Sabtu, 05 Desember 2009

Kisah Jakarta (bagian 2)

Assalamualaikum
maaf mengganggu sebentar perjalanan anda
...
...
...


Andaikan saja aku dapat mengingat lagu yang lelaki kecil itu nyanyikan. Aku terenyuh. Mukanya bukan peminta tapi pejuang jalanan bagi hidupnya. Suaranya parau memunculkan imajinasi akan kehidupannya yang begitu keras yang terpaksa ia jalani. Dia menyanyi, dia menatap ke luar jendela.

Aku mengeluarkan selembar uang seribu rupiah dari kantong belakang. Aku berikan kepadanya. Entah kapan terakhir kali aku memberikan uang kepada orang yang tidak aku kenal.

Adik, maafkan jika aku berdosa pada dirimu. Tapi Tuhan, aku ingin dia segera mati agar dia tidak perlu terlalu lama menjalani hidup di dunia yang penuh perjuangan.

2 komentar:

jenderal mengatakan...

kalo ternyata, dia (sang bocah) melihat hidup ini tidak seperti ketika kita melihat nya gimana ??

jika bagi dia hidup dijalan adalah sebuah kebahagian ??

Anonim mengatakan...

Git.....ape hak lo minta Tuhan nyabut nyawa tu anak......
mungkin apa yg jd kata perjuangan buat kita. itu permainan yg menyenangkan buat die (who knows???)

dan bukannya mental2 baja itu hasil perjuangan hidup????

-Iqbal-