Kamis, 15 April 2010

Pengajian Sebelum Pernikahan

Dua bulan terakhir ini, dua orang teman terdekatku menikah. Aku sudah berpendapat mengenai hal itu bulan lalu. Aku berharap mereka menjadi pribadi yang lebih baik diirngi dengan kebijakan dan diwarnai oleh kehidupannya nanti.

Kedua temanku ini menjalani sebagian tradisi Sunda. Salah satunya, pengajian sebelum Akad Nikah. Aku belum pernah mengikuti acara seperti ini. Kedua kakakku dan saudara terdekat, menjalani adat Lampung.

Mengapa pengajian ini menarik perhatianku? Sederhana saja. Yang utama, aku belum pernah datang ke pengajian menjelang pernikahan. Sebagai tambahan, Ustadz atau Ustadzah membicarakan hal-hal baik demi masa depan calon pengantin.

Pelajaran pertama yang didapat adalah alasan seorang suami memilih istrinya. Ada empat alasan terpilihnya seorang perempuan menjadi istri.

Kecantikan.
Kekayaan.
Asal Usul.
Iman.


Kecantikan ini tidak semata-mata kecantikan fisik. Alangkah lebih baik jika sang perempuan juga memiliki kecantikan hati dan cantik budinya. Bagaimana dengan kekayaan? Apakah para calon suami harus mencari perempuan lajang keturunan bangsawan yang hartanya melimpah? Bukan begitu, tentunya. Kaya akan pengetahuan atau kaya akan kebijakan. Kalau memang sang perempuan memiliki harta kekayaan melimpah, alhamdulillah.
Asal usul. Bagaimana keluarganya? Ini sebetulnya untuk mengetahui latar belakang sang perempuan. Aku pun mnyadari bahwa keluarga adalah pengaruh terbesar dalam hidup seorang individu.
Yang utama adalah imannya. Dan seorang pria tidak boleh memilih perempuan sebagai istri hanya karena salah satu atau ketiga alasan diatas. Lihat imannya, baru yang lain melengkapi adanya.

Pelajaran kedua, aku mendapatkan arti tiap hurup dari kata ISTRI.

Iman/Islam
Saleh
Taat
Ridho
Ikhlas


Perempuan yang berimankan Islam dan saleh dalam menjalani kewajiban dan menjauhi larangan dalam agama. Taat kepada suami, selama hal tersebut tidak menentang ajaran agama. Ridho dan ikhlas dalam menjalani rumah tangga.

Aku rasa, menjadi istri merupakan kompromi luar biasa akan kehidupan yang akan dijalani dengan suami. Kompromi yang baik maka akan membuat individu dapat merefleksikan lima hal tersebut.

Sayangnya, aku hanya mendengarkan petuah untuk calon istri (yang sekarang mereka berdua telah menjadi istri). Luar biasa. Secara egois, aku bisa saja berpendapat kalau istri dibuat untuk menekan egoisnya. Bagaimana dia harus menjaga kehormatan keluarganya. Namun, jika para suami juga melakukan hal yang sama, kebaikan kepada istrinya. Indah rasanya.

Semoga.

Kebahagiaan dan kebijakan untuk seluruh pasangan suami-istri!!!

3 komentar:

Vini mengatakan...

:)
sebagai salah satu temanmu yg menikah...
terima kasih sudah mendengarkan dengan sebaik"nya nasihat sang ustad, dan juga terima kasih sudah merangkum dan menuliskannya ke dalam blogmu ini...
Love U G... :D

Gita P Djausal mengatakan...

Love you too!!!

hihihi...
petuah yang aku inget cuma itu doang.

terima kasih juga untuk semuanya V..

johan mengatakan...

bagus...
pemikiran yang patut diacungi jempol...

teruskan, penuhi dunia ini dengan pemikiran dan perbuatan...

ayoo...