Rabu, 30 Juli 2008

Kalau saja.

Kalau saja aku yang terpilih, cerita hari-hariku akan berbeda.

Aku memang tidak pernah menjatuhkan pikiranku sepenuhnya pada dirimu. Belum pula diri ini mencinta dirimu. Untungnya. Meringankan bebanku menjalani hari yang terkadang harus kulewati dengan melihat kebersamaanmu dengan dirinya. Sosokmu selalu hadir di sudut mata. Pada waktu sebelum hari ini, aku tahu, tahu bahwa hadirmu dalam hidup ini untuk memberiku impian dan cerita. Memberikanku kesejukkan hidup, menunjukkan kemungkinan cinta yang hadir dalam diri.

Aku masih beruntung (Bukankah kita semua yang masih bernafas harus bersyukur?).

Menyenangkan memang hidup sebagai orang Indonesia yang memegang prinsip, untungnya. apapun yang terjadi pun kita akan selalu mengambil hikmahnya. Walau menaruh hati pada seorang pria, tidak menjadi perempuan pilihannya pun masih harus bersyukur karena akan ada yang lebih baik di waktu mendatang. Kita harus tertawa. Bisa saja itu hanya berupa justifikasi alias pembenaran atas kenyataan yang terjadi.

kalau saja dirinya menjatuhkan pilihan pada diriku, aku sepertinya akan melepaskan pilihan itu untuk orang lain.

Sabtu, 12 Juli 2008

daun yang berguguran.

Pohon itu terus tumbuh. Akarnya yang semakin tertarik gravitasi untuk mencari sari-sari makanan. Daunnya yang memasakkan makanan untuk kehidupannya. Batanglah yang kemudian mengantarkan semua ke seluruh bagian dari pohon. Satu dan yang lain saling berhubungan, penuh dengan simbiosis.

Kalau saja hidup ini kita andaikan seperti kehidupan sebatang pohon. Beberapa hari yang lalu, daun di pohonku gugur semua. Kesedihan terasa begitu kuat hingga menggugurkannya. kita tidak pernah menyangka apa yang akan menghampiri kita. Hujan deras, panas terik, atau badai topan.

Aku kehilangan daunku. Badai menerpaku. Aku kehilangan salah satu teman terbaikku. Dia meninggal. Atas nama persahabatan, kugugurkan daunku.

Kisah tentangnya tersimpan di batang, yang tampak dalam guratan tahun dimana kita menghabiskan waktu bersama. Doaku untukmu. Sampai berjumpa lagi sahabat.

Kamis, 03 Juli 2008

ku lukai diriku dengan rasa

yang nyata sering kita anggap kesungguhannya akan kenyataan ketika itu benar memiliki fisik. siapa yang bisa menjelaskan tentang keberadaan si "enak" kalu keberadaannya barulah nyata ketika disandingkan dengan makanan.

aku tenggelam di dalam pikiran yang bergemuruh akan amarah. seperti tiba-tiba berada di tengah laut yang biru. sesak. belum juga terlihat sosok daratan yang terdekat. panik tapi tetap harus berjuang demi hari esok. karena harapan hanya akan mati ketika kita tidak lagi berpikir dan mati.