Senin, 04 Januari 2010

Melarang dan Kebersihan Tangan

Setiap kali saya mengisi bahan bakar di pompa bensin Pertamina. Ada 2 hal lain yang mengganjal. Beberapa kali saya mencoba memperhatikan. Dua hal tersebut selalu saja menggelitik.

Hal pertama, ada tiga larangan yang disampaikan oleh Pertamina, yaitu dilarang merokok/menyalakan api, dilarang menggunakan telepon genggam, dan dilarang menggunakan kamera/memotret. Saya sebetulnya mau menunjukkan dalam foto mengenai tanda ini tapi sayang, harus menghargai peraturan yang orang lain buat dong. Supaya kalau nanti saya membuat peraturan, orang lain juga akan mematuhinya.

Kalau mengenai larangan pertama wajar saja. Api bisa memicu kebakaran. Mengenai telepon genggam, dulu saya pernah mendengar bahwa sinyal dari telepon genggam dapat menyebabkan ledakan. Untungnya, saya juga menonton seri Mythbuster tentang breaking this myth. Sinyal dari telepon genggam ternyata tidak menyebabkan ledakan. Telepon genggam bisa saja menyebabkan ledakan jika pelaku peledakkan menggunakan itu sebagai pemicu ledakannya. Dalam hal ini, telepon genggam harus diberi perangkat tambahan. Jadi, tidak semudah itu telepon genggam dapat menyebabkan ledakan.

Peraturan yang ketiga, apa hubungannya? Seberapa menyakitkan menggunakan kamera di pom bensin? Bukannya kamera adalah alat perekam berupa gambar yang dapat digunakan demi kebaikan? Seperti pemberitaan atau publikasi dalam blog seperti ini. Foto kadang dibutuhkan untuk menunjukkan keberadaan secara fisik hal tersebut. Saya belum mengerti logika penentuan larangan tersebut.

Selain itu, penempatan larangan ini juga agak aneh. Mesin pompa diletakkan di antara dua tiang. Di tiang tersebut terdapat empat panel, menurut perkiraan, satu panelnya memiliki tinggi 1 m. Kurang lebih, diberi leveling 20-30 cm dari atas permukaan jalan. Larangan tersebut diletakkan di ujung atas panel kedua. Memberikan asumsi, larangan tersebut setinggi 2,2-2,3 m. Tinggi saya 158 cm, dengan anggapan itu tinggi normal perempuan Indonesia. Dengan begitu, tinggi pandangan saya berkisar di 150 cm. Berarti terdapat kesenjangan 70 cm dari titik pandangan normal saya. Sebagai konsekuensi jika saya tidak mengelilingkan pandangan saya, ungkin saya tidak pernah melihat tanda tersebut.

Seberapa penting peletakan tanda itu? Hal yang kemudian perlu dipertimbangkan adalah seberapa besar perusahaan ingin menyampaikan pesannya terhadap pelanggannya. Ini bukan ranah saya, hanya ingin berpendapat. Alangkah baiknya jika pesan atau promosi yang dilakukan berada pada bidang yang bersinggungan dengan konsumen yaitu, tinggi/jarak pandang.

Hal kedua adalah kebiasaan para penjaga/pengisi bahan bakar memegang uang dari konsumen dan memegang seluruhnya di genggaman tangannya. Bukankah itu sesuatu yang jorok? Uang adalah media transfer bakteri yang paling mudah karena uang digunakan sebagai alat barter. Saya belum pernah mendengar penelitian atau apapunlah itu tentang efek yang diterima oleh pekerja karena mereka memegang setumpuk uang seharian. Bagaimana kalau pekerja tersebut tidak memiliki kebiasaan cuci tangan sebelum melakukan aktivitas lainnya? Berarti perusahaan tersebut tidak menjamin kesehatan pekerjanya, dong. Hal ini menjadi hal terjorok yang harus dirubah.

Apa yang bisa dilakukan atas bakteri yang menempel pada uang sehingga mengurangi kemungkinan terganggunya kesehatan? Pertama, kita suruh saja bakteri tidak usah lagi hidup di dunia ini. Itu pilihan paling irrasional, mari kita lupakan pilihan pertama. Kedua, tidak usah lagi menggunakan uang kertas dan koin sebagai alat pembayaran. Ada bank juga yang bekerjasama untuk menggunakan kartu bayar. Kalau saya melihat di film-film produksi luar, jika mereka ingin mengisi bensin, beberapa tidak perlu dilayani oleh penjaga langsung karena pembyaran dilakukan dengan kartu. Ketiga, BBM gratis. Kalau untuk ini, usul saya bisa langsung ditolak oleh perusahaan. Keempat, desain ulang tempat penyimpanan uang, tidak lagi sekedar laci. Untuk ini, ada beberapa aspek harus dipertimbangkan.

Penyimpanan uang ini memiliki dua dimensi. Satu, sesuatu yang menempel dengan pekerja. Dua, sesuatu yang berjarak dengan pekerja tersebut. Tergantung dengan kebutuhan atau pertimbangan perusahaan terhadap kegiatan operasionalnya. Kalau Pertamina menginginkan minimnya pergerakan ketika berada di depan konsumen, maka tempat penyimpanan harus menempel di badan petugas. Dapat saja berupa tas pinggang dengan satu resleting. Kalau Pertamina cukup rajin menstimulasi karyawan lainnya atau memiliki reliable supplier yang dapat membuat tas modifikasi. Bisa-bisa ini justru mendukung kreativitas dalam pengembangan produk.

Atau malah ini dapat menjadi peluang bagi produsen sabun tangan untuk bekerjasama dengan Pertamina menangani tangan-tangan petugas berbakteri. Mulailah dengan mencuci tangan. Kita tidak tahu apa yang kita sentuh. Bahkan, teman terdekat saya pernah memarahi saya karena saya memegang pegangan escalator karena menurut dia, pegangan itu sudah dipegang oleh sekian banyak orang yang tidak jelas kehigienisannya.

Semoga. Semoga saja petugas itu tidak pernah sakit perut yang disebabkan oleh bakteri-bakteri yang bermukim di lembaran uang kertas kumal yang telah berpindah tangan berkali-kali.



Pertamina Blog Contest

3 komentar:

Anonim mengatakan...

kalo yg motonya org yg ga ngerti moto trus pake setingan auto n keluar deh si blitz nya gmn bu?

kalo tiap abis nrima duit kudu cuci tangan kian repotlah si penjaga spbu,alhasil ngantri lebih lama deh..kan dipegang jg spy cepet ngitung n ngasi kembalian..
jd,knp ga kita aja yg cuci tangan?

-bang roma-

nasrul akbar mengatakan...

kalau ga salah di salah satu SPBU di bandung udah ada yang naruh uangnya di tas pinggang deh git,tapi emang lebih banyak yang megang uangnya langsung di tangan sih...

kalau soal apakah blitz kamera bisa menjadi trigger buat menyalakan api atau tidak, gw ga tahu-menahu. yang gw tahu blitz bisa di pakai buat main buta-butaan mata sementara, nah mungkin pihak SPBUnya takut kalau-kalau ada pihak yang memakai blitznya buat membutakan sementara penjaga SPBU yang megang duit di tangan trus membawa kabur uang yang ada tersebut...

Gita P Djausal mengatakan...

alhamdulillah ada bang roma yang mau komentarin tulisan saya. makasih bang!

Ide bagus! emang perlu dibudayakan cuci tangan. sekalian membantu sosialisasi BI untuk merawat uang kertas rupiah.
tapi maksud saya sih, cuci tangannya setelah bertugas. asal dia dapat mengurangi kontak tangannya dengan anggota tubuh lainnya.

For nasrul,
emang ada srul tapi kayaknya itu tidak menjadi standar operasional mereka.

By the way,
penggunaan kamera dimaksudkan untuk penggunaan blitz ya? wah. saya kurang mengerti kalau begitu.
saya pikir larangan untuk mengambil foto di spbu