Kamis, 18 Februari 2010

Masalah Plagiarisme

Hal ini menggelitik sekali.

Beberapa waktu yang lalu, teman terdekat saya bercerita. Diawali kalimat yang mengindikasi ada sesuatu yang tidak baik terjadi.
"Eh, kamu tau ga? Ada cerita baru tentang dosen kamu di HI Unpar."
Cerita dengan bumbu lain-lainnya pun mengalir.

Dosen di almamater saya adalah seorang plagiat.

Keplagiarismeannya pun menjadi perhatian masyarakat umum. Kenapa masyarakat umum sampai harus mengetahui itu? Salah satu alasannya adalah karena dia mempublikasikan artikel karyanya di media massa yang memungkinkan dibaca oleh banyak orang -seorang Indonesia atau orang dengan bangsa lainnya. Menyatakan pendapat melalui media massa, membuka ruang bagi dirinya untuk dikritik oleh setiap orang yang membacanya. Siapapun itu. Keorisinalitas karyanya diragukan dan terbukti, dia seorang plagiat.

Pendapat bagi masing-masing pribadi tentunya boleh berbeda.
'Sudahlah. Ngapain juga membahas keburukan orang lain.'
'Dia? Orang itu? Yang bener?'
'Tu orang udah sakit ya?
'Ga nyangka yah!'


Bagi saya, itu adalah kebodohan. Saya masih ingat. Saya dan dua orang teman saya lainnya setelah pertemuan pertama mata kuliah yang dia ajar, kita merasa bahwa kita salah jurusan. Gertakannya luar biasa. Dia bisa saja memainkan perannya sebagai dosen sebagai motor bagi mahasiswanya. Dulu, saya dan teman-teman saya selalu menyatakan bahwa dia adalah dosen realisme. Kalau dalam pendekatan Hubungan Internasional, maka yang kita bicarakan adalah negara sebagai aktor dan isu politik-keamanan menjadi isu utama, ekonomi sosial dan yang lainnya hanyalah pendukung semata. Topik yang sering menjadi diskusi, 'Mengapa negara A harus melakukan invasi ke negara B?' atau 'Kenapa negara H harus meningkatkan kekuatan militernya terkait dengan perkembangan persenjataan yg dikembangkan oleh negara Z?.' Harusnya, dia dapat memperhitungkan setiap aksi yang dia lakukan akan berakibat apa terhadap dirinya, ini ilmunya dia.

Dia pernah mengomentari tugas teman saya yang referensi bacaannya hanya kurang dari lima. Dia menyatakan hal itu di depan kelas. Seberapa kasar tindakannya itu? Lebih kasar lagi karena dia melakukan plagiarisme. Atas alasan apa dia melalukan itu?

Apapun yang menimpa dia saat ini. Pencabutan gelar atau pemecatan. Kita -dalam hal ini saya mengajak teman semua untuk berpendapat sama dengan saya- harus mengakui bahwa dia hanyalah seorang manusia. Manusia yang memiliki sedikit kelebihan dan banyak kekurangan. Kekhilafan seringkali hadir.

Bagaimanapun juga, dia pernah mengajari saya bagian dari ilmu yang saya miliki sekarang. Untuk itu, dia memiliki penghargaan dari saya. Saya juga percaya bahwa dia adalah pribadi yang luar biasa dengan memiliki kemampuan di atas rata-rata manusia Indonesia. Sayangnya, dia lupa untuk melihat ke bawah dan bercermin setiap harinya. Saya tidak habis pikir kenapa dia harus menjadi seorang plagiat.

Di salah satu media, dia menyatakan, 'Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga.' Dia mengakui bahwa dirinya salah. Dia sadar betul bahwa dia adalah manusia.

Ini merupakan potret kecil tentang dunia pendidikan Indonesia. Kalau seorang dosen tidak dapat memegang kata-katanya mengenai penolakan atas nama plagiarisme. Lalu, apa yang terjadi pada dunia pendidikan kita nantinya? Yang terpenting, kalau kita tidak menjadi percaya pada sistem pendidikan yang ada di Indonesia, kemana lagi kita harus percaya? Maka, tugas bagi kita untuk membangun Indonesia. Mari kita mulai dan jangan pernah berhenti!

1 komentar:

Rudra mengatakan...

Kadang ada keadaan-keadaan tertentu di dalam hidup kita yang mendorong kita melakukan kesalahan, entah karena alasan ekonomi, prestise atau yang lainnya. Efek yang mungkin ditimbulkan biasanya telah kita ketahui, tapi kita abaikan, hanya untuk alasan itu tadi. Ini adalah salah satu gambaran yang mungkin terjadi pada manusia saat dia lengah dan tergoda.