Kamis, 24 November 2011

Bandung: Riau-Cihampelas

Aku dan sahabat baikku sedang menikmati kota Bandung. Malam itu, kami berencana untuk menuju Cihampelas Walk, menikmati kota secara kapitalis hedonis tapi kere. Kami berangkat dari tempat kami menginap, di Jl. R.E. Martadinata (yang lebih dikenal dengan Jl. Riau). Dikarenakan bulan sudah menunjukkan dirinya di waktu malam, kendaraan umum agak sulit untuk didapat. Tak lama dari perbincangan rencana keberangkatan, kami pun mendapatkan taksi.

Ini kebiasaan yang saya lakukan ketika masuk dalam taksi, mengucapkan salam dan memulai percakapan. Kenapa? Supaya tetap waspada. Dengan perbincangan, kita bisa melihat kemampuan dia memilih kata dan kesantunan dia dalam berinteraksi. Sederhananya, hanya untuk menghargai hidup. Sebuah cerita harus diucap agar menjadi kisah hidup.

Diawali dengan armada taksi yang dia bawa, tampak baru bagi saya. Maklum, sudah lama tidak bertegur sapa dengan bandung. Armada taksi itu belum genap setahun. Kemudian, dengan rasa penasaran saya mengenai sistem perekrutan di perusahaan jasa taksi, saya pun menanyakan sejarah pekerjaannya.

Ternyata, sebelumya dia bekerja sebagai supir. Beberapa kota besar dia sebutkan sebagai kota tempat dia bekerja. Sampai pada kisah mengenai satu waktu, kerusuhan Mei 1998. Pada waktu itu dia bekerja sebagai supir yang juga bisa dibilang sebagai orang kepercayaan, bosnya keturunan Tionghoa. Dia juga keturunan Tionghoa. Seperti yang banyak dikisahkan, situasi ketika itu begitu menegangkan. Ancaman berkali lipat bagi para keturunana Tionghoa, sampai sekarang pun luka itu masih ada.

Dia menceritakan kejadian yang dia alami ketika itu. Sehari sebelum bentrok terjadi, seorang temannya dari Bandung mendatangi kostannya, temannya membawa mobil. Kalau tidak salah ingat, ia tinggal di daerah Tanah Abang. Di pagi hari, temannya sedang pergi meminjam motornya. Ketika itu suasana mulai tegang. Dia buru-buru memindahkan mobil temannya. Dia mengenakan pakaian seadanya, kaos dalam, jaket, dan celana pendek. Untungnya, ketika dia keluar, temannya datang. Motornya dia masukkan ke dalam kamar, dan mereka pun bergegas meninggalkan tempat.

Ketegangan begitu terasa dalam kisahnya ketika dia memilih rute yang akan dia pilih. Berusaha menghindari keramaian dan kerusuhan yang terjadi. Ketika dia masuk tol, mobil militer datang menghampiri dan menanyakan tujuannya. Kemudian dia pun dipandu oleh petugas militer tersebut untuk memastikan keamanannya. Perjalananpun ia lanjutkan. Satu waktu, dia hendak membuang air kecil, karena suasana yang begitu tegang, dia lakukan itu dari atas atap mobilnya dengan pemandangan kerusuhan luar biasa. Dari jalan tol itu dia bisa melihat kebakaran dan penjarahan lainnya.

Malamnya dia sudah berada di Bandung. Hari kedua dia ditelepon oleh bosnya untuk kembali ke Jakarta. Keadaan mulai terkendali. Dia diminta untuk menjaga rumah kediaman bosnya karena bosnya melindungi diri dan keluarganya menginap di hotel dekat bandara. Dia banyak beraktivitas di halaman rumah, tidak tinggal di dalam rumahnya.

Kesan yang kudapatkan begitu luar biasa. Siapa yang mengira akan mendapatkan cerita begitu hebat pada malam itu? Supir ini adalah orang yang berloyalitas tinggi, kesimpulan diambil atas ceritanya ketika menunggu kediaman bosnya. Dia juga bukan orang yang mudah takut, toh, dengan pergejolakan ketika itu dia masih mampu menguatkan hatinya untuk terus melanjutkan perjalanan ke bandung, bukan juga menjarah atau membuat keadaan lebih buruk.

Kita tidak akan pernah tahu kalau kita tidak bertanya. Kita mungkin tak akan tersadar kalau kita tak mendengar. Maka bertanyalah, dengarkanlah kisahnya. Agar nanti kita makin tahu dan kita makin bijak.

Ini bukan kali pertama saya mendengar cerita tentang Mei 1998. Bagi pribadi yang memiliki kenangan istimewa di waktu itu, entah mengapa tampak itu membentuk suatu kepribadian dalam diri mereka. Ini seperti penggalan sejarah di dalam tiap pribadi manusia Indonesia. Subjektivitas begitu kental di tiap cerita dan itu yang membuatnya lebih hidup. Malam itu, ceritanya bertambah satu.

Bapak Chandra telah menambah perjalanan saya dan teman saya lebih berarti. Terima kasih atas ceritanya. Semoga kebaikan terus menyertai Bapak.

Jumat, 04 November 2011

Cerita Perempuan

Minggu lalu aku membaca buku. Penulisnya adalah Pramoedya Ananta Toer, judul bukunya Catatan Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer. Buku ini dipilih karena saya membutuhkan inspirasi tambahan dan stimulasi yang tepat bagi perkembangan otak.


Penggalan cerita, yang ditulis di belakang buku, mengetuk hatiku dan menarik perhatian dompetku untuk membelinya. Dia bilang,
"...kalian para perawan remaja, telah aku susun surat ini untuk kalian, bukan saja agar kalian tahu tentang nasib buruk yang biasa menimpa para gadis seumur kalian tahu tentang nasib buruk yang biasa menimpa para gadis seumur kalian, juga agar kalian punya perhatian terhadap sejenis kalian yang mengalami kemalangan itu.... Surat kepada kalian ini juga semacam pernyataan protes, sekalipun kejadiannya telah puluhan tahun lewat..."


Membiarkan juga bisa menjadi tindak kriminal. Jika aku berdiam diri dan mengabaikan adanya buku ini, berarti aku mengabaikan adanya kemalangan yang dulu pernah terjadi. Ini adalah surat peringatan. Seperti kepanikan seketika akan melanda. Sesuatu menjadi perhatian, perempuan harus lebih peka terhadap diri dan kaumnya.

Hal yang paling menjadi perhatianku adalah bahwa generasi terbaik Indonesia dihilangkan oleh Jepang. Putri-putri petinggi, putri-putri terbaik yang bercita-cita untuk menjadi pemimpin dikarenakan kebohongan, mereka menderita kemalangan. Gen-gen terbaik yang dulu pernah ada, tidak dapat dilanjutkan karena mereka menghilang. Mereka menghilang bukan atas kemauan tapi karena kebohongan dan kekejaman. Mereka adalah gadis-gadis yang hendak menjadi pemimpin bangsa tidak mampu kembali dan menjadi yang seharusnya. Mereka yang berasal dari kalangan berada, bisa saja menjadi nenek buyut kita. Mereka bisa saja yang menjadi inspirasi dalam keluarga dengan mengajarkan ilmu yang mereka miliki. Sebelum mereka membuahkan karya, mereka digagalkan oleh janji palsu.

Kita kehilangan (calon) pemimpin perempuan yang cemerlang. Kalau kita andaikan para generasi ketika itu benar bersekolah, mereka pastinya akan kembali demi kebaikan. Kalau memang kebaikan ditegakkan, semoga kita lebih mudah untuk menjadi bangsa yang maju. Keterlibatan perempuan dalam perkembangan bangsa dan negara dapat lebih signifikan. Kita bisa saja memiliki teladan terbaik di dalam lingkungan keluarga terdekat. Aku bisa saja memiliki nenek buyut yang bersekolah kebidanan di masa Jepang. Kamu juga bisa saja memiliki nenek buyut terpintar di kampung halaman. Namun itu semua pengandaian, kenyataan berbeda.

Dalam buku itu, Pram juga menyatakan bahwa berikutnya adalah tugas bagi kita semua melanjutkan apa yang telah dia mulai. Kita patut juga mencari para putri yang hilang dan menegakkan keadilan atas hak asasi yang tertindas oleh tentara Jepang. Ini masalah bangsa, kita sebagai generasi bangsa harus berjuang.

Menuliskannya ke dalam blog ini adalah salah satu perjuangan yang dapat kulakukan. Menyatakan hal yang dapat dibagikan kepada publik bahwa bangsa Indonesia seringkali mengabaikan sejarah. Sejarah bukan hanya cerita heroik tapi juga cerita kepedihan yang membisik.

Namun, apalah arti tulisan ini kalau yang membaca tidak kembali memaknai tentang ini dan meneruskannya kepada yang lain. Kepatutan kita sebagai manusia membela yang baik bagi manusia lainnya. Menjalani hidup dengan kebaikan. Memilih jalan yang baik bagi kita dan semoga baik juga bagi orang yang ada di sekeliling kita. Kearifan dalam mengambil hikmah dalam tiap torehan interaksi dan renungan peristiwa.

Ini bukan sekedar cerita lalu, ini tentang bagaimana di masa datang. Akankah kita selalu membiarkan keburukan terjadi di sekitar kita? Akankah kita menjadi pribadi terbaik yang kita mampu capai? Mampukah kita menjamin kebaikan bagi generasi penerus?

Semoga yang pernah terjadi hanya menjadi rekaman sejarah. Kejadian buruk berhenti. Kebaikan akan terus diputar dari waktu ke waktu. Ini bukan sekedar tentang perempuan,  ini tentang manusia, manusia Indonesia.