Kamis, 01 Desember 2011

Isu di November 2011

Aku mungkin jadi orang paling terakhir yang memiliki kepedulian atas yang terjadi di dunia Indonesia. Ada tiga isu yang terasa seru dan menantang untuk dibahas. Pembunuhan satwa yang dilindungi, pernikahan anak Presiden dan Menteri, dan runtuhnya jembatan.

Aku mencoba membahas dengan kata yang positif. Bagi orang lain, mungkin akan memilih kata yang bermakna negatif. Menjadi perhatian juga mengenai kebiasaan kita membicarakan suatu hal dengan makna yang positif, ini juga suatu latihan bagiku. Lalu bagimana dengan kritik? Ah! Belum apa-apa sudah mau mengkritik, dimana niat baik manusia?

Hal satu berkaitan dengan lingkungan hidup. Hal kedua terkait hubungan sosial masyarakat. Hal ketiga berhubungan dengan keilmuan teknik sipil. Kesamaan dari semua itu adalah semua terkait kehidupan manusia. Manusia sebagai pelaku kejahatan, manusia sebagai makhluk sosial, juga tentang manusia dan keilmuannya. Semuanya terjadi di Indonesia.

Minggu lalu, banyak pemberitaan tentang perusahaan minyak milik Malaysia di Kalimantan melakukan pembantaian orang utan. Hewan yang dilindungi oleh Republik Indonesia itu dianggap sebagai hama karena mempengaruhi hasil panen. Perburuan ini seperti perburuan harta. Di media elektronik, dinyatakan bahwa bagi mereka yang membunuh dan membawa bangkainya akan diberikan imbalan Rp. 200.000 - Rp. 1.000.000. Perkara serius!

Ditemukan lebih dari 80 potongan tulang rangka orang utan, monyet, dan bekantan. Ada pula bukti foto peristiwa pembantaian atau pembunuhan satwa-satwa tersebut dan juga catatan pembayaran imbalan untuk bangkai satwa-satwa itu. Apa yang hendak ia nyatakan melalui pembunuhan itu? Bahwa kekuatan ekonomi memiliki kekuatan tiada batas?

Kelalaian atas pengawasan perburuan menjadi perhatian. Kepentingan akan keberadaan species dan populasi dipertanyakan. Apa manusia memang ingin hidup sendiri di dunia ini? Kalau memang ingin egois, itu lain hal. Kalau memang seegois itu berarti tidak percaya Tuhan. Kalaupun tidak percaya Tuhan mungkin masalah pribadi tapi kalau tidak percaya juga dengan keseimbangan alam semesta. Jadi? Apa yang dia (pemburu) percayai benar-benar menimbulkan pertanyaan. Bahkan hukum yang disepakati oleh para manusia pun diabaikan. Entahlah.

Manusia sesungguhnya saling membutuhkan. Sesederhana itu. Anaknya presiden, aja, butuh istri, kok. Kenapa anak Presiden menikah banyak heboh, ya? Mungkin baiknya aku tidak menggunakan kata banyak, toh, heboh juga sudah mengisyaratkan sesuatu yang banyak. Ada yang protes kalau perayaan pernikahan itu menghabiskan banyak uang. Ada yang senang melihat kemegahan perayaan. Ada juga yang tidak peduli. Sudah lewat. Terserah anda, kamu, dan kalian semua.

Menarik untuk dilihat adalah kain tradisional yang semua orang pakai di acara itu. Kain songket yang mereka gunakan ketika acara akad nikahnya, luar biasa menggoda. Andaikan aku bisa memiliki kain seperti itu, serasa orang kaya. Songket yang dibuat dengan kerapian dan waktu yang lama. Penghargaan terhadap proses. Ke-Indonesia-an yang cukup. Sekarang orang bisa melihat perayaan itu sebagai salah satu contoh menggunakan tradisi adat, walau sebagian, bisa memberikan sentuhan yang menarik dalam acara.

Selesai mengomentari jumlah dana yang dihabiskan dalam acara penyatuan keluatga dan dua insan, sebuah jembatan runtuh. Korban jiwa, korban mobil, dan korban keserakahan. Mungkin karena terlalu serakah, ketika membangun tidak begitu banyak pertimbangan mengenai skenario terburuk, jembatannya runtuh. Teringat kembali ketika menonton acara di saluran yang ada di saluran berbayar, pembangunan jembatan dianggap suatu hal yang super serius. Didokumentasikan dengan baik dan kemudian disebarluaskan sampai berulang kali diputar secara internasional. Kalau pembangunan tiap jembatan besar di Indonesia dibayangkan atau dibuat dokumentasi yang akan disebar secara internasional, mungkin perhatian para stakeholder lebih waspada. Pembangunan yang menjadi kebanggaan nasional. Semoga kalau Jembatan Selat Sunda berhasil dibangun, itu benar akan menjadi kebanggaan nasional.

Sekiranya itu yang bisa aku tuangkan. Lebih kurang silakan dicari kebenarannya melalui berita terkait lainnya di media massa atau media yang anda, kamu, dan kalian percaya. Tulisan ini sekedar celotehan pikiran tanpa belenggu.

Buat bangsamu bangga!
MERDEKA