketika makan.

Di lain waktu, saya sering kesal karena ada anak kecil begitu aktif dan kurang sopan santun ketika dia bertamu bersama orang tuanya. Pernah juga orang tua seakan menelantarkan anak dan sibuk berdiskusi dengan rekannya. Atau juga orang tua yang memarahi anaknya di depan orang asing. Itu yang membuat saya bertanya, "Dulu waktu aku kecil, kayak gitu ga sih, Mam? Kok kayaknya waktu kecil tenang-tenang aja". Kemudian mama mengatakan kalau anak mama tidak ada yang seperti itu. Waktu kami kecil, sebelum bertamu ke tempat orang, dia akan membuat perut anaknya kenyang. Ditambah dengan pesan dengan nada ultimatum, kalau nanti di rumah orang lain, ambil kuenya satu saja. Kalau misalnya kami masih sangat ingin memakan kue itu, diperbolehkan mengambil satu lagi. Itu semua harus cukup, tidak boleh lebih. Dengan begitu, mama tidak akan repot dan tidak perlu memperingatkan anaknya di depan orang lain. Damai bertamu. Tentu saja, tidak boleh bertamu terlalu lama kalau membawa anak kecil.

Belakangan ini, saya sempat berbincang dengan teman saya. Dia cerita kalau dia dari dulu sering membeli bakso di tempat itu bersama keluarga. Atau sekedar mencari makan malam ataupun gorengan. Saya bingung. Kok? Kenapa saya baru rajin ke tempat seperti itu ketika saya sudah sering bermain bersama teman? Dan untuk mengklarifikasi kebingungan saya, saya bertanya tentang mengapa kami tidak terbiasa jajan di luar rumah seperti orang lain. Dengan santainya, "Soalnya mama juga ga yakin sama minyak yang dipakai sama tukang gorengan. Atau bahan makanan yang dipakai orang-orang yang jualan." Untuk makan pagi, memang biasanya sudah tersedia sereal dan susu, juga roti dan selai kesukaan masing-masing anaknya. Itu menjadi pilihan ketika dia belum menyelesaikan masakan pagi. Ketika sore, sebelum saya bermain sepeda keliling perumahan, akan ada pisang goreng hangat yang disajikan di atas meja. Untuk menambah kenikmatan, mama akan mengoleskan mentega dan menaburkan meisis atau parutan keju. Agar lebih menggoda selera, pisang itu pun dipotong ukuran kecil, supaya mudah dimakan. Senang rasanya perut kenyang dan kemudian bermain.


Setelah perut kenyang, ini hanya sepenggal kisah yang saya bisa ceritakan mengenai pahlawan saya. Bagaimana pahlawan saya menanamkan nilai-nilai bagi keluarganya melalui makanan. Dia mengajarkan untuk mengambil makanan seperlunya dan semampunya dimakan. Dia akan memasakkan makanan terenak di rumahnya supaya semua anggota keluarganya tahu kalau rumahnya adalah hal terbaik. Ketika mengajarkan nilai pada anak, persiapkan. Semua orang akan bahagia, tersenyum dan damai ketika perut mereka terpenuhi dengan baik. Sedia makanan sebelum kacau.

Terima kasih, Mam.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Bravo untuk sang Mama...