Selasa, 17 Agustus 2010

Esok Masih Ada

Suatu hari di perayaan ulang tahunku, beberapa tahun yang lalu, aku meminta teman-teman terdekatku melakukan sesuatu untukku. Aku undang mereka untuk hadir di tempat yang telah ditentukan pada jam tertentu dan sebuah cerita untuk dibagi. Aku tidak meminta mereka untuk menceritakan sesuatu yang penuh rahasia, hanya ingin mendengar kiasan tentang diri mereka.

Untuk diriku sendiri, seringkali aku mengandaikan sebagai sebuah buku yang bersampul depan merah dan sampul belakang berwarna hitam, cerita di dalamnya tidak pernah habis karena terus menerus ditulis. Merah dipilih karena berani. Aku cukup dikenal sebagai pribadi yang dengan berani untuk berekspresi. Hitam kupilih karena pikiran ini, keraguan-keraguan yang terus datang seringkali mengerubungi.

Teman terdekatku, mengandaikan dirinya sebagai kertas putih yang memberi ruang bagi tiap orang yang bersinggungan dalam hidupnya untuk menorehkan tinta. Dia memberikan kebebasan pada orang lain, termasuk saya, untuk menjadi diri sendiri dan membawa dia larut dalam kesenangan saya. Terkadang, ketika dia sendiri, dia akan membuang kertas penuh tinta dan kembali sebagai kertas putih kosong.

Hidup ini mengalir begitu saja. Seperti buku kosong yang menunggu kisah-kisah untuk diceritakan ataupun lembaran kertas putih yang menunggu torehan gambar. Rangkaian peristiwa terus terjadi mengisi waktu.

Apa yang terjadi pada diri kita, terjadi seperti seharusnya. Tidak berlebihan, tidak juga pernah kekurangan. Penyesalan pasti hadir, namun seringkali diiringi dengan kegembiraan penuh perayaan. Akankah kita tetap terus percaya hari esok hadir untuk kita?

Harapan. Bagi orang yang percaya, harapan itu selalu ada. Sekecil apapun, kemungkinan selalu hadir. Bagi saya, seorang muslim, kepastian hanya milik Allah SWT dan manusia dapat menjadikan suatu hal sebuah kepastian ketika hal tersebut terjadi pada saatnya.

Aku bisa saja menuliskan kisah dengan pensil. Sehingga, ketika waktunya tiba, aku bisa saja menghapusnya dengan mudah. Temanku juga bisa saja menorehkan lukisannya dan membiarkan orang lain melukis di sisi lainnya untuk mengikuti torehan yang telah dia buat.

Kita berencana penuh harapan agar tetap percaya akan datangnya hari esok.


Tuhan pun tahu hidup ini sangat berat
Tapi takdir pun tak mungkin selalu sama
Coba cobalah tinggalkan sejenak anganmu
Esok kan masih ada...
Esok kan masih ada...
Utha Likumahuwa - Esok Kan Masih Ada

6 komentar:

kudiarto mengatakan...

Ketidakpastian adalah hal yang pasti ha..ha... Sebaikbaiknya rencana pasti ada melesetnya, makanya kadang kita perlu beberapa rincian skenario untuk susun beberapa rencana cadangan. Ooh tentu hidup/waktu terus berjalan meski kita diam, pilihannya ikut melaju ato diam saja terlindas perubahaan..... Nice post sist!

dheaditya's mengatakan...

just live like there is no tomorrow, sweetfriend. :*

Gita P Djausal mengatakan...

kudiarto: hehe... thanks for reading my post :D

Dhej: life is too beautiful... everything have its own miracle :*

Anonim mengatakan...

esok masih ada, lusa, besok nya lagi dan terus... :)

wuih lama gak berkunjung, sejuk ya disini.. hijau menyala..

Gita P Djausal mengatakan...

masa depan lebih baik!
harus!

iya, kmaren baru nanem. untung aja sekarang pada udah seger tanemannya :D

Anonim mengatakan...

tinggal dijaga biar gak layu berarti ya..

:)