Rabu, 18 Agustus 2010

MERDEKA

Tepat pada 17 Agustus 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia mengumandangkan Proklamasi Kemerdekaan. Dikibarkannya Bendera Sang Saka Merah Putih. Bangga betul pastinya orang-orang di masa itu. Membusungkan dada dan berteriak dengan lantang, "MERDEKA!"


Enam puluh lima tahun kemudian, di tahun 2010, apa yang terjadi?


Iri sesungguhnya. Dulu, dalam bayanganku, orang-orang akan saling menyapa dengan menggunakan kata 'merdeka'. Kalau itu sekarang kita lakukan, rasanya janggal buat orang pada umumnya. Semangat kita tentu bisa terbakar hingga berkobar-kobar jika meneriakkan kata itu.


Mungkin itu yang salah. Kita tidak lagi fasih melafazkan merdeka.


Pepatah bilang, orang suka karena biasa. Kita sudah tidak terbiasa lagi menggaungkan merdeka. Kesadaran kita akan makna kemerdekaan tidak tersinggung sama sekali. Kita menjadi buta akan merdeka.


Orang-orang pun perlahan melupakan mengenai kemerdekaan dan teringat selalu dengan kenangan penjajahan. Kadang tidak pernah ingin percaya bahwa kita dijajah 350 tahun oleh bangsa lain. Mengapa kata jajah yang terpilih? Kenapa para sejarahwan kita tidak menceritakan bahwa selama itu kita berperang dan bertahan dari pengaruh dan serangan Belanda? Apakah sungguh kita membiarkan diri kita dijajah dan terjajah selama itu tanpa semangat membela tanah air?


Pikiran para pemimpin Indonesia mungkin hanya sekedar menjajah. Dia membuat kedudukan yang dia miliki sebagai pembenaran bagi dia untuk mengulangi sejarah, yang dia ingat, yaitu menjajah. Bisa saja dia memiliki rasa ingin tahu mengenai alasan Belanda begitu lama menjajah Indonesia. Jawabannya dia dapatkan, kenikmatan duniawi dengan harta berlimpah.


Berani-beraninya muncul usulan dana aspirasi sebesar 15 Miliar Rupiah di tiap daerah pilih. Apa mungkin para pengusul dana aspirasi itu sudah tidak memiliki pikiran dan jaringan kerjasama yang dapat memberikan bantuan di daerahnya? Tidak masuk akal sama sekali.


Saya menyesalkan yang terjadi di kota Bandar Lampung. Jalanan yang berlubang luar biasa sampai-sampai kita dapat memelihara ikan di lubang itu. Perjalan yang bisa ditempuh paling lama 20 menit, sekarang harus puas jika 30 menit telah tiba di tempat tujuan. Lubang di jalan ini juga menyebabkan kemacetan. Walau tidak pernah jelas juga penyebab kemacetan ini adalah rusaknya jalan, minimnya alternatif rute, atau tingginya pertumbuhan jumlah kendaraan di jalanan. Hal yang jelas tampak di sini adalah adanya masalah yang haruslah para pemimpin tanggapi.


Entahlah. Dengan semua apa yang terjadi di Lampung ataupun di Indonesia. Saya bangga sebagai Indonesia. Memiliki presiden yang diktator sampai yang tidak bisa melihat. Maling ayam digebuki massa tapi maling uang rakyat duduk santai di hotel bintang lima. Kalau bisa dipersulit, buat apa dipermudah.


Suatu ketika, Anda bertemu dengan seseorang yang baru saja dikenal yang ternyata bersaudara dengan saudara yang sudah lama tak bertemu dan dia berteman dengan saudaraumu yang lain lagi. Selamat datang di Indonesia.


MERDEKA!

Selasa, 17 Agustus 2010

Esok Masih Ada

Suatu hari di perayaan ulang tahunku, beberapa tahun yang lalu, aku meminta teman-teman terdekatku melakukan sesuatu untukku. Aku undang mereka untuk hadir di tempat yang telah ditentukan pada jam tertentu dan sebuah cerita untuk dibagi. Aku tidak meminta mereka untuk menceritakan sesuatu yang penuh rahasia, hanya ingin mendengar kiasan tentang diri mereka.

Untuk diriku sendiri, seringkali aku mengandaikan sebagai sebuah buku yang bersampul depan merah dan sampul belakang berwarna hitam, cerita di dalamnya tidak pernah habis karena terus menerus ditulis. Merah dipilih karena berani. Aku cukup dikenal sebagai pribadi yang dengan berani untuk berekspresi. Hitam kupilih karena pikiran ini, keraguan-keraguan yang terus datang seringkali mengerubungi.

Teman terdekatku, mengandaikan dirinya sebagai kertas putih yang memberi ruang bagi tiap orang yang bersinggungan dalam hidupnya untuk menorehkan tinta. Dia memberikan kebebasan pada orang lain, termasuk saya, untuk menjadi diri sendiri dan membawa dia larut dalam kesenangan saya. Terkadang, ketika dia sendiri, dia akan membuang kertas penuh tinta dan kembali sebagai kertas putih kosong.

Hidup ini mengalir begitu saja. Seperti buku kosong yang menunggu kisah-kisah untuk diceritakan ataupun lembaran kertas putih yang menunggu torehan gambar. Rangkaian peristiwa terus terjadi mengisi waktu.

Apa yang terjadi pada diri kita, terjadi seperti seharusnya. Tidak berlebihan, tidak juga pernah kekurangan. Penyesalan pasti hadir, namun seringkali diiringi dengan kegembiraan penuh perayaan. Akankah kita tetap terus percaya hari esok hadir untuk kita?

Harapan. Bagi orang yang percaya, harapan itu selalu ada. Sekecil apapun, kemungkinan selalu hadir. Bagi saya, seorang muslim, kepastian hanya milik Allah SWT dan manusia dapat menjadikan suatu hal sebuah kepastian ketika hal tersebut terjadi pada saatnya.

Aku bisa saja menuliskan kisah dengan pensil. Sehingga, ketika waktunya tiba, aku bisa saja menghapusnya dengan mudah. Temanku juga bisa saja menorehkan lukisannya dan membiarkan orang lain melukis di sisi lainnya untuk mengikuti torehan yang telah dia buat.

Kita berencana penuh harapan agar tetap percaya akan datangnya hari esok.


Tuhan pun tahu hidup ini sangat berat
Tapi takdir pun tak mungkin selalu sama
Coba cobalah tinggalkan sejenak anganmu
Esok kan masih ada...
Esok kan masih ada...
Utha Likumahuwa - Esok Kan Masih Ada