Rabu, 10 Maret 2010

Mari Kita Bersosialisasi!

Saya bingung. Bagaimana sesungguhnya jalan terbaik untuk menanggapi pandangan sosial terhadap diri. Saya akui bahwa sosial yang ada di sekitar kita penuh dengan subyektivitas. Saya pun memiliki pendapat sendiri atas individu yang saya kenal.

Untungnya, saya memiliki teman-teman luar biasa. Kadang saya tidak habis pikir bagaimana teman sekolah saya bisa bertahan ketika itu dan sampai sekarang pun mereka masih berteman dengan saya. Ketika SMA, sangat mudah bagi saya menyandang gelar orang tergalak di kelas atau suara paling menggelegar. Mungkin sebagian dari mereka ada yang sakit hati akan keberadaan saya, andaikan saja mereka menyatakan hal itu, saya ingin meminta maaf.

Sampai pada satu titik dalam hidup saya, terlintas pikiran, Kalau memang pandangan orang lain terhadap saya terasa menyakitkan berarti saya tidak boleh melakukan itu kepada orang lain. Penghargaan manusia terhadap manusia lainnya adalah cara manusia memanusiakan manusia. Sepertinya bahasa saya terlalu memutar-mutar.

Tugas manusia adalah memanusiakan manusia-douwes dekker-*

Maka, saya sadari bahwa pandangan subyektif saya dapat melukai orang lain. Layaknya pepatah, Mulutmu harimaumu. Jika kita terlalu cepat menyatakan pandangan kita tanpa memiliki konfirmasi yang cukup, maka kita telah membunuh karakter orang tersebut. Misalnya, saya dikenalkan teman saya dengan seseorang, ketika itu dia banyak diam dan tampak merenung. Bisa saja saya berpendapat, Ini orang menyebalkan sekali! Tidak bersahabat sekali!. Beberapa hari kemudian, saya baru tahu bahwa hari itu hewan peliharaannya meninggal dan teman saya berusaha menghibur temannya ketika itu.

Kita harus bersyukur kalau pendapat orang lain terhadap diri adalah hal-hal baik. Berarti kita didoakan untuk menjadi pribadi yang baik. Namun, bagaimana jika kata-kata yang terucap oleh orang lain tersebut adalah hal-hal buruk.

Bagi saya, jika orang tersebut menyatakan kepada saya hal buruk tersebut secara langsung dan berharap saya dapat merubahnya, saya akan berterima kasih. Bagaimana kalau mereka hanya bersuara jika kita tidak ada, secara kasar, mereka bergunjing. Apa yang harus kita lakukan?

Cara terbaik, lupakan saja itu. Seberapa penting pendapat orang lain dalam jalan hidup kita? Toh, yang penentu akhir adalah kita. Kita yang menentukan apa yang ingin kita jalani dalam hidup ini.

Sejauh ini, saya mencoba mengenal orang lebih baik. Atau mengenal orang yang baik-baiknya saja. Keburukan mereka bukan untuk dicemoohkan. Mungkin akan lebih baik jika keburukan orang lain adalah sumber pembelajaran kita terbaik agar kita lebih baik. Semoga kebaikan kita akan semakin meluas.


* saya agak tidak yakin kalau ini benar pernyataan beliau.

4 komentar:

akashiroo mengatakan...

"Tugas manusia adalah menjadi manusia", Douwes Dekker.

"Pendidikan adalah proses memanusiakan kembali manusia", Paulo Freire.

"Nguwongke Wong", falsafah jawa.

Kenapa kita sulit sekali mengatur manusia? Jawabnya, karena manusia adalah manusia.

Tapi apa yang membedakan manusia dengan manusia lainnya?
CMIIW...
Manusia menggunakan potensi akal, nafsu, dan hati nuraninya secara seimbang. sedangkan manusia lainnya hanya parsial saja menggunakan potensinya.

Gita P Djausal mengatakan...

Saya tidak berpendapat apapun tentang mengatur manusia. Saya tidak pernah ingin diatur oleh siapapun di dunia ini.

Namun, terima kasih telah mampir dan berpendapat atas tulisan saya :D

Ariana Hayyulia mengatakan...

sial.. aku udah nulis komen panjang lebar, taunya eror..

Gita P Djausal mengatakan...

ayo nana...

ketik lagi!
jangan patah arang!