Jumat, 10 Desember 2010

Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran


Judul buku ini menggelitik sekali, Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran. Kata Insiden Anjing dibuat dengan huruf kapital dan berukuran lebih besar dibanding kata lainnya, begitu membuat perhatian tertuju. Kata Anjing, memang mengartikan hewan, namun bisa saja orang berasumsi bahwa itu adalah umpatan terhadap hal-hal menyebalkan. Bahkan, ketika aku membuka kata anjing di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, banyak hal disebutkan. Seperti anjing ditepuk menjungkit ekor, yang berarti orang hina (bodoh, miskin dsb) kalau mendapat kebesaran menjadi sombong. Yang berarti, kata anjing bisa mewakili beberapa konsep. Untuk tahu lebih jelas, kita harus membacanya dulu.

Aku menemukan buku ini di rak perpustakaan Sekolah Alam Lampung, tempat aku bekerja. Penulisnya adalah Mark Haddon. Aku belum pernah membaca karyanya sebelumnya, namanya tidak familiar. Agak kaget karena asumsi pertama yang muncul di kepala ketika melihat kata anjing pada buku ini, "Serius dulu nih. Buku apaan nih kok bisa ada di sini?". Aku pikir buku ini seperti buku-buku beberapa penulis Indonesia yang sering menggunakan hal yang masih dianggap tabu oleh kebanyakan masyarakat Indonesia sebagai topik. Warnanya yang juga shocking pink seperti sangat meminta perhatian untuk dibaca. Untungnya, buku ini baik-baik saja.

Buku ini benar-benar tentang sebuah insiden. Insidennya tentang kematian seekor anjing di tengah malam sehingga itu membuat si tokoh utama sungguh penasaran. Titik awal penasaran dia adalah siapa yang membunuh anjing itu. Ini menarik. Judul buku ini begitu lugas dan jelas menyatakan apa yang menjadi penyebab utama buku ini hadir. Bahkan, praduga-praduga tentang isi buku ini tidak perlu dihadirkan karena buku ini menjelaskan apapun yang dipertanyakan dan ditemukan oleh si tokoh utama. Apapun.

Penerjemah buku ini, Hendarto Setiadi, memberikan penjelasan di akhir buku. Ini juga yang patut diperhatikan. Bahwa dalam proses penerjemahan buku ini, pemilihan kata dan susunan kata amat diperhatikan. Kelengkapan kalimat yang terdiri dari S-P-O-K, diperhatikan dengan baik. Pemilihan kata diperhatikan, jangan sampai kata-kata yang dipilih memiliki makna kata yang tidak diinginkan dalam pencitraan tokoh utama.

Cerita dalam buku ini menjadi sangat menarik ketika kita dibuat penulis paham jalan pikiran tokoh utama, si Christopher Boone. Christoper menyandang Sindrom Asperger, sejenis autisme. Karena itu, dia memiliki kepintaran yang lebih dari orang kebanyakan. Semua yang dia lakukan atas dasar logika yang jelas, setidaknya keteraturan yang jelas. Keteraturan ini ditentukan olehnya. Seperti, dia suka sekali bilangan prima. Dengan begitu, penomoran adegan dalam buku diurutkan atas bilangan prima. Salah satu istilah yang saya suka yang juga baru saya dapatkan dari buku ini adalah simile. Christoper tidak suka terhadap metafora, maka dia akan menggunakan simile untuk menggambarkan kejadian.

Selain menikmati ceritanya yang begitu menginspirasi. Buku ini, menurutku, juga memberikan kita contoh interaksi dengan anak yang memiliki keistimewaan. Kadang, bukan anak-anak itu yang berbeda, hanya kita saja yang tidak membuka ruang pengertian. Ini tergambarkan di dalam cara Ayah Christoper menanganinya dan bagaimana kisah balik Ibu Christoper ketika dulu dia berhadapan dengan Christoper.

Menyenangkan sekali membaca buku ini. Terinspirasi menjadi orang yang super smart. Namun, sulit sekali membuang kebiasaan yang pemalas ini.

Lalu? Kemana perginya si anjing? Bagaimana kalau aku memberikan waktu kepada kalian untuk membacanya supaya rasa penasarannya hilang? Setuju?

2 komentar:

jenderal mengatakan...

jadi ini buku cerita ??
kyke menarik... kisah nyata bukan??

Gita P Djausal mengatakan...

iya jel.. ini buku cerita.

klo kisah nyata apa bukan, gue jg ga tau deh. kyknya sih fiksi tp very sounds real.