Jumat, 26 Maret 2010

Sepatu

Kecil kemungkinannya kita menggunakan sepatu hanya satu buah. Kita membutuhkannya sepasang, 2 buah sepatu. Salah satu alasan yang menjadikan satuan bagi sepatu adalah pasang.

Aku tidak membutuhkan 2 buah sepatu yang sama persis. Aku butuh sesuatu yang berbeda tapi sama.

Itu pas.

Teman terdekatku pernah bilang, ketika kita berpegangan tangan akan terasa pas dan itu menyenangkan.

Minggu, 21 Maret 2010

Pernikahan Seorang Teman

Temanku menikah.

Keraguan-keraguannya di hari-hari menjelang pernikahan telah menguatkan hatinya. Ia menikah dengan pria yang ia pilih menajdi suaminya dan telah memilihnya menjadi istri. Aku mengharapkan kebahagiaan bertambah dalam hidupnya, selalu.

Sebelum harinya, sering aku mendengar cerita tentang baju pengantin, gedung pesta, souvenir, dan hal-hal lainnya. Bukan itu yang penting. Yang penting adalah hari setelah itu, kehidupan yang akan dia bina.

Pikiran untuk mengajaknya menghabiskan waktu bersama sebaiknya dipertimbangkan lebih matang. Sejak 1999, sebenarnya, kita memang tidak pernah tinggal di kota yang sama. Pertemuan dengannya di masa datang akan lebih berharga dari sebelumnya. Alasan aku untuk mengunjungi kota yang dia tinggali sekarang pun semakin berkurang.

Semoga kebahagiaan dan kebijakan selalu berada dalam hidupnya.

Apa yang akan terjadi pada pertemanan kami? Tidak ada. Tidak ada satupun yang berkurang. Justru bertambah. Suaminya pun menjadi temanku. Tali silaturahmi telah dibukakan dan diperpanjang.

Suatu waktu aku berkata,
"Aku iri padamu karena kamu akan menikah."

Aku hanya berharap waktuku pun akan tiba. Segera. Ketika Tuhan mengizinkanku.

Sabtu, 20 Maret 2010

Melangkah ke Depan

Ada dua hal yang sedikit mengganjal dalam fase hidup saya di dunia akademisi yang baru saja terselesaikan urusannya. Pertama, bagi saya, nilai sidang akhir saya yang tidak super memuaskan. Kedua, waktu studi saya yang terlalu lama membuat saya tidak mendapatkan status cum laude.

Lalu, APA PENTINGNYA SEMUA ITU?
Tidak ada.

Yang penting adalah kehidupan setelah itu akan dijalani seperti apa. Saya juga tahu dan paham hal tersebut. Namun, saya hanyalah manusia biasa. Rasa kesal masih saja hadir dalam diri.

Nilai akhir sidang akhir saya, hanya memerlukan 2 poin lagi untuk mendapatkan sebuah huruf A. Nilai yang saya peroleh adalah AB. Layaknya golongan darah yang saya miliki. Keesokan hari setelah sidang, saya baru sadar. Saya memang tidak boleh memperoleh A karena bisa saja saya menjadi pongah.

Ketidaksempurnaan nilai sidang saya adalah pelajaran bagi saya. Saya adalah manusia. Saya tidak sempurna. Saya masih harus terus belajar mengenai kehidupan ini. Saya tidak diizinkan untuk cepat puas atas hal yang telah saya lakukan.

Bersyukurlah saya mendapatkan nilai itu.

Ketika saya sedang mengurus perihal administrasi. Sang petugas berkata,
"Mbak tidak mendapatkan cum laude karena melewati masa belajar 21 bulan. Sayang sekali, padahal nilainya bagus."
Kesal rasanya harus ada orang lain yang menyatakan tersebut. Mungkin tanpa sadar, saya menganggap itu suatu kegagalan. Mengapa hal itu harus disebutkan orang lain? Padahal seharusnya saya tahu sendiri apa yang terjadi pada diri saya. Saya kurang membuka mata. Saya kekurangan kesadaran untuk mengetahui keberadaan saya sendiri.

Rasa itu menghantui.

Kalau saya merasa kalah, maka saya bodoh. Saya telah berhasil menyelesaikan proses yang harus dijalani dalam jenjang pendidikan ini. Kalau saya merasa menang, maka saya tidak mengakui bahwa ada kelalaian dalam proses ini. Saya lupa menghitung waktu dengan tepat.

Semoga saya tidak mengulangi kelalaian saya.

Rabu, 10 Maret 2010

Mari Kita Bersosialisasi!

Saya bingung. Bagaimana sesungguhnya jalan terbaik untuk menanggapi pandangan sosial terhadap diri. Saya akui bahwa sosial yang ada di sekitar kita penuh dengan subyektivitas. Saya pun memiliki pendapat sendiri atas individu yang saya kenal.

Untungnya, saya memiliki teman-teman luar biasa. Kadang saya tidak habis pikir bagaimana teman sekolah saya bisa bertahan ketika itu dan sampai sekarang pun mereka masih berteman dengan saya. Ketika SMA, sangat mudah bagi saya menyandang gelar orang tergalak di kelas atau suara paling menggelegar. Mungkin sebagian dari mereka ada yang sakit hati akan keberadaan saya, andaikan saja mereka menyatakan hal itu, saya ingin meminta maaf.

Sampai pada satu titik dalam hidup saya, terlintas pikiran, Kalau memang pandangan orang lain terhadap saya terasa menyakitkan berarti saya tidak boleh melakukan itu kepada orang lain. Penghargaan manusia terhadap manusia lainnya adalah cara manusia memanusiakan manusia. Sepertinya bahasa saya terlalu memutar-mutar.

Tugas manusia adalah memanusiakan manusia-douwes dekker-*

Maka, saya sadari bahwa pandangan subyektif saya dapat melukai orang lain. Layaknya pepatah, Mulutmu harimaumu. Jika kita terlalu cepat menyatakan pandangan kita tanpa memiliki konfirmasi yang cukup, maka kita telah membunuh karakter orang tersebut. Misalnya, saya dikenalkan teman saya dengan seseorang, ketika itu dia banyak diam dan tampak merenung. Bisa saja saya berpendapat, Ini orang menyebalkan sekali! Tidak bersahabat sekali!. Beberapa hari kemudian, saya baru tahu bahwa hari itu hewan peliharaannya meninggal dan teman saya berusaha menghibur temannya ketika itu.

Kita harus bersyukur kalau pendapat orang lain terhadap diri adalah hal-hal baik. Berarti kita didoakan untuk menjadi pribadi yang baik. Namun, bagaimana jika kata-kata yang terucap oleh orang lain tersebut adalah hal-hal buruk.

Bagi saya, jika orang tersebut menyatakan kepada saya hal buruk tersebut secara langsung dan berharap saya dapat merubahnya, saya akan berterima kasih. Bagaimana kalau mereka hanya bersuara jika kita tidak ada, secara kasar, mereka bergunjing. Apa yang harus kita lakukan?

Cara terbaik, lupakan saja itu. Seberapa penting pendapat orang lain dalam jalan hidup kita? Toh, yang penentu akhir adalah kita. Kita yang menentukan apa yang ingin kita jalani dalam hidup ini.

Sejauh ini, saya mencoba mengenal orang lebih baik. Atau mengenal orang yang baik-baiknya saja. Keburukan mereka bukan untuk dicemoohkan. Mungkin akan lebih baik jika keburukan orang lain adalah sumber pembelajaran kita terbaik agar kita lebih baik. Semoga kebaikan kita akan semakin meluas.


* saya agak tidak yakin kalau ini benar pernyataan beliau.