Selasa, 18 Juni 2013

Ketika Hati (Saling) Memilih


Perkenalkan, Tuan dan Nyonya Didik. Sekarang, sampai nanti, aku memakai cincin emas putih bermatakan sesuatu yang berkilau di tangan kanan. Sesungguhnya, sering mempertanyakan arti cincin di jari manis tangan kanan dan kiri tapi tidak ada beda kalau tiap pasangan yang memakainya memiliki pemahaman yang sama.

Rangkaian acara mulai disusun sejak 8 Oktober 2012. Pertama kalinya kedua keluarga bertemu dan berkumpul. Kadang aku sering menganggap diri aku, waktu itu, sebagai calon pengantin yang suka-suka. Bahkan, di hari pertemuan keluarga itu, aku masih menerima pesanan kue sebanyak kurang lebih 60 buah. Untungnya, hari itu semua berjalan lancar.

Dulu aku pernah berpikir kalau aku menikah, semua urusan akan diurus oleh keluarga besarku. Ternyata, alhamdulillah, beberapa persiapan kecil aku dan suami (waktu itu masih calon suami) bisa melakukannya. Ketika menjelang hari H, semua keluarga besar dan kerabat terdekat keluarga turut membantu tanpa pamrih. Luar biasa terima kasih atas semuanya.


Salah satu yang penuh personal touch dari aku adalah undangan pernikahan yang pernuh dengan bunga dan kupu-kupu. Aku bukan penyuka warna tertentu tapi sepertinya memilih warna merah muda, yang mungkin ke arah fuschia tampak lebih menyatakan sesuatu, lebih menyolok warnanya. Kupu-kupu itu adalah binatang yang erat kaitannya dengan keluargaku. Kebanyakan teman-temanku juga mudah teringat padaku jika melihat sesuatu berbentuk kupu-kupu. Kupu-kupu selalu butuh bunga. Bagaikan indahnya halaman rumah di pagi hari. Sederhana, saja. 

Teman-teman dekat sengaja menyumbang 100 tangkai bunga sedap malam. Ternyata seratus itu banyak, yah. Heboh ketika bunga itu diantarkan. Semua vas yang ada di rumah dikerahkan tapi tampaknya masih juga berlebihan. Senang rasanya diperhatikan lebih oleh teman-teman yang super luar biasa baik hati tiada tara.

Akad nikah diselenggarakan pada Jumat, 25 Januari 2013. Acara hari itu dimulai sekitar jam 8 pagi. Rombongan mempelai pria beserta keluarga besar datang beramai-ramai dengan membawa 24 buah hantaran. Kenapa 24? Karena itu angka keramat bagi kebanyakan orang Lampung. Tidak bisa kurang, tidak perlu lebih. Jujur, mempersiapkan 24 barang itu memusingkan. Yah, mungkin karena aku bukan a big spender. Barang-barang yang dibawa itu dicatat dan disaksikan oleh Perwatin adat Bunga Mayang. Sentuhan budaya Lampung cukup kental mewarnai pernikahan kami, walau sudah diminimalisir sedemikian rupa. Selalu seru, itu yang pasti.
Info tambahan, sehari sebelumnya, 24 Januari 2013. Calon suamiku dan keluarganya menjalani acara Angkonan. Karena dia bukan berdarah Lampung (tanpa bermaksud SARA), maka dia harus menjadi orang Lampung. Salah satu caranya adalah, bersaudara dengan orang Lampung, diangkonkan dengan orang Lampung. Jadi, selain Jawa Barat-Jawa Timur, suamiku juga menjadi Menggala. Dari kampungnya yang baru itu dia mendapat gelar* (adok) Ratu Angguman.

Sekitar jam 01.30 siang, acara dilanjutkan dengan pelepasan. Acara itu memang ceremonial**. Hakikatnya keluarga perempuan melepas anaknya yang sudah dipersunting menuju tahapan kehidupan rumah tangganya. Pada acara ini, kami berdua dinyatakan gelar yang berlaku. Gelarku sama seperti ketika aku masih gadis, Raja Ngeringgom. Suamiku, bertambah gelarnya, Raja Sang Ratu.

Ketika diterima di rumah keluarga (keluarga Menggala), maka kamipun disambut oleh kerabat di sana. Pada acara informal, tanpa perwatin, kami pun dinyatakan gelar yang akan kami miliki. Suamiku dengan gelarnya yang kemarin diumumkan. Aku mendapatkan gelar, Ratu Idaman***. Kurang lebih itu singkatnya. Detail lainnya bisa dijabarkan jika ada yang penasaran. Hehehe.

Keesokan harinya, Sabtu 26 Januari 2013, barulah kami mengadakan pesta di Gedung Serba Guna Universitas Lampung. Acara lebih ringan namun durasi lebih lama dan monoton karena aku dan suamiku bersama orang tua selalu berdiri di atas panggung. Kejutan selalu hadir dalam acara. Mendekati akhir acara, sepupuku memberikan microphone kepada suamiku dan diapun bernyanyi diiringi band. Antara kelaparan dan kelelahan, nyanyiannya membuatku terharu.

Alhamdulillah, semua lancar dan menyenangkan hati. Kehadiran keluarga dan teman-teman terdekat begitu berarti, semakin menambah keriaan pernikahan kami. Terima kasih banyak untuk semua yang hadir dan yang telah mendoakan kami untuk memulai kehidupan yang penuh petualangan. Semoga kita semua selalu dalam lindunganNya dan dibimbing ke arah yang lebih baik. Amin.


* Sejatinya, gelar dalam bahasa Lampung berarti nama. Adok memiliki arti gelar yang umumnya kita kenal.
** Ada yang punya usul bahasa Indonesia-nya apa?
*** Aku agak lupa gelarku, nanti akan direvisi setelah konfirmasi. Hihihi. Harap maklum.