Jumat, 03 November 2017

Lihat di Sekelilingmu

Percaya ga percaya, salah satu pernyataan yang sering temanku bilang. Terpaksa kupinjam untuk tulisan kali ini. Satu hal dua, karena ternyata kadang kita belum percaya sekarang, selalu nanti percaya.

Pertemuan dengan teman lainnya, membuatku harus mengingat kembali beberapa peristiwa di masa lalu. Hal-hal yang mungkin mendukung dan menjadikanku seperti sekarang ini. Bukan secara langsung terkait pada personal, tapi pada perkara how do i like enjoying my time.

Waktu selalu konsisten. Seperti slogan, always moving forward. Bagi orang-orang yang senang membaca buku fiksi ilmiah, (mungkin) waktu jelas terus berjalan, namun bersamaan dengan itu mungkin terjadi paralel waktu terjadi. Sederhananya, kalau mungkin ada yang berpikir, ada kenyataan lain yang berjalan bersamaan dengan kenyataan yang ini, maka pada kenyataan yang lain mungkin kita akan memiliki keputusan yang berbeda.

Kembali pada judul, pembicaraan itu membuat saya melihat kembali sekeliling saya di masa lampau dan hingga sekarang. Dalam lini masa, titik-titik waktu memungkinkanku memiliki pengalaman musik.

Kaset pertama yang dibeli, dianjurkan oleh kakak tertuaku  Kaset yang sengaja dibeli dari uang tabunganku sendiri. Meminta dipilihkan karena saat itu saya tidak tahu artis yang bagus. Mungkin seperti ilmu sosial, manusia memiliki kemampuan dasar: imitasi. Jadi, saya mengimitasi kakak saya.

Kalau anak 90-an, siapa yang ga dengerin Slank. Bagi saya, saat itu, kakak saya pendengar Slank garis kelas. Periode awal Slank, Dewa19, dan Gigi muncul.

Jaman SD atau SMP (entahlah), orang tua saya memanggil seseorang untuk mengajarkan bermain gitar. Beberapa orang di sekitar saya mengajarkan cara memainkan gitar. Salah satu lagu yang akan saya nikmati memainkannya (sampai sekarang) More Than Words-Extreme. Lagu itu sepupuku yang mengajarkannya.

Jaman kuliah, jamannya bermandikan musik setiap minggu (hampir). Band-band Bandung yang saat itu baru kukenal. Kemudian, menjadi penikmat Mocca, Bubi Chen (LIVE!!!), Idang Rasjidi (Live juga lho), grup yang kemudian membentuk D'cinnamons, groupiesnya Equinox (duonya temenku, Pai and Dina). Juga pernah sengaja ke Jakarta untuk nonton Jazz Goes to Campus dan pastinya Java Jazz (yang ini sih setelah lulus). Bahkan, foto bareng Bubi Chen menjadi mungkin.

Sewaktu jadi mahasiswa, saya juga ikutan UKM Lingkung Seni Sunda (LISTRA) (yang sekarang super membanggakan). Ketika berlatih gamelan, teman-temanku diajak berkolabirasi memainkan lagu dengan iringan biola. Maaf ya, saya lupa loh namanya tapi terima kasih sudah memberikan pertunjukan yang menyenangkan.

Satu hal yang secara hidup kunikmati, ketika nonton langsung Endah N Rhesa, 2 kali dalam minggu yang sama. Pertama, aku foto, cetak, belikan pigura. Pada saat pertunjukan kedua, sengaja mencari waktu untuk memberikan foto itu.

Ada 1 teman lama, sudah lama tak bersua dan bercengkerama -entah dia ingat atau tidak-, her fave music group: 4peniti. Sangat menyenangkan untuk mendengarkan mereka bermain langsung (live).

Hollywood Nobody dulu, saya kenal vokalis dan juga sang keyboardist. I adore her voice. Sekarang di Makasar, coba aja datang ke se.cangkir.

Sekeliling aku, sahabat SMA dulu ada yang jadi DJ. Gara-gara dia, selama 18 hari berturut-turut mempersiapkan dan menikmati panggung musik dan pagelaran seni. I did enjoy every adrenalin because the beat. Dari sekian performance, ada 1 band jazz. Cuma 1.

Setelah menikah, dan selama hamil Banyu sering banget nonton band/music performance yang kebanyakan adalah teman suami saya.

Life is fun with music. I need more music vitamin.



Selasa, 20 Juni 2017

Sejati Manusia

Hidup itu kita yang punya. Kita yang tentukan. Hal-hal yang ada dan terjadi karena peran manusia sendiri. Percaya atau tidak.

Sampai pada waktunya (dulu) sayapun mempertanyakan, setiap kali (rasanya) saya diberikan cobaan, adakah benar Tuhan memberikanku cobaan seperti ini? Saatnya kita memaknai hidup manusia. Salah satu yang saya percaya (Anda tidak perlu), bahwa Allah memberikan umat-Nya petunjuk. Bukan saja yang Dia telah sampaikan tapi semesta terkadang menunjukkan kebenaran ada-Nya.

Apa yang terjadi pada diriku (sampai) saat ini pun kusadari (sebagian besar) karena hendakku dan sadarku. Puaskah? Jika memang ini adalah batas mampuku sebagai manusia. Kepuasan tidak lagi perlu ditanyakan. Sejati sudah.

Terasa beberapa langkah dalam hidup begitu berat. Bahkan, kuasa terbesar dalam diri hanya ingin terdiam. Diam sesaat. Bukan untuk menikmati waktu yang ada, namun hanya menatap kekosongan. Kehampaan.

Jika hidup kita usai, menyesalkah kita?

Maka, walau berat, kaki harus tetap melangkah. Saya memilih untuk melangkah ke depan. Terlalu lelah untuk melihat ke belakang.

Jalan ini masih perlu ditentukan; lurus, belok kanan atau belok kiri.

Lakukanlah hal-hal yang lebih menyenangkan untuk menikmati hidup. Berkelok itu biasa. Lurus saja bahkan terlalu biasa. Pembeda utama berada pada pemandangan di kanan dan kiri jalan, juga daya tarik penghenti waktu. Demi kehidupan yang lebih menyenangkan.