Rabu, 26 November 2008

Jatuh Cinta karena Twilight

Beberapa hari yang lalu, aku menarik sebuah buku yang tergeletak di kamar. Judulnya Twilight, karya Stephenie Meyer. Membaca karyanya membuat aku jatuh cinta lagi pada imajinasi. Imajinasi yang terbentuk karena interaksi yang pernah terjadi dengan seseorang.

Kalau diperjelas, interaksi dengannya tak pernah nyata. Mengapa perasaan akan dirinya begitu nyata? Seperti orang bodoh yang tertipu daya oleh daya tarik majis yang tak beralasan. Rasanya ingin menertawai diri.

Pertanyaan di dalam kepala pun selalu hadir. Apa yang dia rasakan? Akankah dia merasakan nyatanya rasa ini? Kalau memang iya, apa yang akan dia lakukan?

Lalu, sesungguhnya apa yang harus kulakukan tentang ini. Terdiam dan terpaku. Cukup menjadikannya cerita maya yang kekal dalam imajinasi. Mungkin itu lebih baik.

bermimpi

aku tenggelam dalam pikiran
terhanyut oleh perasaan

kebimbangan dan keraguan kian muncul

aku merasa seperti orang terbodoh di dunia

akankah kesadaran menjadi nyata?
jawabankah yang aku tunggu
atau sekedar kunci untuk membuka pintu yang lain?

aku mengantuk.
aku ingin tertidur.
dan hidup di dalam mimpi.