Kamis, 21 Januari 2010

Menangis karena Mainan

Aku menangis hingga tersedu sedan. Awal penyebabnya adalah rusaknya sebuah mobil-mobilan yang pernah aku beli ketika aku duduk di bangku Sekolah Dasar. Mobil-mobilan yang aku beli dengan uang tabunganku.


Kalau melihat secara sepintas. Semua orang bisa saja mengatakan aku bodoh atau mengada-ada. Itu hanya sekedar mainan. Benar adanya. Tidak pernah juga secara sengaja aku rawat.


Hanya saja, aku tidak bisa melupakan bahwa itu adalah mainan yang dulu amat aku idam-idamkan dan aku berusaha untuk mendapatkannya. Berkali-kali ke toko hanya untuk melihat sampai pada akhirnya membeli. Selain mobil satu itu, aku juga memiliki mobil-mobilan VW kodok lainnya yang bercorak warna-warni dan aku beli satu per satu. Koleksi itu pun semua sudah menjadi bangkai. Keponakanku perusak koleksiku.


Apakah aku hidup di masa lalu? Selalu teringat masa-masa lalu, seolah-olah kenangan di masa lalu menjadi pembenaran atas rasa yang kita miliki saat ini. Aku marah dalam kekinian atas dasar masa lampau. Seberapa adil aku atas diriku sendiri? Apa yang terjadi kini adalah kemarahan, bukanlah hal yang baik. Buat apa? Hanya atas dasar seonggok mainan berbahan dasar metal dan plastik yang dibuat sedemikian rupa menyerupai mobil VW.


Aku pun melampiaskannya kepada orang lain. Penguasaan diriku tidak berada dalam logika. Emosiku aku biarkan meraja dan keluar semaunya tanpa peduli dengan adanya orang lain. Ini bodoh. Bisa saja tanpa sadar aku menyakiti orang lain. Membuat aku lebih kesal lagi.


Dapatkah yang terjadi sekarang merusak masa lalu? Seharusnya tidak. Lalu kenapa aku harus menangis tersedu sedan dan bernada tinggi dengan orang lain yang tidak memiliki masa lalu yang sama dengan aku? Mereka tidak mengerti apa yang aku alami. Maka, aku sadar betul bahwa aku menjadi bodoh. Namun, aku juga tidak dapat memungkiri bahwa rasa kesal itu merajai hati dalam waktu kini.


Apa yang sesungguhnya terjadi? Apa yang sebaiknya terjadi?


Mungkin, dengan bijak aku harus dapat menjadikan masa lalu sebagai kenikmatan semata, menjaga pandangan melihat masa depan dan berpijak dalam kini.




Semoga.

1 komentar:

Ariana Hayyulia Rasyid mengatakan...

endingnya aku jadiin quote ya :)
aku taro di tumblr.