Jumat, 16 April 2010

Ketika Presiden Meninggal Dunia

Presiden Polandia Tewas dalam Kecelakaan Pesawat.

Berita yang mengejutkan. Tidak dapat dipercaya.

Salah satu teman mengatakan, "Itu takdir. Namanya juga kecelakaan pesawat. Ada tayangan National Geographi tentang Kecelakaan pesawat terbang." Bukan kecelakaan yang aku pertanyakan. Sebuah negara, ditinggalkan oleh kepala negaranya?

Terdapat empat syarat berdirinya sebuah negara; rakyat, wilayah, pemerintahan, dan pengakuan internasional. Kalau terjadi bencana pada pemerintahan, bukankah akan mempengaruhi pengakuan internasional terhadap negara tersebut?

Aku tidak mengerti apapun tentang Polandia dan perkembangan yang terjadi. Seingatku, aku belum pernah kenal dengan orang berkebangsaan Polandia. Apa jadinya kalau aku adalah rakyat polandia. Presiden dan beberapa pejabat negara penting lainnya, tewas bersamaan. Siapa yang akan memimpin negara ini?

Teman saya yang lain berkata kalau peristiwa itu sepenuhnya kecelakaan, walau banyak konspirasi mengenai kemungkinan lainnya. Itu sangat mungkin terjadi. Siapa yang paling menginginkan kematian Presiden Polandia dan pejabat kenegaraan lainnya?

Bagaimana jika hal tersebut terjadi kepada Indonesia?

Jadi teringat ketika Presiden RI menyatakan ketakutannya atas ancaman pembunuhan dirinya di depan umum. Layakkah? Sebagai manusia, ketakutan dia adalah wajar. Tapi dia adalah Presiden RI, orang pertama Indonesia, menyatakan ketakutannya di depan umum terasa kurang layak.

Tidak habis pikir kalau Indonesia harus mendadak mengganti Presidennya. Tak terbayang jadinya. Dengan kekuatan massa yang dimiliki oleh Indonesia, kerusuhan dapat saja terjadi. Masing-masing massa menggiring calon pengganti yang mereka jagokan. Belum lagi, kebanyakan manusia Indonesia belum cukup berbesar hati untuk menerima kekalahan.

Pada akhirnya, ada untungnya Indonesia belum punya pesawat kenegaraan. Kalau Polandia saja selama 20 tahun menggunakan pesawat yang sama, alias tidak memperbaharuinya, apa kabar Indonesia? Bisa saja, demi menghemat anggaran dan mempertebal kantong, pesawat terbang yang dibeli adalah pesawat bekas. Jangankan mencapai angka 20 tahun. Bahaya juga kalau mencapai tahun kelima pesawat itu mengalami kerusakan yang cukup signifikan.

Tidak ada komentar: