Minggu, 29 Juli 2012

Dengarkan Cerita

Kalau mau melatih kesabaran, bukan cuma berdiri sesuai urutan antrian. Atau menghadapi orang yang mau menang sendiri. Melatih kesabaran juga bisa dengan cara belajar. Belajar mendengarkan, dimulai dengan mendengarkan orang tua bercerita.

Minggu lalu, aku dan keluargaku berkunjung ke Jakarta. Kami menginap di rumah Bude Tut, kakak perempuan tertua mamaku. Rumahnya paling mudah dicapai dengan kemampuan navigasi orang daerah masuk metropolitan. Sekitar tujuh menit dari terminal Lebak Bulus. Rumahnya dijadikan istana keteduhan, begitu asri dan penuh kehangatan. Selalu menyenangkan untuk hadir di dalam rumahnya. Sapaan hangat dan obrolan ringan memenuhi ruang dan terhapuslah lelah.

Usianya sekarang lebih dari 60 tahun, namun, semua pekerjaan rumah tangga dikerjakan sendiri. Anggota keluarga yang ada di rumah itu, dia, suaminya (Pakde Sahmi), dan anak bungsunya (Eri). Sesekali anaknya yang lain menginap di rumah karena mereka sedang studi di Bogor. Di dalam rumahnya terdapat kolam ikan kecil, tempat aku bermain ketika kecil. Rumahnya memiliki sirkulasi udara yang baik, selayaknya rumah tropis. Di depan rumahnya ada sungai, tempat nenekku dulu kadang memancing udang.

Sewaktu berbincang, jangan pernah bosan ketika ditanya, "Sibuk apa kamu sekarang?" atau "Gimana kerjaan yang kemaren?". Semua itu sekedar kepedulian atas adanya kita. Lebih seru kalau Bude bercerita tentang kehidupan berkeluarganya. Bagaimana dia menyiasati kehidupannya di masa lalu agar masa depannya, yaitu yang kini, lebih mudah terasa.

Pakdeku adalah tentara, seringkali dia berpindah lokasi sesuai dengan penugasan yang diterima. Anaknya lima orang, semua laki-laki pintar dan makan yang lahap. Itu berarti di masa mudanya, paling sedikit dia harus menyediakan makanan untuk tujuh orang. Dengan mengatur uang pemberian suaminya, dia bisa memberikan yang terbaik bagi keluarga.

Salah satu contoh cerita adalah ketika dia tinggal di daerah yang banyak hasil ikan. Dia siapkan kolam di belakang rumah. Dia beli ikan ukuran kecil dalam jumlah banyak, dia pelihara di kolam buatannya. perlahan dia konsumsi dengan kebutuhan. Untungnya, keluarganya gemar makan. Kalau tiba musim buah, katakan saja buah mangga, itu saatnya membeli mangga. Tidak pernah memaksakan untuk membeli buah di angka tertinggi.

Tahun lalu, aku membeli emas batangan secara cicil. Walau belum bisa membuatku super jagoan, setidaknya mengawali investasi. Mendengar kabar itu, dia mengapresiasinya dengan menanyakan caranya dan alasanku. Dia pun akhirnya bercerita tentang caranya menghemat uang sebagai istri tentara. Salah satu usahanya menabung emas itu menghasilkan rumah yang sekarang dia tempati.

Dia juga selalu senang membantu. Beberapa kali dia cerita, ketika ditempatkan di suatu daerah, rumahnya dijambangi oleh mahasiswa atau teman dari keluarga yang sedang melintasi daerah itu. Jaman dulu, untuk pulang kampung atau menuju suatu kota tampaknya sulit. Ketika itu, mahasiswa hanya memiliki uang yang terbatas. Dia sajikan makanan yang enak namun sederhana. Kemudian motornya diisikan bahan bakar sampai tangki penuh dan sedikit uang saku untuk menambah bekal di perjalanan. Saat ini, mahasiswa itu telah pensiun dari pekerjaannya yang memiliki posisi penting. Ketika bertemu, rasa terima kasih ditunjukkan begitu tulus dan luar biasa.

Hidup itu memang tidak perlu penuh khayal tak nyata. Dijalani saja dengan baik. Budeku mengajarkan untuk selalu berdoa di setiap waktu. Untuk keuangan, ketika menerima atau menyimpan uang, kita harus berdoa agar uang itu selalu membawa rejeki. Gunakan uang dengan bijak. Sering pula dikatakan oleh orang tuaku, "Kalau mau memberi, segeralah memberi. Jangan tunda karena merasa belum mampu, sekedarnya dan semampunya. Karena kita tidak pernah tahu kapan pemberian kita akan berarti luar biasa bagi orang lain.".

Dengan semua kesederhanaan dan kebesaran hati yang dimiliki keluarga Pakde dan Bude, aku bangga.

Rabu, 25 Juli 2012

Ketika Lagu Diputar

Sudah sewindu ku di dekatmu 
Ada di setiap pagi, di sepanjang hari
Tak mungkin bila engkau tak tahu
Bila ku menyimpan rasa yang ku benam sejak lama

(Tulus-Sewindu)


Walau tidak akan menjadi genap sewindu, namun waktu sudah berlalu. Kita saling sadar. Kita berinteraksi. Kita menikmati waktu yang berlalu, hingga terlena.


...
Sesaat dia datang pesona bagai pangeran
Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan
Dan kau lupakan aku semua usahaku
Semua pagi kita, semua malam kita

(Tulus-Sewindu)
...


Dan akupun terdiam. Belum pernah ada rencana rapi terancang. Pembicaraan serius seringkali dihindari. Dia datang, dengan harapan. Mengajakku melangkah setelah aku cukup waktu berdiam diri di titik itu. Sejenak, aku terhipnotis. Terbingungkan antara mimpi dan nyata. Mempertanyakan rasa dan khayal. Kalau memang ini nyata, aku tidak akan melupa tapi akan kusimpan dengan baik, kujadikan salah satu pelajaran terbaik dalam hidup. Peduliku takkan padam.

Kamis, 05 Juli 2012

Tentang Bandar Lampung

Ini tentang keseruan pernyataan Kota Terjorok. Kota kelahiranku yang aku cintai ini, membuat heboh. Kota Bandar Lampung tidak meraih penghargaan Adipura, penilaian kebersihan suatu kota. Apa benar Bandar Lampung adalah kota terjorok?

Perkara dibilang jorok, kotor, atau apapun itu bukan solusi. Sepatutnya dibahas mengenai rencana pengelolaan sampah, tata kota, taman kota, atau apapun demi memperbaiki lingkungan. Bagiku, yang penting adalah bagaimana kita menjaga diri kita, menjaga kota kita. Bukan sekedar hal yang dinilai oleh orang atau lembaga. Namun yang pasti, itu merupakan batu teguran.

Kejadian yang menghebohkan itu terjadi pada awal Juni 2012. Agak terlambat untuk dikomentari, hanya ingin mengutarakan yang ada di kepala. Berita itu pertama kali didengar ketika kedua orang tuaku membicarakan pemberitaan di koran, dengan tambahan komentar sosial yang didapat oleh papa. Walau begitu, tidak juga membuatku membaca koran. Beberapa tajuk di akun twitter media massa membahas hal itu. Sejenak tadi baru kutelusuri beritanya.

Agak sulit untuk memetakan kronologis peristiwa terkait. Ada satu berita video yang fenomenal bagi diri, ada cuplikan pidato dari Walikota Bandar Lampung. Pidato itu disampaikan pada peringatan Ulang Tahun Bandar Lampung pada tanggal 7 Juni 2012. Bapak Herman HN berkata, "... malam ini kita bawa 5 bis, demo di  Kementerian Lingkungan Hidup. Apabila perlu cari orang yang nilai, cekek sekalian".


Patutkah seorang pemimpin daerah berkata serampangan di depan publik?


Sebagai pemimpin daerah, harusnya dia mampu secara bijak menunjukkan kemampuan dia memimpin dengan menjamin bahwa warganya merasa aman. Rasa aman terkait hal ini adalah rasa kepercayaaan yang dibangun dari penghargaan atas kerja sebagai petugas kebersihan. Untuk menunjukkan bahwa dia melindungi, menghargai dan mendukung warganya, dia mengerahkan lima bis (beserta penumpang -tentunya-). Kelima bis itu diperintahkan untuk berdemo di Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Seperti tidak ada cara lain yang dapat ditempuh, sampai harus berdemo dan masyarakat yang berkontak langsung. Demo seringkali dikonotasikan negatif, itupun tidak mencegah Walikota mendukung demo tersebut. Apakah harus se-primitif itu? Kenapa dia harus mengirim masyarakat untuk mewakili kota Bandar Lampung sebanyak lima bis? Padahal dia sendiri, dia secara individi, dia yang tunggal itu mampu secara de facto dan de jure mewakili Kota Bandar Lampung. Kenapa harus lima bis?

"... Apabila perlu, cari orang yang nilai, cekek sekalian...". Kalimat itu yang paling tidak layak didengar di dalam forum umum. Salah satu tugas pimpinan daerah adalah pengaturan. Kata cekek menunjukkan kemampuan pengaturan yang dilakukan oleh Walikota adalah melalui kekerasan. Di masa sekarang ini, dia masih menekankan kekerasan untuk dilakukan dalam penegakkan yang dia anggap benar. Membuat kepala mengiangkan isu kekerasan terhadap manusia. Sulit memang memiliki pemimpin yang ideal ketika harus ada satu dari sekian banyaknya masyarakat. Secara terang-terangan mendukung kekerasan? Di masa kini? Mungkin dia harus belajar detterence.

Satu yang masih membuat aku penasaran adalah pernyataan dari pihak KLH. Kata per kata. Cara penyampaiannya. Media penyampaiannya. Supaya aku mampu lebih memahami  interaksi antara kota Bandar Lampung dan KLH, apakah terjadi distorsi atau tidak. Kalaupun memang terjadi distorsi, penyampaian dan penerimaan siapa yang membuat perseteruan ini menjadi seru.

Walikotaku yang terhormat itu patutnya berkata lain yang mampu membesarkan hati masyarakatnya dan juga tetap menunjukkan gigi kepada orang luar bahwa orang Lampung bukan sembarang orang. Untuk bisa menunjukkan sikap seperti itu, harusnya orang politik yang terhebat. Lebih keren kalau Walikota menunjukkan kemampuan diplomasinya dengan pihak luar, dalam hal ini adalah KLH. Dia juga bisa mempertimbangkan dulu, apa benar kotaku kurang bersih. Kalau memang perlu perbaikan, harus diperbaiki segera. Kalau sudah benar, jangan ambil pusing penilaian orang, buatlah Penghargaan Walikota. Berikan penghargaan itu kepada seluruh pihak yang terkait langsung dengan kebersihan kota. Buat acara khusus untuk petugas kebersihan yang menyapu tiap subuh menjelang. Tunjukkan kewibawaan pemimpin! Setidaknya, itu yang terlintas di kepalaku ketika membayangkan diri menjadi Walikota. Semoga kalau aku bisa menjadi walikota, kotaku akan lebih bangga.

Belum selesai berkomentar soal kejadian bulan lalu, Senin yang lalu (02/07/2011) ada berita tentang kerusuhan di Kalianda, Lampung Selatan. Bukan karena patung (karena patungnya juga sudah rubuh), ini karena perkataan Bupati Lampung Selatan. Kurang lebih perkataannya begini, "...tai kucing dengan adat...". Entah apa yang ada di otaknya. Perkataan yang tidak seberapa itu membuat kelompok masyarakat adat murka*, mereka mengamuk. Ketika Bupati menyatakan permintaan maaf di depan publik, masyarakat melemparkan botol dan batu. Peristiwa tersebut melumpuhkan jalur Lintas Sumatra. Kalau sempat, akan kubuat tulisan tentang kejadian ini.

Lampung dalam banyak tanya, banyak keraguan, dan masih perlu banyak perjuangan dari generasi yang masih berkarya. Tiap-tiap daerah memiliki intrik dan konflik yang menarik, namun jauh dari solusi yang lebih baik. Kita tidak boleh patah arang, harus terus berjuang. Sampai nanti kita tersadar bahwa kita sudah melakukan yang terbaik bagi tanah sendiri.


* Pemilihan kata yang agak berlebihan, namun dipertahankan karena aku kesal teramat dengan peristiwa itu.