Senin, 07 Februari 2011

Penghargaan untuk Tamu

Ketika kita menyelenggarakan suatu acara yang mengundang orang lain untuk hadir. Sudah dapat dipastikan bahwa kita memiliki ketergantungan kepada kehadiran para tamu di acara kita. Penghargaan atas tamu sepatutnya dilakukan semestinya. Tamu datang, kita senang. Mereka kenyang, hati senang.

Ini terkhususkan pada undangan pesta perayaan pernikahan, lebih tepatnya kebanyakan pesta yang saya datangi di Bandar Lampung. Syarat utama ketika mengundang adalah usahakan memulai acara tepat waktu. Ini penghargaan bagi yang mengundang dan juga para tamu yang datang.

Mama saya pernah bilang,
"Kalau kalian jadi calon pengantin nanti, bangun harus lebih pagi. Langsung mandi, dandan dan pakai baju yang bagus. Tiap tamu yang datang ke rumah ini pasti ingin ketemu calon pengantin."
Petuah itu dia dapatkan dari Mami-nya yang saya panggil, Mbah Putri.

Amanah yang pasti adalah saya harus bangun pagi. Itu berarti memulai hari lebih dulu dibanding orang lain pada umumnya. Berpenampilan menarik supaya hal itu menjadi pembeda antara calon pengantin dengan gadis-gadis lain dan atau dengan para tamu yang datang. Hal itu juga bisa kita anggap sebagai suatu kesiapan dari calon pengantin. Penghargaan bagi para tamu, apalagi kalau tamu adalah keluarga dari jauh, bahwa perjalanan mereka sepadan dengan acara saudara yang hendak mereka ramaikan.

Menjadi pengantin memang seperti menjadi Raja dan Permaisuri dalam sehari. Pengantin laki-laki dan perempuan didudukan di tempat yang sepadan singgasana kerajaan lengkap dengan rangkaian bunga nan megah. Tiap dari tamu bergiliran, berduyun-duyun, satu per satu menghampiri untuk sebuah jabatan tangan.

Namun, menjadi Raja dan Permaisuri bukan perkara mudah. Mereka harus tampil sempurna. Baju yang digunakan telah dipersiapkan jauh hari. Runut acara telah ditentukan agar kekhidmatan prosesi begitu terasa. Hiburan telah ditentukan. Dominasi warna disesuaikan dengan kegemarannya.

Rakyat lebih mudah merasa kecewa. Mereka tidak punya banyak waktu karena harus berbagi dengan setiap orang yang datang. Kekaguman mereka akan kemegahan akan tergantikan oleh tangisan anak yang mulai bosan karena terlalu lama berada di tempat yang sama. Atau karena rasa lapar dengan gemuruh perut karena buru-buru berangkat agar tiba tepat waktu. Bisa saja, mereka dikejar ketergesaan atas kegiatan setelah pesta, menjual hasil pertanian sebagai sumber pendapatan. Mungkin. Mereka tidak lagi menikmati pesta yang telah dipersiapkan oleh Raja-Permaisuri.


Para tamu sudah datang lebih awal, berharap dapat melihat pasangan pengantin yang memukau. Ternyata, yang terlihat hanya kursi-kursi kosong yang dihiasi rangkaian bunga dan dekorasi megah. Dimana mereka? Tiga puluh menit berlalu. Basa basi dengan teman yang sedari tadi juga menunggu telah menjadi basi. Kemana lagi perhatian harus dituju? Empat puluh menit berlalu, perut mulai lapar. Pesan singkat mulai bertubi. Kemana yang menjadi pengundang acara?

Tak lama, datang rombongan. Acara dibuka dengan membosankan. Pembawa acara menyambut dengan kata-kata yang terartikulasi dengan jelas dan per suku kata. Membiarkan detik berlalu terasa lama. Benarkah hari ini telah mereka persiapkan sejak lama?

Tidak ada komentar: