Rabu, 27 Mei 2015

Pelajaran Menghargai

"Ketika mereka merasa terluka, mereka menangis dan pergi jauh dari kita.".

Padahal setiap luka akan sembuh. Sesakit apapun luka itu, tubuh ini akan berusaha untuk sembuh, kembali pulih seperti senantiasa. Mungkin justru itu yang ktia perlukan, terluka dan penyembuhan.

Bukan sesungguhnya tentang luka berdarah. Tentang hati yang terluka, mudah tersakiti oleh ilusi. Ilusi yang berhasil membentuk perspektif melukai pada perasaan kita. Apakah artinya pikiran kita begitu kejam hingga kita mampu membuat diri kita sendiri terluka?

Pikiran kita membentuk suatu imajinasi, suatu gambaran dengan deskripsi yang terasa begitu nyata. Kadang kita terlupa bahwa kita memenangkan rasa dan lupa melibatkan daya pikir yang berlogika. Kita dikalahkan rasa.

Bagi sebagian besar orang, keinginan untuk menjadi lebih baik itu selalu ada. Entah apapun itu. Alasan apapun itu. Akupun demikian, berusaha untuk lebih baik. Ketika SMP, aku diajarkan berteman baik dengan banyak orang oleh sahabatku. Lalu, aku tidak bisa selamanya bergantung bersamanya untuk menjadi "orang" yang kumau. Aku harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang lebih baik.

Ternyata, setelah berbagai kisah, persahabatan dan pertentangan yang aku alami. Kunci utama yang harus kita lakukan adalah menghargai orang lain. Dengan penuh pengharapan, mereka juga akan menghargai diri ini.

Seperti keponakanku yang menyukai warna merah. Tentu saja kalau ingin membuat dia bahagia, belikanlah dia baju berwarna merah. Kalau kita paksa dia untuk memakai hijau, yang adalah warna kesukaan kita, pastilah akan ada konflik yang terjadi.

Konflik memang sesuatu yang mungkin terjadi dan kadang kala tidak bisa kita hindari. Aku hanya bisa berusaha untuk meredamnya atau membuat konflik tidak berkepanjangan. Bukankah tiap dari kita memang individu yang berbeda?

Pertanyaan yang patut kita pertanyakan pada diri kita adalah "Seberapa mampu kita memaksa diri kita untuk menghargai orang lain, tanpa syarat. Menerima mereka apa adanya.".

Aku bisa membayangkan aku ketika di awal umur 20 tahun. Darah masih mendidih. Pemudi yang merasa dan berpikir bahwa dia akan melakukan yang terbaik dan perubahan di dunia ini. Penuh harapan yang luar biasa. Mampu menyatakan bahwa yang lain itu salah, dan yang benar selayaknya yang diinginkan. Menolak diperintah. Memiliki keinginan sendiri.

Ternyata tidak. Harapan memang selalu ada. Namun, pelajaran tentang hidup ditemukan pada dua hal; buku yang dituliskan dan buku yang dibukakan halamannya oleh alam semesta. Membuatku sadar. Orang tua (dan orang yang lebih tua) adalah mereka yang telah membaca buku kehidupan lebih dulu dan lebih banyak. Untuk itu, mereka patut kita hargai. Atas segala keberhasilan yang telah tercapai dalam hidupnya, adalah inspirasi bagi yang muda. Akupun berusaha bernegosiasi dengan diriku sendiri agar menjalani waktu dengan lebih baik.

Apakah kita masih akan terdiam, menangisi luka, dan pergi dari yang sejati? Akankah kita mengecap dan mewarnai hidup ini dengan penuh warna, warna hitam sekalipun? Beranikah kita menjadikan semua tempat adalah tempat ternyaman?

Rabu, 01 April 2015

Kesadaran Diri

Sebagai orang yang sudah lama tidak mengisi tulisan di blognya sendiri, mencari hal yang ingin dikomentari itu sangat sulit. Pada kehidupan sehari-hari, banyak sekali yang dikomentari. Tentang tukang sayur yang tidak memberikan uang kembali, tukang sampah yang tidak kunjung lewat, atau kenapa pemerintah daerah tampak seperti angin lalu begitu saja.

Bercerita dan berbagi itu bukan suatu hal yang mudah. Memilahnya agar pihak yang mungkin tersinggung tanpa sengaja begitu minim. Membuat tulisan ini menjadi bagian dari sadar yang membaca. Mungkin sekarang tidak lagi menjadi pilihan untuk membaca blog curahan hati semacam ini. Entahlah. Dimanapun kamu, saya, atau bahkan kita berada, jarak kita hanya sejauh satu tekan pada layar telepon atau tombol kiri pada tetikus.

Interaksi kita sekarang sederhana, follow atau unfollow, add friend atau unfriend, accept atau  ignore. Kita pun memiliki begitu banyak pilihan komunikasi. Bertemu langsung, berbincang melalui telepon, kirim pesan via teks atau ragam aplikasi yang ada di telepon genggam. Melihat info kontak di Twitter yang dilanjutkan via SMS untuk menanyakan pin BBM, yang ternyata setelah menyimpan nomor telepon kontaknya muncul di whatssapp dan LINE. Karena juga terhubung dengan facebook, ketika masuk instagram muncul beberapa kontak sebagai rekomendasi. Lalu, apa yang menjadi pilihan kita?

Saya sebagai pedagang kue, tidak masalah apapun yang dipilih. Asal hal tersebut memberikan pemasukan yang signifikan. Ya, kan?

Saya rasa, saya pun kelelahan akan segala media sosial yang mendunia ini. Tidak afdol kalau kita juga tidak punya akun Path, yang terpaksa mengunduh Talk Path karena, sebut saja Mawar (nama samaran), berkata, "Gue chat di TalkPath, ya dear". Atas dasar ke-kepo-an saya, sayapun patut mengunduhnya.

Terasa begitu disita perhatian oleh media sosial.

Bukankah memang itu yang kita butuhkan? Seberapa banyak love yang kita dapatkan ketika mengunggah hal. Seberapa panjang perbincangan terhadap hal yang kita unggah. Semua itu karena  kebutuhan manusia: pengakuan.

Ke-aku-an itu yang dulu bahkan membuat saya berpikir keras, bahkan belum bisa menemukan jawaban yang patut hingga sekarang. Siapa aku? Mempertanyakan diri sendiri atas nyatanya keberadaan diri dan apakah benar atas apa yang kita jawab atas pertanyaan itu sendiri. Lalu, temukanlah alasan kenapa diri ini hidup di dunia.

Era sosial media sekarang mungkin mampu merubah itu. "Ini aku.". Ketika foto selfie menjadi keharusan. Menemukan sudut atau sisi terbaik untuk pose berkali-kali membutuhkan keahlian khusus. Ini menjadi cara menemukan jati diri. Menyatakan ada kepada orang lain, kepada dunia. "Kamu love, maka aku ada" atau "Kamu komentar, maka aku ada". Logika sederhana dari "Saya ada karena kamu ada.".

Apapun bentuk interaksi dan sebagainya. Wajar, saja. Bukan berarti saya tidak setuju dengan kegilaan media sosial yang berterbangan di udara tanpa terlihat (perpindahan data dari satu alat ke alat lain yang tidak tersambung kabel, memang tak tampak, kan?). Saya pun menjadi korban. Mungkin korban terlalu kasar. Saya pun menjadi pengguna segala aplikasi tersebut. Dengan sadar bahwa pihak manapun mampu menggunakan segala informasi yang kita unggah atau secara otomatis perangkat telekomunikasi kita mengunggahnya. Entah menguntungkan atau merugikan.

Sadarkah kita atas segala yang kita unggah di dunia maya? Sadarkah kita sudah menelanjangi diri melalui informasi yang begitu terbuka? Hanya melalui satu tekan. Mampukah sadar kita membawa kebermanfaatan yang lebih atas perkembangan teknologi informasi yang pesat ini?


Sadarkah kita, ketika ada kabar pembunuhan di suatu tempat, dan yang kita nyatakan adalah "Ada fotonya?". Seketika itupun etika kita runtuh. Sadarkah?