Selasa, 11 Desember 2012

(Akhirnya) Bakal Nikah juga

Kabar gembira dari Lampung, aku akan menikah. Kalau tidak ada halangan yang berarti dan semua berjalan seperti yang direncanakan, akan terselenggara pada akhir bulan Januari 2013. Akhirnya, akan ada kisah baru untuk dimulai bersama, bersama Didik Darmanto.

Ini pertama kali terlibat langsung mempersiapkan pernikahan. Menjadi pemeran utama perempuan. Ke tukang jahit kebaya, beli bahan buat orang tua, beli bahan buat seragam kakak-adik, survei dekorasi, sampai berusaha memunculkan ide-ide norak yang menunjukkan sentuhan spesial Gita-Didik. Semuanya dijalani dengan hari riang gembira dan perut kenyang.

Seiring persiapan yang tidak seberapa dan masih banyak harus melibatkan orang lain yang juga masih dipersiapkan nama-nama yang harus dan patut dilibatkan, aku jadi teringat tentang blogku yang pernah membahas tentang rangkaian acara pernikahan yang mungkin akan aku jalani. Ternyata berbeda. Keluargaku memutuskan untuk mempersingkat rangkaian acara. Salah satu alasannya adalah karena usia mereka semakin tua, stamina mereka sudah berkurang untuk terlibat dalam rangkaian acara yang lebih lama. Rangkaiannya nanti akan aku ceritakan setelah acara agar bisa memberi penjelasan yang lebih nyata berdasarkan pengalaman, kalau sekarang masih sekedar asumsi.

Aku senang. Senang dan bahagia karena akan memiliki suami luar biasa. Dukungan penuh dan doa dari keluarga dan semua teman. Sejauh ini, persiapan berjalan dengan lancar. Detil yang aku inginkan masih bisa tersampaikan. Entah bagaimana implementasinya, semoga berjalan sesuai rencana. Nanti aku akan bercerita lebih detil.

Sampai nanti!

Selasa, 27 November 2012

Hadiah Terbaik dalam Hidup

Sepanjang kita hidup, selalu ada perayaan-perayaan. Perayaan kecil seperti menyambut pagi hari dengan senyuman, makanan terenak di lidah, membeli barang yang diidamkan sejak dulu, dan mendapatkan teman-teman yang baik. Dari perayaan kecil, aku percaya kalau hidup ini akan lebih baik, lebih indah, dan lebih berwarna. Aku selalu bersyukur kepada Allah SWT dan kehidupan. Aku diberikan salah satu hadiah yang tiada pernah terlupakan, mereka adalah teman-teman terbaik.

Ketika berada di titik ini, melihat perjalanan waktu yang telah dijalani membuat tersadar akan banyaknya teman baik yang sampai sekarang tetap terjaga. Jaman SMP, SMA, kuliah, sampai lingkungan pertemanan baru selalu saja memberikan nilai yang penuh arti.

Kenapa tiba-tiba jadi melankolis gini? Sekarang lagi gencar iklan, promosi atau terserah mau disebut apa tentang film 5cm. Pertama kali menonton trailernya, via youtube.com, menangis seketika. Air mataku menitik.  Aku teringat sahabat-sahabat.

Kita nggak akan sadar sampai waktu menyadarkan kita. Siapa yang nyangka kalau pertemanan sejak SMP bisa bertahan sampai sekarang, sudah hampir 15 tahun. Aku, Ira, Iteh, Upi, 'Neng, Ajay, dan Didit. Kami tidak pernah bersepakat untuk terus berteman. Ini memang bukan perkara kesepakatan tapi proses yang menyatakan ikrarnya sendiri.

Ada tahun-tahun ketika kita semua saling tidak peduli. Sama-sama pura-pura lupa untuk berkeinginan untuk berkumpul. Untungnya, kita nggak pernah pergi. Justru kita semua selalu kembali. Kembali ke tempat pertemuan yang sama, topik pembicaraan yang sama, orang yang sama, dan rasa yang sama.

Peristiwa pohon tangkil itu seperti kode terselubung yang hanya dimengerti oleh kami. Saat "sender" bermakna "geser", hanya terjadi di angkot ketika kami semua di dalamnya. Cuma Ajay dan Didit yang bisa bikin angka 10 dari badan mereka. Cuma di Jakarta yang bikin gagal kumpul. Hahahaha.

Dengan keunikan pribadi ditambah dengan penuh keabsurdan yang aku miliki, penuh rasa terima kasih untuk mereka yang selalu kembali. Selain keluarga, teman adalah pewarna hidup. Bukan cuma mereka berenam tapi juga semua yang kisahnya belum kuceritakan.

Buat kamu semua, nikmati persahabatan yang ada. Ingat untuk kembali, jangan pergi terlalu lama.


PENGEN NONTON BARENGGGGGG!!!!


Tulisan ini teruntuk: Ira, Iteh, Upi, 'Neng, Ajay, dan Didit

NB: Yang punya teman-teman pilihan, harus baca 5cm. Biar tambah kangen kumpul.

Kamis, 02 Agustus 2012

Gulliana and Bill Rancic

Kalau kenal dua nama itu berarti sama seperti aku, menonton E!. Gulliana dan Bill adalah reality show yang sering aku tonton. Hanya menceritakan sebagian kehidupan mereka berdua sebagai pasangan dengan segala kebahagiaan dan kendala yang mereka hadapi.

Ditonton bukan sekedar karena keartisannya. Mereka berdua juga kutahu dari reality show itu. Yang ternyata, Bill Rancic adalah pemenang The Apprentice season 1. Keren, kan? Sepintas aku mencerna, mereka berdua pertama kali bertemu ketika Gulliana mewawancarai Bill untuk E! News. Gulliana tentunya bekerja di E!, selebriti televisi  and she is a fashion police. Penampilan mereka juga menyejukkan mata.

Kenapa dibahas di blogku ini? Karena mereka itu seru sekali untuk disaksikan perjalanan hidupnya. Kita bisa tahu kalau Bill sangat mencintai Gulliana, dan juga sebaliknya. Cara mereka tersenyum kepada satu sama lain begitu seperti mampu menghentikan waktu. Semoga yang terlihat di televisi sama dengan yang terjadi di nyatanya. Melihat mereka berdua seperti melihat bahwa cinta sejati ada dimana saja (tidak seperti artis Indonesia yang kebanyakan diterpa kegagalan menjaga komitmen).

Konflik yang mereka hadapi adalah ketika mereka berusaha memiliki anak. Aku lupa mungkin berapa kali mereka melakukan pendekatan. Yang pertama, gagal karena embrionya tidak berkembang. Ketika pengharapan begitu besar dan tidak sesuai dengan yang diinginkan, itu seakan mematahkan semangat. Namun, mereka tidak menyerah. Aku menggunakan "mereka" karena mereka benar-benar menunjukkan bahwa menjalani proses pembuahan dengan bantuan dokter itu adalah kerjasama.

Usaha kedua kalinya menunjukkan perkembangan yang baik di awal kehamilan. Sampai satu titik, kehamilan itu melemahkan Gulliana. Satu adegan, Bill berkata, "Yang penting Gulliana sehat.". Dalam bahasa asing tentunya, bukan bahasa Indonesia. Mereka membuat buku. Buku yang mereka tulis berdua. Buku itu menceritakan tentang perjalanan hidup mereka, keinginan memiliki anak, dan cinta mereka. Yang mereka alami juga mungkin dialami oleh orang lain, they needed to share it.

Ketika usaha ketiga kalinya, cek kesehatan awal menunjukkan bahwa Gulliana terkena kanker payudara. Harus ditangani segera. Di luar kehidupan mereka yang penuh glamoritas dan mobilitas, mereka menghadapi cobaan.

Setelah gejolak yang mereka hadapi, mereka memilih pendekatan mother surrogate. Yup! Seperti film Bruce Willis, Surrogate. Calon embrio berasal dari pembuahan mereka, namun tumbuh kembang selama kurang lebih sembilang bulan di dalam tubuh orang lain. Itu jalan terbaik yang mereka miliki saat ini. Dengan itu, mereka bahagia luar biasa. Sampai episode terakhir aku tonton pun, Bill dan Gulliana menunjukkan cinta yang tidak pernah habis bagi mereka berdua dan akan terus bertambah seiring berjalannya waktu dan pertambahan anggota keluarga. Mereka akan memiliki anak laki-laki, beberapa waktu mendatang, sebentar lagi.

Sekali lagi, kenapa ini aku ceritakan di dalam blog? Selain kisah mereka yang luar biasa, ada hal yang bisa kita pelajari. Kita harus bersyukur. Beberapa teman, tanpa halangan berarti diberikan karunia hidup dengan hadirnya anak. Beberapa teman lain, harus berusaha lebih banyak untuk memiliki anak dan masih harus terus berusaha. Apapun yang kita miliki, ucapkan rasa syukur.

Minggu, 29 Juli 2012

Dengarkan Cerita

Kalau mau melatih kesabaran, bukan cuma berdiri sesuai urutan antrian. Atau menghadapi orang yang mau menang sendiri. Melatih kesabaran juga bisa dengan cara belajar. Belajar mendengarkan, dimulai dengan mendengarkan orang tua bercerita.

Minggu lalu, aku dan keluargaku berkunjung ke Jakarta. Kami menginap di rumah Bude Tut, kakak perempuan tertua mamaku. Rumahnya paling mudah dicapai dengan kemampuan navigasi orang daerah masuk metropolitan. Sekitar tujuh menit dari terminal Lebak Bulus. Rumahnya dijadikan istana keteduhan, begitu asri dan penuh kehangatan. Selalu menyenangkan untuk hadir di dalam rumahnya. Sapaan hangat dan obrolan ringan memenuhi ruang dan terhapuslah lelah.

Usianya sekarang lebih dari 60 tahun, namun, semua pekerjaan rumah tangga dikerjakan sendiri. Anggota keluarga yang ada di rumah itu, dia, suaminya (Pakde Sahmi), dan anak bungsunya (Eri). Sesekali anaknya yang lain menginap di rumah karena mereka sedang studi di Bogor. Di dalam rumahnya terdapat kolam ikan kecil, tempat aku bermain ketika kecil. Rumahnya memiliki sirkulasi udara yang baik, selayaknya rumah tropis. Di depan rumahnya ada sungai, tempat nenekku dulu kadang memancing udang.

Sewaktu berbincang, jangan pernah bosan ketika ditanya, "Sibuk apa kamu sekarang?" atau "Gimana kerjaan yang kemaren?". Semua itu sekedar kepedulian atas adanya kita. Lebih seru kalau Bude bercerita tentang kehidupan berkeluarganya. Bagaimana dia menyiasati kehidupannya di masa lalu agar masa depannya, yaitu yang kini, lebih mudah terasa.

Pakdeku adalah tentara, seringkali dia berpindah lokasi sesuai dengan penugasan yang diterima. Anaknya lima orang, semua laki-laki pintar dan makan yang lahap. Itu berarti di masa mudanya, paling sedikit dia harus menyediakan makanan untuk tujuh orang. Dengan mengatur uang pemberian suaminya, dia bisa memberikan yang terbaik bagi keluarga.

Salah satu contoh cerita adalah ketika dia tinggal di daerah yang banyak hasil ikan. Dia siapkan kolam di belakang rumah. Dia beli ikan ukuran kecil dalam jumlah banyak, dia pelihara di kolam buatannya. perlahan dia konsumsi dengan kebutuhan. Untungnya, keluarganya gemar makan. Kalau tiba musim buah, katakan saja buah mangga, itu saatnya membeli mangga. Tidak pernah memaksakan untuk membeli buah di angka tertinggi.

Tahun lalu, aku membeli emas batangan secara cicil. Walau belum bisa membuatku super jagoan, setidaknya mengawali investasi. Mendengar kabar itu, dia mengapresiasinya dengan menanyakan caranya dan alasanku. Dia pun akhirnya bercerita tentang caranya menghemat uang sebagai istri tentara. Salah satu usahanya menabung emas itu menghasilkan rumah yang sekarang dia tempati.

Dia juga selalu senang membantu. Beberapa kali dia cerita, ketika ditempatkan di suatu daerah, rumahnya dijambangi oleh mahasiswa atau teman dari keluarga yang sedang melintasi daerah itu. Jaman dulu, untuk pulang kampung atau menuju suatu kota tampaknya sulit. Ketika itu, mahasiswa hanya memiliki uang yang terbatas. Dia sajikan makanan yang enak namun sederhana. Kemudian motornya diisikan bahan bakar sampai tangki penuh dan sedikit uang saku untuk menambah bekal di perjalanan. Saat ini, mahasiswa itu telah pensiun dari pekerjaannya yang memiliki posisi penting. Ketika bertemu, rasa terima kasih ditunjukkan begitu tulus dan luar biasa.

Hidup itu memang tidak perlu penuh khayal tak nyata. Dijalani saja dengan baik. Budeku mengajarkan untuk selalu berdoa di setiap waktu. Untuk keuangan, ketika menerima atau menyimpan uang, kita harus berdoa agar uang itu selalu membawa rejeki. Gunakan uang dengan bijak. Sering pula dikatakan oleh orang tuaku, "Kalau mau memberi, segeralah memberi. Jangan tunda karena merasa belum mampu, sekedarnya dan semampunya. Karena kita tidak pernah tahu kapan pemberian kita akan berarti luar biasa bagi orang lain.".

Dengan semua kesederhanaan dan kebesaran hati yang dimiliki keluarga Pakde dan Bude, aku bangga.

Rabu, 25 Juli 2012

Ketika Lagu Diputar

Sudah sewindu ku di dekatmu 
Ada di setiap pagi, di sepanjang hari
Tak mungkin bila engkau tak tahu
Bila ku menyimpan rasa yang ku benam sejak lama

(Tulus-Sewindu)


Walau tidak akan menjadi genap sewindu, namun waktu sudah berlalu. Kita saling sadar. Kita berinteraksi. Kita menikmati waktu yang berlalu, hingga terlena.


...
Sesaat dia datang pesona bagai pangeran
Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan
Dan kau lupakan aku semua usahaku
Semua pagi kita, semua malam kita

(Tulus-Sewindu)
...


Dan akupun terdiam. Belum pernah ada rencana rapi terancang. Pembicaraan serius seringkali dihindari. Dia datang, dengan harapan. Mengajakku melangkah setelah aku cukup waktu berdiam diri di titik itu. Sejenak, aku terhipnotis. Terbingungkan antara mimpi dan nyata. Mempertanyakan rasa dan khayal. Kalau memang ini nyata, aku tidak akan melupa tapi akan kusimpan dengan baik, kujadikan salah satu pelajaran terbaik dalam hidup. Peduliku takkan padam.

Kamis, 05 Juli 2012

Tentang Bandar Lampung

Ini tentang keseruan pernyataan Kota Terjorok. Kota kelahiranku yang aku cintai ini, membuat heboh. Kota Bandar Lampung tidak meraih penghargaan Adipura, penilaian kebersihan suatu kota. Apa benar Bandar Lampung adalah kota terjorok?

Perkara dibilang jorok, kotor, atau apapun itu bukan solusi. Sepatutnya dibahas mengenai rencana pengelolaan sampah, tata kota, taman kota, atau apapun demi memperbaiki lingkungan. Bagiku, yang penting adalah bagaimana kita menjaga diri kita, menjaga kota kita. Bukan sekedar hal yang dinilai oleh orang atau lembaga. Namun yang pasti, itu merupakan batu teguran.

Kejadian yang menghebohkan itu terjadi pada awal Juni 2012. Agak terlambat untuk dikomentari, hanya ingin mengutarakan yang ada di kepala. Berita itu pertama kali didengar ketika kedua orang tuaku membicarakan pemberitaan di koran, dengan tambahan komentar sosial yang didapat oleh papa. Walau begitu, tidak juga membuatku membaca koran. Beberapa tajuk di akun twitter media massa membahas hal itu. Sejenak tadi baru kutelusuri beritanya.

Agak sulit untuk memetakan kronologis peristiwa terkait. Ada satu berita video yang fenomenal bagi diri, ada cuplikan pidato dari Walikota Bandar Lampung. Pidato itu disampaikan pada peringatan Ulang Tahun Bandar Lampung pada tanggal 7 Juni 2012. Bapak Herman HN berkata, "... malam ini kita bawa 5 bis, demo di  Kementerian Lingkungan Hidup. Apabila perlu cari orang yang nilai, cekek sekalian".


Patutkah seorang pemimpin daerah berkata serampangan di depan publik?


Sebagai pemimpin daerah, harusnya dia mampu secara bijak menunjukkan kemampuan dia memimpin dengan menjamin bahwa warganya merasa aman. Rasa aman terkait hal ini adalah rasa kepercayaaan yang dibangun dari penghargaan atas kerja sebagai petugas kebersihan. Untuk menunjukkan bahwa dia melindungi, menghargai dan mendukung warganya, dia mengerahkan lima bis (beserta penumpang -tentunya-). Kelima bis itu diperintahkan untuk berdemo di Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Seperti tidak ada cara lain yang dapat ditempuh, sampai harus berdemo dan masyarakat yang berkontak langsung. Demo seringkali dikonotasikan negatif, itupun tidak mencegah Walikota mendukung demo tersebut. Apakah harus se-primitif itu? Kenapa dia harus mengirim masyarakat untuk mewakili kota Bandar Lampung sebanyak lima bis? Padahal dia sendiri, dia secara individi, dia yang tunggal itu mampu secara de facto dan de jure mewakili Kota Bandar Lampung. Kenapa harus lima bis?

"... Apabila perlu, cari orang yang nilai, cekek sekalian...". Kalimat itu yang paling tidak layak didengar di dalam forum umum. Salah satu tugas pimpinan daerah adalah pengaturan. Kata cekek menunjukkan kemampuan pengaturan yang dilakukan oleh Walikota adalah melalui kekerasan. Di masa sekarang ini, dia masih menekankan kekerasan untuk dilakukan dalam penegakkan yang dia anggap benar. Membuat kepala mengiangkan isu kekerasan terhadap manusia. Sulit memang memiliki pemimpin yang ideal ketika harus ada satu dari sekian banyaknya masyarakat. Secara terang-terangan mendukung kekerasan? Di masa kini? Mungkin dia harus belajar detterence.

Satu yang masih membuat aku penasaran adalah pernyataan dari pihak KLH. Kata per kata. Cara penyampaiannya. Media penyampaiannya. Supaya aku mampu lebih memahami  interaksi antara kota Bandar Lampung dan KLH, apakah terjadi distorsi atau tidak. Kalaupun memang terjadi distorsi, penyampaian dan penerimaan siapa yang membuat perseteruan ini menjadi seru.

Walikotaku yang terhormat itu patutnya berkata lain yang mampu membesarkan hati masyarakatnya dan juga tetap menunjukkan gigi kepada orang luar bahwa orang Lampung bukan sembarang orang. Untuk bisa menunjukkan sikap seperti itu, harusnya orang politik yang terhebat. Lebih keren kalau Walikota menunjukkan kemampuan diplomasinya dengan pihak luar, dalam hal ini adalah KLH. Dia juga bisa mempertimbangkan dulu, apa benar kotaku kurang bersih. Kalau memang perlu perbaikan, harus diperbaiki segera. Kalau sudah benar, jangan ambil pusing penilaian orang, buatlah Penghargaan Walikota. Berikan penghargaan itu kepada seluruh pihak yang terkait langsung dengan kebersihan kota. Buat acara khusus untuk petugas kebersihan yang menyapu tiap subuh menjelang. Tunjukkan kewibawaan pemimpin! Setidaknya, itu yang terlintas di kepalaku ketika membayangkan diri menjadi Walikota. Semoga kalau aku bisa menjadi walikota, kotaku akan lebih bangga.

Belum selesai berkomentar soal kejadian bulan lalu, Senin yang lalu (02/07/2011) ada berita tentang kerusuhan di Kalianda, Lampung Selatan. Bukan karena patung (karena patungnya juga sudah rubuh), ini karena perkataan Bupati Lampung Selatan. Kurang lebih perkataannya begini, "...tai kucing dengan adat...". Entah apa yang ada di otaknya. Perkataan yang tidak seberapa itu membuat kelompok masyarakat adat murka*, mereka mengamuk. Ketika Bupati menyatakan permintaan maaf di depan publik, masyarakat melemparkan botol dan batu. Peristiwa tersebut melumpuhkan jalur Lintas Sumatra. Kalau sempat, akan kubuat tulisan tentang kejadian ini.

Lampung dalam banyak tanya, banyak keraguan, dan masih perlu banyak perjuangan dari generasi yang masih berkarya. Tiap-tiap daerah memiliki intrik dan konflik yang menarik, namun jauh dari solusi yang lebih baik. Kita tidak boleh patah arang, harus terus berjuang. Sampai nanti kita tersadar bahwa kita sudah melakukan yang terbaik bagi tanah sendiri.


* Pemilihan kata yang agak berlebihan, namun dipertahankan karena aku kesal teramat dengan peristiwa itu.

Selasa, 05 Juni 2012

Ada

Kala rasa itu ada dan menghidupkan senyuman. Aku tersihir. Tanpa sadar nyata aku mampu menghadirkan sosokmu dalam bayang. Tahukah kau aku mendamba?

Hanya mencoba untuk menikmati waktu yang tersisa. Bayangmu yang penuh bisu memenuhi ruang pikirku. Andai kita mampu bercanda dalam khayal. Maka hariku akan dipenuhi dengan semangat. Adakah kau bersuara?

Namun ini semua semu. Seperti kabut di pagi hari, nyata tampak, hampa terasa. Aku akan tertidur di kala siang, menghentikan yang nyata dan menghidupkan duniamu.

Sampai jumpa di mimpi.

Kamis, 17 Mei 2012

Kalau

Andaikan aku tahu apa arti cinta. Bagaimana dia bisa menjelaskan apa yang terjadi dalam diri. Namun, cinta itu abstrak. Cinta itu bagaikan ilusi yang menjebak diri dalam buah pikiran yang seringkali memabukkan. Ilusi hanyalah ilusi.

Kalau memang hanya cinta yang mampu menjadi jawaban atas semua pertanyaan, itu sungguh jauh dari logika. Apakah harus begitu kompleks sehingga tidak mampu dipahami oleh logika? Atau karena aku tidak cukup memiliki logika yang tepat untuk menjelaskan semua?

Kalau cinta mampu membuatku tidak mampu membencimu. Mampukah aku membunuh cinta ini?

Selasa, 15 Mei 2012

Lampung dalam Keraguan

Hal yang paling menggetarkan adalah ketika mendengar pembakaran kantor Pemda Kabupaten Mesuji (3 Mei 2012), Provinsi Lampung. Sebelumnya kejadian pembakaran, patung Zainal Abidin Pagaralam di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, dirubuhkan oleh massa (Senin, 30 April 2012). Keduanya bukan peristiwa yang patut dibanggakan. Ini bahkan memunculkan pertanyaan. Apakah hanya kerusakan yang kita bisa?

Pembakaran kantor dilakukan sebagai wujud protes pencabutan Wakil Bupati Mesuji dari jabatannya. Pencabutan tersebut didasarkan atas status terpidana kasus suap. Harusnya tidak perlu ada penolakan dari simpatisan dan sebagainya. Toh, memang sudah terpidana. Sudah nyata bersalah. Bupati dan Wakil Bupati Mesuji dilantik pada 13 April 2012. Itu berarti masa jabatannya hanya 17 hari kalender.

Sebagai orang awam di dunia perpolitikan Lampung, pembakaran ini memicu buah pikiran. Tentang masyarakat yang menolak pemberhentian Ismail Ishak, mungkin rasa cinta dan percaya pada pribadi tadi begitu besar. Hebat kalau memang itu yang dimaksudkan. Dengan masa kerja yang hanya 17 hari dan selama itu pula dia berada di dalam Rutan, apa saja yang telah dilakukan? Pasti ada sebagian pula yang berpendapat, kalau mau diberhentikan buat apa dilantik? Sederhana saja, administrasi tetap harus berjalan sebagaimana mestinya. Dia kan Wakil Bupati Terpilih, ya, harus dilantik. Kalau tidak dilantik, juga tetap membuat keruh simpatisan. Kalau sudah dilantik, berarti jabatan sudah jelas. Dengan begitu, bisa diberhentikan.

Entah apapun itu. Membakar gedung pemerintah daerah suatu kebodohan. Terlebih, usia daerah kabupaten itu baru sekitar 4 tahun. Bisa dikatakan gedung masih baru, semua yang ada masih berfungsi baik (harusnya). Masyarakat yang mengaku simpatisan mantan wakil bupati membakarnya seperti hal itu bukan suatu kesalahan. Mengabu-bakarkan uang belanja daerah. Kebodohan.

Soal patung di Kalianda, Lampung Selatan. Tokoh Zainal AP adalah Gubernur Lampung kedua (1966-1973) yang banyak memberikan sumbangsih pembangunan. Sebagai salah satu yang memprakarsai pendirian Universitas Lampung.  Di masa pemerintahannya juga dibangun Pelabuhan Bakauheni dan Bandara Udara Raden Inten II.

Haruskah patung itu dirubuhkan? Banyak alasan yang memicu patung itu patut dibangun dan dirubuhkan. Mungkin sejak perencanaan juga tidak diterima dengan baik. Atau masyarakat merasa ada tokoh lain yang ingin mereka hormati, ada sejarah yang bisa diingat terus. Atau karena pembangunan patung tampak seperti arogansi Gubernur Lampung dan Bupati Lampung Selatan. Alasan demi alasan bisa dibuat oleh manusia. Namun, bagiku, merubuhkan sesuatu yang telah dibangun itu juga kebodohan. Itu bagaikan membakar uang sendiri.

Bagiku pribadi, kekacauan yang terjadi bisa memicu beberapa asumsi. Hal yang terpenting dan tidak dapat dihindarkan adalah ketidakmampuan pemimpin daerah untuk meredam kekacauan yang terjadi di sekitar masyarakat. Ketidakmampuan ini harus menjadi renungan adan masukan pemerintah daerah dalam melakukan tindakan selanjutnya. Melakukan pemetaan politik dengan baik. Mendahulukan kepentingan umum. Pemerintah memerlukan legitimasi dalam menjalan pemerintahannya, kekacauan bisa menghilangkan itu.

Kalau memang daerahku yang tercinta ini memiliki perpolitikan yang begitu kacau. Harus lebih sering menghela napas dan berjuang lebih agar dunia tetap menjadi lebih baik. Aku bosan dengan kebodohan.

Rabu, 02 Mei 2012

Surat untuk Sahabat

Rusa,


Akan selalu ada ruang di hati untuk adamu. Adakah kau baik-baik saja di sana? Pertemuan terakhir, ketika aku berkunjung ke kotamu, kita tidak banyak berbincang semana biasanya kita lakukan. Aku kadang merindukan saat-saat bodoh di masa lalu.


Aku hanya bisa berkata, "Jangan bersedih". Nyatanya, hanya kamu yang tahu apa yang sesungguhnya kamu rasakan. Apapun yang ingin kamu rasakan. Kamu harus tahu, ketika kamu tidak bercerita dan terdiam, aku menangis di dalam hati. Ketika kamu bersedih, aku pun bersedih. Sedihku hanya berdasar atas sedihmu. Sedihmu, hanya kamu yang tahu.


Entah kamu memiliki alasan yang tepat untuk bersedih. Andai aku tahu apa yang sesungguhnya kamu butuhkan agar kamu tidak perlu sesedih itu. Entah perlu kesedihan itu dijaga tetap ada. Jadi, mari kita bergembira.


Kamu tahu kebiasaanku, aku tidak akan bertanya sampai kamu mulai membuka cerita padaku. Sampai waktunya, aku akan terus bercerita tentang diriku. Maafkan untuk itu. 


Ayo! Kita rayakan kehidupan! Tertawakan kesedihan yang berlalu. Kita tertawa bersama.
I only a phone away from you.


Sahabatmu dari Lampung,
Madu

Senin, 27 Februari 2012

Peluk Hangat untuk Sahabat

Rabu malam lalu (22/02/2011), sahabat terbaikku mengirim pesan. Menyapaku dan simbol menangis. Hanya itu. Aku tahu dia bersedih, namun aku belum mengetahui alasannya.

Kalau memang dia bisa berkata, dia akan melanjutkan perkataannya. Sinyal buruk, pengiriman pesan tertunda. Aku menelponnya. Dia menangis. Seketika aku terdiam dan kehilangan kata. Apa yang terjadi?


Akupun mulai menangis. Aku tidak mampu melakukan hal lain. Apa yang membuatnya sedih, membuatku sedih juga. Andaikan aku dapat berada di dekatnya agar dia lebih kuat dan tegar menghadapinya.

Akan kudoakan yang terbaik. Selalu yang terbaik. Ingatlah untuk selalu kuat, untuk dirimu dan semua yang menyayangimu. Aku siap sedia kapanpun kau membutuhkanku.


Selasa, 14 Februari 2012

Semangatku Meredup

Hanya perlu satu bulan lebih beberapa hari, membuat seseorang menarik kata-katanya dan menjadikan itu semua sebuah perpisahan. Berakhir sudah. Kalau kita berjodoh? Sudahlah, yang benar saja, semua itu harus diperjuangkan. Hubungan dua manusia adalah perjuangan. Sekarang sudah terhenti, ya, berhenti, saja.

Hanya kehilangan orang terdekat yang (dulu) mungkin aku harapkan sebagai pelengkap kebahagiaan. Bertahun-tahun sudah kumengenalnya. Mengetahui apa yang mungkin terjadi, dan ini adalah salah satu di antaranya. Dia memperkecil dan meniadakan yang aku harapkan.

Patah semangatku. Ingin menangis saja. Ingin menghentikan semua rancangan aktivitas di depan mata untuk membenarkan kesedihan yang kurasa. Namun, itu adalah kebodohan jika benar dilakukan. Rasanya, ingin kudiamkan saja. Tiada perlu aku ungkapkan ke dalam tulisan yang dapat dibaca oleh siapapun. Entahlah. Mengungkapkan sesuatu di ruang publik membuat aku harus secara penuh sadar akan apa yang mungkin dipikirkan oleh pembaca. Dan membantuku berpikir, apakah yang sesungguhnya ingin kurasa.

Adakah selama ini dia benar temanku? Mungkinkah dia pribadi manusia yang menghargai manusia lainnya? Mungkin iya, mungkin tidak. Dia membenarkan adanya, bukan adaku. Kalau dia teman yang sudah bertahun lamanya, patutnya dia tahu waktuku yang tidak bisa diganggu oleh pikiran lain. Seperti hari ini. Ketika seharusnya aku berada di dapur, aku memilih di depan komputer.

Dia harus melakukan apa yang dia pikir harus lakukan. Begitupun aku. Tidak lama setelah ini, aku harus beraktivitas.Semua indah pada waktunya, (mungkin) kesedihan memiliki keindahan yang tiada kentara.

Rabu, 08 Februari 2012

Hanya Seorang Perempuan

Beberapa waktu ini, kadang aku sedih menonton film drama romantis. Bukan hanya karena itu adalah film drama, lebih karena romantisme menyiksaku. Hal-hal bodoh yang terjadi ketika seseorang jatuh cinta. Mungkin aku merindukan hal itu.

Dulu, aku pernah tersenyum lebar seharian jika mendapatkan pesan singkat. Atau sekedar berbincang pendek ketika berpapasan. Sesuatu menggelitik ketika seorang pria secara konstan menghubungi. Satu dua nama sering tersebut di dalam cerita bersama teman-teman terdekat. Selalu berharap setiap hari mendapatkan senyum bahagia.

Itu dulu. Sekarang? Aku seperti patah hati. Intensitas komunikasi tidak lagi bisa menjadi patokan ketertarikan secara romantis. Mendapatkan kejutan atau sesuatu yang membuat diri ini tersenyum, tampak sulit. Apakah aku sudah meninggalkan kemanusiaan? Atau ini sekedar respon terhadap yang sosial (masyarakat) inginkan?

Banyak temanku sudah menikah, memiliki anak, bahkan dua malaikat kecil yang begitu menggemaskan. Apakah aku terdorong oleh desakan yang tidak pernah membuat desakan buatku? Selalu membuatku bertanya-tanya, kenapa aku harus berbeda? Apakah aku melakukan sesuatu yang buruk? Aku memang buruk. Atau untuk mendapatkan percikan romantisme dalam hidup memang butuh perjuangan?

Bolehkah aku tahu perjuangan apa yang dibutuhkan? Pernah mencoba mengatakan kepada seseorang kalau aku menyukainya tapi itupun tidak membuat senyum melekat dalam waktu lama. Sekali dua mengatakan apa yang aku inginkan. Itu hanya aku. Bukan keinginan bersama.

Mungkin masalahnya adalah aku. Aku yang menginginkan hal dari orang lain. Mungkin aku harus berhenti berharap. Namun, ketika harapan mati, dunia runtuh.

Doakan saja aku bertemu priaku. Aku hanya ingin mendapatkan tambahan senyuman, tetap saja, aku hanya seorang perempuan.

Jumat, 03 Februari 2012

(Tak Berjudul)

Baru saja melihat video klip Maliq D'essential - Coba Katakan. Itu semacam membuat hati terasa tertohok. Mungkin benar. Temanku tadi siang men-tweet, "Orang yang ga move on itu orang yang masih membiarkan tampilan lama di facebook". Itu yang terjadi pada halaman facebook-ku.

...
Aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti
Lebih baik kita menangis dan terluka hari ini
...

Kalau memang ada seseorang yang bisa aku tanyakan agar ia mau mengatakan, aku mungkin akan lebih tenang. Apakah aku benar menunggu? Atau aku hanya berdiam diri hingga seseorang mengetuk? Atau ternyata hatiku telah membeku.

Aku memiliki kecemburuan kepada orang yang memiliki pasangan dan selalu memiliki alasan untuk lebih bahagia setiap harinya demi orang lain. Entah kenapa. Harusnya hal seperti ini tidak mengurangi nilai kita sebagai manusia individu, tidak juga menambah. Kenapa harus berpikir untuk memiliki pasangan? Bagiku, itu menyeimbangkan diriku yang penuh ketidakteraturan. Maka, jika aku memilih untuk menghadapi masalah yang aku miliki, aku akan menyeimbangkan diriku sendiri. Jika diriku telah seimbang sendiri, aku tidak memerlukan orang lain. Hal itu kembali ke dalam kondisi hati membeku.

Sekuat itukah diriku? Rasanya tidak. Aku masih memilih untuk memiliki pasangan. Aku ingin merasakan romansa. Ingin bersama seseorang yang entah bagaimana caranya membuat diri bisa melakukan yang lebih dari biasanya.

Dengan menulis tulisan ini, seakan-akan membenarkan keputusasaanku akan romansa. Bisa saja. Tapi aku tidak pernah mau putus asa. Ini pun seperti pengumuman besar-besaran. Akupun bingung. Entah apa mauku.

Mungkin aku hanya seperti perempuan pada umumnya, ingin diinginkan.

Biarkan aku terluka dan menangis jika itu membuatku terus melangkah demi masa depan.

Senin, 30 Januari 2012

Hidup Luar Biasa

Beberapa buku atau literatur, dan mungkin orang juga teman-teman, berpendapat judul itu harus menarik perhatian. Saya pun memilih judul Hidup Luar Biasa. Ide awalnya hanya sekedar ingin berbagi cerita tentang yang biasa dilakukan atau apa yang mungkin terpikir di sela kebiasaan tapi kalau berjudul hidup itu biasa-biasa saja, rasanya tidak tepat.

Hal pertama yang membuat luar biasa adalah kita hidup. Kita hidup di dunia yang begitu luar biasa dengan aneka ragam bentang alam, ragam budaya, cita karsa, dan nilai-nilai dalam sosial. Sudah lebih dari 10 tahun aku terhipnotis oleh kehadiran kupu-kupu dan segala fase metamorfosisnya. Sekarang, masih pula terkagum dan menyenangkan melihat si ulat memakan daun, fase perubahan ulat-kepompong, dan tentunya ketika kupu-kupu menghisap madu bunga. Untuk memperhatikan itu, kita harus berdiam dan bersabar. Bukan suatu kenikmatan yang bisa dilalui dalam sekelebat.

Berada di dalam satu keluarga, selalu memberikan rasa luar biasa. Kita selalu memiliki yang mendukung, mengkritik, dan menjaga. Aku memiliki orang tua super, semua orang tua bagi anaknya adalah super. Mereka selalu santai, minum kopi sambil bercanda gurau yang sering kali menjadi saling ejek. Kalau seluruh berkumpul akan seperti acara lawak. Memiliki kakak, memberikan rasa aman. Adanya seorang adik, mendorong rasa jagoan untuk menjadi penjaga. Keponakan juga selalu menjadi pencair dan penceria suasana. Menyenangkan.

Teman-teman luar biasa. Selalu membawa perbincangan yang memberi kehidupan lebih hidup. Interaksi demi interaksi memberi wawasan dan kebijakan. Sepatutnya tiap interaksi membawa kebajikan dan menambah kebijakan. Seperti ketika kita baru pertama kali berkenalan dengan seseorang dan perasaan kita sedang penuh kesal. Kalau kita cukup bijak dan mengenal diri dengan baik, kita akan tahu yang harus dilakukan untuk mengembalikan suasana hati kembali netral.

Keadaan yang kualami sekarang pun penuh keluarbiasaan. Biasanya, aku sering membaca buku dan menulis sesuatu di buku. Kebiasaan itu menjadi keterasingan. Menulis di blog juga seperti hal yang janggal. Ide tak kunjung datang dan menyelesaikan kalimat demi kalimat itu seperti hal yang begitu sulit. Apa aku mengeluh? Sedikit. Hidup harus bervariasi, sesekali mengeluh itu perlu biar ada pertanda bahwa kita tidak puas. Yang harus dilakukan berikutnya adalah bagaimana setelah itu. Maka, akupun mengetik tulisan ini.


Selalu anggap hidup itu indah dan menyenangkan. Sambut hari dengan bahagia. Tidak ada istilah biasa-biasa saja. Bagi kita biasa, mungkin bagi orang lain itu adalah sesuatu yang luar biasa. Adakah kita membiarkan orang lain mengetahui itu? Akankah orang lain sadar dengan itu? Kita harus beri ruang buat orang lain memberikan apa yang mungkin kita butuhkan. Biarkan hidup memberi kejutan. Siapa tahu kita akan mendapatkan hadiah tambahan.

Ingat untuk berkata dalam kalimat positif dan bermakna positif. Hargai orang lain. Hargai waktu. Mari kita menjadi pribadi yang lebih baik. Selalu.


Selamat menikmati hidup, Teman!

Senin, 23 Januari 2012

(Besok) Ketemu Siapa

Siapa saja yang kita temui hari ini, kita tahu ketika penghujung hari telah tiba. Sesaat menelaah siapa dan apa yang kita lakukan. Besok? Siapa yang tahu?

Kita bisa punya rencana kalau hari besok kita berdiam di rumah. Ternyata, orang tua, adik atau kakak dikunjungi oleh rekan mereka dan kita berkenalan. Bertambah satu orang di luar rencana awal. Bisa juga, berencana nongkrong di cafe sendirian. Kalau sendiri, harusnya tunggal, bukan jamak. Toh, itu pun langsung tergagalkan karena kita bertemu dengan pelayan. Di cafe itu pelayan beda dengan penjaga kasir, itu menjadi tambah dua orang.

Supaya lebih enak, kita andaikan aku duduk sendiri di cafe, memesan roti bakar dan segelas kopi tubruk (menu favorit). Ketika datang, sudah bertemu pelayan yang mencatat pesananku. Cafe tidak terlalu ramai, bisa saja ada yang mendatangiku dan mengajakku berbincang. Bisa pelayannya, bisa pemilik, atau sesama loner di cafe itu. Satu-dua cerita bisa mengalir dari lawan bicara yang saya baru kenal.

Biasanya, ketika awal perbincangan, saya lebih suka mendengar. Dengan mendengar saya bisa mengetahui siapa dia. Harus ingat selalu bahwa manusia, siapapun dia, membutuhkan pengakuan. Pengakuan yang paling sederhana adalah pujian. Tidak perlu didengar yang dibenci, berikan pujian tindakan yang dia senangi dan sesungguhnya dikagumi. Usahakan minimal penilaian atau tetapkan nilai positif untuk awal.

Lain cerita, aku sengaja menemui teman lama, sebentar saja. Siapa sangka kalau pertemuan itu memberikan keberkahan di masa yang datang. Tidak pernah akrab sangat atau apa. Hanya bertegur sapa sekejap. Tidak akan melukai diri, kan? Kita tidak pernah tahu sampai waktunya tiba, ternyata meneruskan silaturahmi penuh berkah.

Aku bisa merasa sangat bersalah kalau melupakan seseorang yang mengingatku dengan baik. Itu seperti menegaskan bahwa aku tidak layak untuk diingat. Alhasil, aku kadang berani melakukan hal memalukan, seperti menegur orang asing yang tampak akrab, yang bisa saja itu bukan orang yang aku pikir. Teman susah dicari, musuh selalu saja datang. Aku percaya kalau aku ingin diperlakukan baik oleh orang lain, maka akupun harus memperlakukan orang lain sebaik yang aku mau dan mampu.

Ada juga cerita tentang citra atau rekaman peristiwa akan sosok seseorang begitu melekat di ingatan. Dikarenakan rekaman itu, hubungan pada kekinian terganggu atau bahkan ditutup. Haruskah kita membiarkan luka lama terus menganga?

Biar lebih jelas, diberi contoh tentang aku. Ketika SMA, teman-teman baik dan akrab sewajarnya menganggap aku pribadi yang baik dan juga aneh. Namun, kalau yang tidak mengenal baik, apapun yang ingin mereka ingat tentang diriku, itu terserah pada mereka. Ada yang membocorkan kalau aku dianggap judes dan sombong. Wow! Itu menarik sekali. Membuktikan bahwa aku mampu menjadi pemeran antagonis dan refleksi diri atas kekurangan. Harapan untuk sekarang adalah semoga mereka memberiku ruang untuk merubah atau mungkin membenarkan persepsi itu.

Kita hanya mampu tahu ketika waktu itu tiba. Kita mungkin tidak akan pernah tahu kalau orang di sebelah kita adalah pengusaha sukses yang sedang memikirkan untuk membagikan uangnya tanpa alasan. Kita mungkin tidak tahu kalau orang yang baru kita kenal tadi adalah teman akrab dari pasangan teman baik kita yang sudah lama tidak bersua. Atau ternyata, orang yang kita kenal ini adalah yang memperkenalkan kita dengan jodoh kita, bahkan bisa saja dia adalah jodohnya. Mulailah mengenal, mulai sebuah perjumpaan.

Mungkin.

Setiap pertemuan membawa cerita.

Minggu, 01 Januari 2012

Cinta Semanis Cupcake


Cinta dalam potongan kue, pastilah manis. Kebanyakan kue memang terasa manis, walau ada juga yang sedikit asin seperti cheesecake. Kalau sepotong kue, cupcake, bisa menceritakan atau merealisasikan perasaan yang abstrak menjadi nyata: cinta itu manis.

Kalau boleh, kali ini aku akan tetap menggunakan cupcake daripada kue mangkok. Pemaknaan yang terjadi kalau menggunakan kue mangkok adalah kudapan tradisional Indonesia dengan tepung beras dan dikukus. Untuk itu, digunakan cupcake untuk menghindari kecampuradukkan. Kesannya sangat membenarkan penggunaan bahasa asing dalam bertutur bahasa Indonesia. Mohon maaf sebelumnya, tiada maksud.

Beberapa waktu belakangan ini, aku berkutat dengan cupcakes. Meneruskan yang telah dimulai oleh adikku tersayang, sekarang kami bersama-sama mengerjakan ini. Kebanyakan pemesan cupcakes adalah perempuan. Sebagian membeli untuk perayaan ulang tahun teman, seringkali pacar, dan sekali dua untuk orang tua mereka. Ada juga yang pemesannya pria, seorang pacar atau ayah.

Aktivitas ekonomi ini membuatku menjadi mempertanyakan atau tersadarkan atas konsepsi cinta. Ah! Membicarakan cinta memang perlu konsep? Rasanya cinta itu abstrak (padahal rasa itu indra pengecap dan abstrak itu bentukan ide). Cinta memiliki kebebasan untuk pengartian. Aku, anda, kamu, mereka bisa memiliki konsep yang berbeda, namun merasakan cinta yang serupa tapi tak sama.

Akankah kamu tersenyum bahagia ketika seseorang memberikan cupcakes?
Akankah aku tersenyum jika kamu atau entah siapa memberikanku cupcakes?

Kalau aku berpikir bahwa senyuman atas alasan cupcakes itu rancu, berarti aku meluluhkan konsep romantisme dalam hidup. Bisa jadi aku menjadi seperti dr. Bones, yang mengakui cinta hanya sekedar reaksi kimia (walau sekarang dia mulai menerima adanya cinta). Kalau itu yang terjadi, aku bisa menjadi orang tanpa perasaan. Berdiri hanya berdasarkan logika. Seperti menanggalkan rasa kemanusiaan yang membedakan kita dengan makhluk hidup lainnya.

Kalau benar aku atau kamu tersenyum ketika diberikan cupcakes oleh siapapun, maka cinta itu manis.  Kecuali orang yang berusaha meracuni atau berniat jahat, semoga tidak ada yang berbuat itu. Berharap saja penerima cupcakes menyukai makanan manis. Maka, sesuatu yang abstrak menjadi nyata. Sebuah perasaan bisa terasa oleh indra pengecap manusia. Cinta itu manis!

Perasaan kita ketika menerima perhatian dari orang terkasih adalah perasaan yang luar biasa. Perhatian itu ditambah dengan perwakilan wujud cupcakes, menambah efek debaran jantung mempesona. Oh, begitu indah hidup ini. Ketika orang lain memberikan cupcakes dengan muka tersenyum, pastilah kita tersenyum. Ketika dia menyebarkan aura kebahagiaan, terkenalah kita oleh kebahagiaannya. Kita hanya perlu menerima, dan semua tersenyum bahagia. Jika kita memakannya, maka benar sudah tentu: cinta itu manis.

Ada cinta anaknya memberikan pada sang mama ketika Hari Ibu, 22 Desember. Ada cinta si pacar ketika tanggal bulan itu mengingatkan ketika pertama menjadi pasangan. Ada juga tante terbaik yang memberikan keponakannya kue super lucu. Dihiasi dengan warna-warna favorit dan bentuk representasi kesukaan. Cupcakes yang seakan-akan mencitrakan adanya penerima. Penegas nyata atas abstrak.

Maka romantisme berjaya. Setangkai mawar, sekotak coklat, sepotong cupcakes, dan seorang terkasih. Lestarilah romantisme. Cinta untuk semua!


Jadi, aku patut menasehati diriku sendiri. Cinta itu terasa. Percayalah pada cinta. Cinta itu nyata, cinta itu semanis cupcakes.


Salam cupcakes, Manis!