Kamis, 24 Maret 2011

Isu Hijau

Beberapa hari belakangan ini saya berinteraksi dengan penggiat isu lingkungan. Kalau Anda sekalian ingin menganggap mereka atau anda sendiri sebagai penggiat lingkungan, saya tidak keberatan. Perbincangan panjang lebar soal pengalaman lebih banyak dan aspek lingkungan sesekali ketika topik perbincangan sedang mengarah ke wacana yang tepat.

Berada dalam perbincangan itu, membuat saya berpikir (lagi dan kembali), kenapa orang harus begitu gembar gembor soal isu hijau?

Masyarakat yang berada di perkotaan begitu panik tentang cara memperbaiki kehidupan yang lebih bertanggung jawab kepada lingkungan. Masyarakat yang berada di pedesaan selalu panik dengan hasil produksi yang tidak sesuai dengan waktu pemenuhan kebutuhan, seperti membayar keperluan pendidikan atau lainnya. Kalau hal di perkotaan dan di pedesaan dipersatukan, maka a perfect combination.

Maksudnya begini, waktu dulu saya pernah heboh mencari cara bagaimana mengolah sampah rumah tangga. Samapi akhirnya saya menemukan artikel tentang kotak takakura. Itupun tidak sepenuhnya saya adopsi. Kalau benar mau menerapkan isu hijau, maka saya pun harus mempertimbangkan pengeluaran yang akan saya putuskan untuk melakukan percobaan dan pelaksanaan hal ini. Karena semua intinya adalah pertanggungjawaban. Saya tidak mencari keranjang plastik yang harganya lebih dari lima ribu rupiah. Saya lihat ada karung bekas, inti pertama adalah memiliki wadah berongga. Hal lain diikuti dengan modifikasi sesuai dengan prinsip utamanya.

Kemudian di lain waktu, saya menjadi tamu tak diundang di suatu pertemuan masyarakat petani. Mereka adalah perwakilan petani padi, kopi, dan coklat. Selain pembicaraan teknisnya, saya melihat salah satu poin dalam kertas yang sedang disampaikan ada kata 'pupuk organik'. Saya bertanya pada salah satu orang yang memang anggota rapat. Dengan mudahnya dia menjabarkan beberapa metode yang bisa dilakukan untuk memperoleh pupuk organik dan skenario lainnya dalam penanganan secara biologis. Mendorong saya ingin mengikuti pelatihan. Sayangnya, pelatihan dilakukan 2 minggu sekali sebanyak 12 kali pertemuan dan waktu tempuh minimal satu jam, itu pun sudah lintas kota. Itu artinya, mereka tidak perlu memakai alasan pemasan global untuk melakukan pembuatan pupuk organik. Mereka hanya melakukan tersebut sebagai hal yang baik dilakukan demi pertanian mereka.

Kadang kita tidak perlu seheboh itu. Seakan-akan sebagian dari kita telah melupakan yang sepatutnya dilestarikan. Sampah organik bisa diurai. Jadi, tidak perlu memiliki tempat sampah yang besar untuk memuat semua sampah. Sebagian yang bisa membusuk atau diurai, lempar saja ke tanah. Supaya tidak menimbulkan bau, tanahnya dibuat lubang dan ditutup secara bertahap setelah sampah dibuang. Kalau tidak ada lahan tanah yang cukup luas, maka pilih metode lain yang bisa kita lakukan, seperti kotak takakura atau kotak cacing atau apa saja yang bisa membantu penguraian sampah organik. Ada banyak cara, kita tinggal pilih yang dapat kita lakukan. Lalu, apakah kita memilih metode akrab lingkungan hanya alasan pengangkatan isu oleh media? Atau memang kita memilih untuk menjalani hal itu secara sadar?

Ada pula yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasinya. Itu bagus. Kita patut menghargai pilihannya. Yang biasa bersepeda puluhan tahun, memiliki keinginan besar untuk berkendaraan motor. Yang berkendaraan motor, melirik sepeda sebagai kendaraannya. Lucu. Bisa pilih satu atau harus pilih dua-duanya?

2 komentar:

Anonim mengatakan...

... dan pada akhirnya gaya hidup hijau tidak lebih dari sekedar pilihan saja... ada yg ber-ideologi hijau tulen, ada yg hijau setengah2, ada yg hijau latah karena lagi trend, dan ada yg tidak sadar hijau sama sekali...

saya mau mencoba mengingatkan lagi kalau manusia dikodratkan sebagai perusak alam... para pelestari alam itu hanyalah mereka2 yg sadar saja, mungkin jumlahnya hanya sedikit. setiap orang beriman idealnya merupakan seorang pelestari alam, karena kewajiban melestarikan alam diajarkan dalam agama... agama bertujuan untuk mengendalikan sifat manusia yg korup/rakus.

sanggupkah kita mengendalikan sifat kita sebagai insan perusak?

-salam rimba-

Gita P Djausal mengatakan...

saya lebih suka kalau hidup itu harus berprinsip. kalau agama digunakan sebagai prinsip, lebih baik.

Kalau sudah berkomitmen mengurangi konsumsi yg menghasilkan sampah anorganik, ya konsisten. kalaupun tetap ada sampah anorganik yg dihasilkan harus memiliki alasan dan melakukan kompensasi atas tindakannya.

Semuanya, menurut saya kembali pada kesadaran tiap orang atas hal yg dia lakukan. Melakukan hal hijau bukan karena sekedar tapi secara sadar atas kepentingannya untuk bertanggung jawab atas tindakan.