Ketika Malam Tiba
Ketika malam tiba, maka yang aku cari adalah keheningan. Not thinking, just enjoy the silence. Mungkin beberapa dari kalian juga menikmatinya. Aku tidak merasa aneh akan hal itu, mungkin kamu juga.
Seperti melepaskan hal duniawi.
Seperti melepaskan penat yang ada.
Seperti hanya merasa ada pada momen ini.
Kadang merasa hilang dalam rutinitas. Jebakan-jebakan rutinitas yang seakan mematikan arti kemanusiaan. Sad but true.
Dalam kesunyian menyusun kembali kepingan-kepingan hal yang ada. Penuh tanya pun muncul, apakah ini kepingan yang tepat?. Namun, untuk apa berpikir ketika yang paling tepat adalah menikmati kesunyian ini.
Menjadi waktu yang tepat untuk menangis, kurasa. No judging, just being me.
Time to embrace. Sedih yang kita punya, harap yang kita punya. Ada urgensi bagi diriku untuk terus meletak harap. Merancang hidup yang inginku jalani, sebaik-baiknya di esok hari. Memantrai diri bahwa besok is the best day to enjoy. No regrets.
Dalam sunyi ini, I would say, berterima kasih pada Allah SWT yang telah memberi berkahnya yang melimpah super duper yang ternyata, 'waktu itu aja bisa lewat ya.'. Sangat berbahagia dengan yang ada di hidupku ini, keluarga super duper (my tiny family and my support system family), teman-teman yang membuat hidup terasa mudah dan indah dengan cerita tawa suka duka (please stay with me), the strangers that not stranger anymore after the conversation we had, pada rumput, pohon, daun, ulat, kepompong, kupu-kupu, dan tentunya kopi yang menemani hari-hariku.
Komentar