Kamis, 24 April 2014

Banyu Nararya Darmanto



Adalah anakku yang lahir pada Minggu, 2 Maret 2014 pukul 23.00 WIB. Dia keluar dari perutku dengan sempurna, atas izin-Nya. Ketika itu, bahkan sampai sekarang, bagaikan mimpi. Nyata terasa namun penuh pertanyaan, "Apakah ini benar nyata?". Banyu adalah nyata. Kenyataan atas perjalanan waktu 9 bulan yang menjadikan suatu perwujudan dari kebesaran Allah SWT. Dulu dia berada di dalam perutku, kami masih menjadi satu individu yang bersatu. Sekarang, kami merupakan dua individu yang saling bergantung. Salah satu alasannya adalah dia menjadi motivasiku untuk bangun lebih pagi.

Banyak orang bilang kalau kita akan diberikan rejeki ketika kita memang layak menerimanya. Apakah sebelumnya aku merasa siap menjadi orang tua seorang bayi yang lucu yang akan terus tumbuh menjadi pribadi yang bercahaya? Tidak. Aku tahu, kita tahu, bahwa aku akan terus berusaha menjadi orang tua yang terbaik. Kita semua manusia tidak luput dari kesalahan. Pilihannya, apakah kita akan membiarkan diri tenggelam dalam kesalahan atau terus melakukan perbaikan. Tentu saja, kita harus menjadi pejuang, terus berusaha, tanpa henti. Menyadarkan kita bahwa orang tua kita memiliki kesabaran luar biasa membesarkan kita, bahkan ketika terkadang kita bersikap buruk tapi mereka selalu memaafkan lebih dulu. Terima kasih papa mama, terima kasih para orang tua di dunia.

Orang tua itu memanglah pasti lebih pintar dari anaknya. Apapun kondisinya. Kalau mereka tidak pintar, mana mungkin kita bisa berinteraksi melalui tulisan ini sekarang. Sebagai contoh, nenekku yang tidak pernah duduk di bangku kuliah memiliki 14 anak dengan berbagai macam latar belakang dan prestasi, ada yang dokter spesialis, doktor, mantan asisten menteri, dan lainnya. Aku, setidaknya 29 tahun lebih dulu lahir dari anakku. Pengalaman hidupku 29 tahun lebih banyak, walau mungkin hanya sebagian besar pengalaman yang terekam memori.

Sebelum melahirkan, aku dan suamiku memilih rumah sakit khusus bersalin. Alasan utama karena memang khusus bersalin, tidak dirawat bersama yang memiliki penyakit. Aman untuk yang rawat inap juga yang berkunjung. Selain itu, kakak-kakakku pernah bersalin di rumah sakit itu, pengalaman orang terdekat biasa menjadi referensi utama. Dan aku bersyukur memilihnya. Di Rumah Sakit khusus Bersalin Anugrah Medika aku diajarkan banyak hal. sekitar 3 hari berada di sana, pengetahuanku bertambah. Pertama, cara memakai gurita yang tepat sehingga mengurangi rasa sakit ketika berjalan setelah operasi. Kedua, cara menyusui ; semakin dalam semakin bagus, semakin sering semakin banyak*. Ketiga, membedong. Keempat, memijat payudara sehingga ASI terstimulasi produksinya. Kelima, informasi tentang frekuensi pipis atau pup anak yang minum ASI. Semua itu sangat bermanfaat. Sayangnya kemarin mereka belum bisa mengajarkan cara memandikan anak karena sedang renovasi bangunan.

Karena aku menjalani operasi, aktivitas setelah melahirkan sangat terbatas. Sampai 24 jam aku harus berdiam di atas kasur. Membiarkan diri menjadi sangat tergantung pada orang lain, khususnya suamiku. Begitu terharu ketika melihat dia menyuapi istrinya, memberikan minuman berkali-kali supaya ASI semakin lancar, menguatkan dirinya untuk menggendong anaknya pertama kali, mengatasi paniknya ketika dia belum bisa mengganti popok. I love him and I know he would do anything for us. Bersyukur memiliki suami yang super baik hati.

Banyu sudah memiliki gelar adatnya, Radin Umpu Migo artinya (kurang lebih) Raden Asal-Usul Marganya. Diartikan dengan keterbatasan kemampuan bahasa Lampung. Sederhananya, Migo diambil dari nama adat datuknya, Ratu Migo. Zodiaknya Pisces, sama pula dengan datuknya (juga dengan 2 sepupunya). Jidatnya perpaduan jidat Darmanto dan Djausal bersatu padu dalam kebebasan berpikir (hihihi). Semoga Banyu menjadi pribadi yang bermanfaat bagi kehidupan.

Sebagai akhir tulisan ini, aku senang bisa menulis kembali, kembali berkarya di sini. Sungguh ingin berbagi pengalaman karena masa-masa pertama menjadi orang tua begitu mendebarkan. Love you, Banyu :*



* Aku agak ragu tentang slogannya tapi kurang lebih seperti itu bunyinya.