Senin, 22 November 2010

Menyelesaikan Buku

"Gita, kamu harus baca buku ini! Sangat menginspirasi!"

Membaca sebuah buku tidak akan membunuhku, kan? Sudah lama aku melihat buku ini di rak-rak toko buku manapun. BEST SELLER. Aku belum pernah membelinya karena dulu harus bijak menggunakan uang (alias anak rantau) dan  masih ada buku lain yang menggoda. Atasanku menawarkan peminjaman buku ini.

Hal yang menarik dengan buku-buku novel para pengarang Indonesia belakangan ini adalah kisah yang mereka sampaikan terasa dekat dengan kehidupan yang mereka jalani. Aku sebagai pembaca kadang merasa bisa mengenal pribadi si pengarang. Ada beberapa tokoh fiksi dimunculkan untuk membuat cerita lebih menarik bagi pembacanya. Kadang, kita jadi penasaran siapakah tokoh ini sesungguhnya dalam kehidupan sang penulis?



Sebuah novel berjudul Negeri 5 Menara yang ditulis oleh A. Fuadi. Saya agak penasaran dengan inisial 'A'-nya ini. Apakah itu adalah A untuk Alif, seperti tokoh utama dalam novel ini atau A untuk Anwar, seperti artis sinetron yang terkenal atau bisa saja 'A' untuk nama lainnya. Mengisahkan seorang anak muda yang menjalani masa kehidupannya di sebuah Pondok Modern di Jawa Timur setelah lulus dari Sekolah Menengah Pertama. Ketaatan anak atas perintah dan permintaan orang tua. Perdebatan batin yang muncul di dalam jiwa anak muda. Pemahaman atas kehidupan manusia. Pengalaman hidup yang berbeda dengan yang aku pernah jalani.


Apa yang menarik dari novel ini? Tergantung yang membacanya. Tiap pembaca (khususnya aku sendiri) biasanya menempatkan dirinya sebagai tokoh pasif dalam alur cerita. Kita memilih tokoh yang paling dekat dengan diri kita atau yang paling kita idamkan sebagai pribadi. Bagiku, yang menarik adalah kehidupan sehari-hari seorang santri dalam pondok pesantren dan bagaimana pesantren dengan peraturan dan kelenturannya mendidik para santri melalui akhlak dan wawasan.

Salah satu yang paling menarik buatku adalah proses membacanya, pemilihan tempat membaca untuk menyelesaikan membaca novel ini. Berhari-hari buku ini bertengger di tas, selalu ikut kemanapun aku pergi. Dibacakah? Tidak juga. Menyebalkan rasanya. Sampai kapan aku harus membawa buku yang tidak pernah kubaca? Akhirnya aku memilih taman.


Punya buku yang bisa kupinjam?

Tidak ada komentar: