Sabtu, 07 November 2009

Pameran Jerry Aurum


Kadang kita memang perlu penyegaran terhadap rutinitas yang kita jalani. Tepat pada hari Minggu, 1 November 2009, aku memutuskan untuk "bermain" di jakarta. Alasan utama karena beberapa hari yang lalu melihat tayangan televisi yang membicarakan tentang pameran dan peluncuran buku oleh Jerry Aurum. Nama yang cukup familiar. (walau belum pernah berkenalan. hahaha.)

Ruang pamernya memang di tempat publik, jadi ramai selalu, baguslah. Menyenangkan dan membuat iri kalau karya foto seseorang dihargai dan dinikmati banyak orang. Dari sekian banyak orang, ada dua orang yang berbincang dan berada di sekitarku. Hal yang membuat gatal adalah perbincangannya.

"Fotonya biasa aja deh."
Iya. Ini sih cuma gara-gara yang difotonya orang terkenal.
"Bener. Fotonya biasa aja."

Dengan penuh segala penghormatan atas apresiasi orang-orang tersebut atas karya yang dipamerkan. Tetapi, pernahkah mereka berpikir bahwa meminta puluhan orang ternama untuk terekam dalam foto yang dipamerkan dan dijualbelikan dalam bentuk buku adalah hal yang tidak semua orang dapat lakukan? Apa jadinya kalau yang difoto adalah orang yang memiliki kamar sebagus para orang ternama itu (seperti foto nirina zubir, siapa sih yang ga punya sprei segala putih) tapi orang itu tidak dikenal secara luas? Bukunya susah deh dijualnya!

Kalau didalamnya ada orang ternama yang karyanya mereka (dalam bentuk musik, bisnis, atau yang lainnya) telah diakui secara luas, bisa jadi target pembeli bukunya adalah para fans-fans mereka yang belum pernah melihat ekspresi bebas (mungkin) sang idola di tempat nyamannya.

Lalu, bagaimana dengan pendapatku sendiri tentang pameran dan karya Jerry Aurum? Menyenangkan untuk dilihat. Namun, memang tidak sememuaskan itu. (Hal yang ditakutkan ketika mengkritik sesuatu adalah timbulnya rasa di dalam diri untuk membuat yang jauh lebih baik. Padahal diri masih begitu awam atas segala hal).

Penataan pameran fotonya menyulitkan aku, sebagai pengunjung, untuk mengetahui alur emosi dalam tiap foto. Menurut aku, tiap dari orang yang di dalam foto tersebut memiliki kepribadian yang berbeda-beda tapi bisa saja memiliki kemiripan di banyak hal. Nah, kalau aku lebih suka kalau itu ditata dalam satu ruas yang bisa dilihat bahwa hal tersebut disengaja. Misalnya, pengaturan disesuaikan dengan warna dominan dalam foto, apakah hitam putih atau merah atau apapunlah. Mungkin pertimbangannya peletakan foto pameran ini untuk membuat sirkulasi pengunjung lebih luwes atau mengalir sehingga tidak ada kepadatan yang mengganggu.

Kalau mengenai kemampuan teknis dan ketajaman intuisi dalam pengaturan komposisi dan sebagainya, pasti telah terlatih oleh pengalaman. Siapapun yang berkarya, aku mencoba untuk menghargai karya yang mereka ciptakan. Pematangan dari karya tersebut juga merupakan perjalanan sang artis (seniman) mengembangkan kemampuannya.

Salut unutuk Jerry Aurum. Semoga lima tahun mendatang saya juga bisa meluncurkan buku fotografi yang sarat akan budaya.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

KOk lima taun lagi Git......kelamaan...Jan '10 dah harus siap yah.....
(so jadi editor nih wkakakkakakaak)
-Iqbal-

Gita P Djausal mengatakan...

hehehe...

asal lo beneran nyiapin duit buat jadiin bukunya... gue sih santai..