Senin, 06 September 2010

Sepulang

Aku berharap merasa bodoh adalah hal yang wajar bagi seorang manusia. Kesalahan kerap terjadi. Kekhilafan datang ketika kontrol diri menghilang. Keraguan datang dan menghalangi langkah kita, penyesalan pun datang menghantui.

Aku bersyukur atas kehidupan yang telah aku jalani. Tawa yang begitu menyenangkan. Senyuman yang menenangkan. Tangisan yang membasahi pipi. Hidup yang hidup.

Ketika aku kuliah, aku menikmati langkah kakiku sepanjang trotoar dan badan jalan yang dijejaki. Menikmati dedaunan yang berubah warna hingga menjadi gugur. Mencermati detil-detil jalanan dan kehidupan kecilnya. Terkadang terlintas, "Apa orang-orang yang di dalam kendaraan itu memperhatikan para pejalan kaki? Kalau iya, apa yang mereka lihat?"

Aktivitas yang satu membuat buah pikiran lain muncul. Semakin jauh jarak yang ditempuh, semakin panjang pula buah pikiran yang tercetus. Sebagian terekam, sebagian hanya menjadi angin lalu.

Ketika kita hidup dalam dunia sosial. Kita berhadapan dengan pribadi lain. Kita melakukan perkenalan dan interaksi. Untuk pribadi yang terbuka, perbincangan-perbincangan memunculkan kesimpulan atau ide-ide baru. Menyenangkan. Sepulang dari itu, pertanyaan-pertanyaan tak terjawab menjadi bekal perjalanan menuju rumah.

"Kamu kerja aja di Jakarta atau di luar negeri sekalian".
Haruskah? sudah sekitar 7 tahun aku merantau di pulau seberang. Kembali ke kampung halaman, ingin memberi sumbangsih kepadanya walau sedikit. Haruskah aku pergi? Atas alasan apa? Uang yang lebih besar masuk ke dalam rekening? Baju yang lebih bergaya menurut para fashionista? Atau ego yang tak terbendung? Aku ingin berada di sini, bersama keluarga terdekatku. Mengisi hatiku dengan penuh kasih sayang. Apakah itu berarti aku lemah?

Ketika terlintas pikiran, 'apakah aku lemah' hadir, aku telah meragukan diriku. Harusnya, jika aku kuat sesungguhnya, yang aku nyatakan adalah kalimat positif yang ditutup dengan tanda titik.

"Mbak terlalu picky kali. Makanya belum nikah juga"
Terdiam ketika mendengarnya. Pernyataan teman di sebelahku ini tetap harus dijawab. Namun, sepemilih itukah aku? Sampai-sampai keberadaan mereka sebagai individu ciptaan Tuhan yang sempurna, masih pula kukritik. Sejahat itukah aku kepada orang lain? Kalau benar aku sejahat itu, besar kemungkinannya orang lain juga tidak memilihku masuk ke dalam lingkaran hidupnya. Apa yang kita lakukan pada orang lain, terjadi pula pada diri kita. Bukankah begitu?

Sekarang aku penuh keraguan dan aku sadar akan sesuatu menghalangi langkahku. Aku bingung bagaimana caranya memperkuat hati dan pikiran. Tidak tahu caranya agar diri ini sendiri memberikan penyelesaian. Aku tidak ingin tenggelam terlalu lama. Aku harus ke permukaan menghirup oksigen dan melihat langit biru. Aku rindu hangatnya mentari.

3 komentar:

naya mengatakan...

aiii dahh ada yg curhat malem2 euy...xoxoxoxo....

liza mengatakan...

Gitaaaa...huks. tiba2 jadi pingin peluk kamuuu.. @_@
huhuhuhu.. >.<

Gita P Djausal mengatakan...

mia: bawel deh lo.. hihihi. maacih bu.

pauliz: peluk... *kok aku mencium nada2 aneh ya? hmm...