Kamis, 27 Oktober 2011

Kami (Aku) Kehilangan

Hari Minggu, 23 Oktober 2011 adalah hari Minggu yang sulit untuk dilupakan. Rentetan waktu yang teracakkan oleh emosi yang bergejolak di hari itu. Pagi itu, sekitar jam 09.10 WIB, Sidahku meninggal dunia.


Ketika aku memasuki ruang tidurnya, aku hanya bisa menitikkan airmataku. Badannya sudah tidak melakukan apapun. Tanteku memegangi tangannya, Wak Ibu memegangi mulutnya. Dia telah pergi. Jiwa dan raganya telah berpisah.

Dia yang bernama Hj. Aliyah binti Muhammad Hasan meninggal di usia 88 tahun. Ia dan suaminya, Amir Hamzah Djauhari bin Saleh memiliki 6 orang anak, 5 orang menantu, 17 cucu, 6 cucu menantu dan 12 cicit. Cucu laki-laki pertamanya bernamakan Amir, dan cucu perempuan pertamanya bernama Alia (kakakku yang tertua).


Sebagai cucunya, sosok yang kudapatkan dari seorang Sidah adalah dia orang yang selalu tertawa dan tersenyum. Seumumnya seorang nenek, memiliki kehangatan yang lebih untuk cucunya. Sering melihat sepupuku bercanda ria dengannya, diapun membalas dengan tertawa ringan.

Belakangan dia menggunakan kursi roda karena tulangnya tak mampu lagi menopang tubuhnya. Awalmya, dia sering menolak atas alat bantu itu, kelamaan dia juga memahami tubuhnya yang melemah seiring bertambahnya usia. Kalau dia sedang duduk di kursi, salah satu cucunya terkadang bermain dengan kursi rodanya.

Hari ketiga setelah dia pergi, papaku masuk ke kamar yang biasa Sidah tempati. Dia keluar dan berkata, "Eh, Ummi udah ga ada.". Cicit-cicitnya yang rajin mengunjunginya juga memiliki kebiasaan, "Uyut mana?". Hanya satu kalimat tanya sederhana. Menjadi pengingat yang tadi ada, sudah pergi. Dimas, keponakanku itu, belum pula genap berumur 3 tahun. Dia kehilangan satu kebiasaan yang dia lakukan ketika mampir ke rumah Atu-nya, mencium tangan Uyut.

Aku merasa iri dengan sepupuku yang lain. Mereka tampak memiliki kedekatan yang lebih dibandingku. Mereka memiliki cerita yang aku tidak miliki. Aku hanya memiliki kurma, pisang, pepaya, sawo, atau buah lainnya yang kadang kuantarkan untuknya. Entah benar atau tidak, kurasa buah yang paling dia suka adalah pepaya dan sawo. Sayang yang penuh cinta kan kukirim untuk Sidah dan Sidi, semoga mereka terus memberikan kekuatan dan inspirasi dalam hidup.

Kami semua mengecup keningnya untuk terakhir kalinya. Semuga Allah SWT memberikan keringanan bagi Sidahku. Beliau dimakamkan di pemakaman keluarga, Kotabumi, Lampung Utara.

Hj. Aliyah binti Muhammad Hasan
Sidah dan Sidi bersatu kembali, setelah 11 tahun terpisah.

Kamis, 20 Oktober 2011

Gemar Makan

Ternyata aku sangat gemar makan. Bukan sekedar untuk kebutuhan biologis tubuh sebagai sumber tenaga. Menikmati makanan itu memiliki kebahagiaannya. Memakan makanan enak membuatku menjadi lebih menghargai hidup.

Ini juga yang mungkin menjadi pembenaran jika berat badanku naik. Tidak masalah. Selama hati senang, dunia kan terasa damai. Paling seru kalau punya teman makan yang juga suka makan, makin rusuh, deh, makannya.

small cupcakes
Minggu lalu aku pergi ke Jakarta. Alasan utamanya adalah untuk menghadiri pernikahan sepupuku. Aku memiliki kebiasaan untuk memiliki beberapa tujuan dalam satu perjalanan. Sudah sekian lama penasaran dengan cupcake-nya Jollyroo. Mungkin gara-gara nonton DC Cupcakes, membuat rasa penasaran semakin tinggi akan cupcakes. Ketika masih di Lampung, aku memesannya. Dengan bantuan teman yang baik hati, aku bisa mengambil pesananku, 25 buah cupcake dengan 9 rasa. Seru yah? Ada yang rasa green tea, red velvet, blueberry, strawberry, carrot, dan masih banyak lagi (berasa bahasa iklan). Karena kecil, dua kali gigit sudah habis dan beralih ke rasa yang lain. Untung sempat difoto, hampir khilaf melahap semuanya.

Ramen at Senpachi 38 - Plaza Pondok Indah
Rasanya lapar kalau belum memakan porsi makanan yang tepat. Titik pemberhentian berikutnya adalah Senpachi 38. Restoran itu selalu memiliki kenangan karena pertama kali makan (di gerai yang berbeda) bersama sahabatku dan dia menceritakan tentang restoran ini dengan mata berbinar-binar. Sayangnya, kemarin aku lupa menu apa yang aku pesan. Rasanya istimewa, walau agak janggal bagi lidahku tapi bagiku tetap menyenangkan.

Di hari terakhir, aku jalan-jalan sendirian. Kalau siang patutlah kita mencari makan siang. Teman baikku bilang, "Katanya Mr. Curry enak tuh!". Berdasarkan rekomendasi itu, ketika aku melihat ada Mr. Curry, aku langsung menghampiri. Ternyata mereka mempunyai paket makan siang. Hore! Walau tidak pernah terasa menyenangkan makan sendirian tapi semua itu enak!

Fish Katsu Curry Rice - Mr. Curry
Terakhir, sebelum menuju bandara, aku mampir sekejap di Tea Party Cupcakes. Aku membeli 3 buah cupcakes dengan 3 rasa (Red velvet, hazelnut, dan green tea) sebagai oleh-oleh untuk adikku.
Green Tea flavor - Tea Party, Jakarta Selatan

Kalau mau hidup enak, makan enak, dong!

Rabu, 19 Oktober 2011

Sesuatu Menggelitik


Ketika kita melintas di jalan yang melewati desa atau perkampungan, sering membuat merindu. Suasana itu mampu menggiring kita dalam keterasingan. Apa yang membuat mereka menjadi asing? Karena mereka memiliki bangunan rumah yang berbeda, cara berpakaian yang berbeda. Membuat kita merindu akan kenangan.

Kota yang kita tinggali seperti mengalami perubahan sebagaimana mestinya. Tidak pernah terlibat khusus dalam perbincangan atau perdebatan terkait sejarah perkembangan perkotaan. Yang terasa sekarang, perubahan terjadi karena pergantian pemimpin, entah dalam aspek atau wilayah manapun.

Secara global, banyak orang memberi pandangan bagaimana suatu perkembangan di negara akan mempengaruhi negara yang lainnya. Dalam teknologi, hal itu yang mempermudah kita untuk mengakses informasi, apapun informasi yang kita butuhkan. Dengan begitu, sudah sepatutnya kita lebih pandai dari generasi kita sebelumnya.

Masihkah kita hendak bertanya pada yang tua?

Perjalanan bulan ini, mendorongku untuk memiliki perbincangan dengan orang yang hidup di bukan daerah perkotaan besar. Sekedar menanyakan kabar, berbasa-basi. Kesederhanaan yang mereka miliki menjadi ketertarikan tersendiri. Kalaupun tidak sederhana, selalu menyenangkan mendengarkan cerita yang berbeda dengan pengalaman kita.

Seorang bapak tinggal di tepian danau, ia tinggal bersama keluarganya. Mereka tinggal di rumah kayu. Tanamnya ditata dengan rajin, penuh dengan bunga. Tidak berlebihan. Secukupnya saja. Ketika aku hendak ke kamar mandi, aku melintasi ruang keluarganya. Beberapa anggota keluarganya sedang menonton televisi dan televisinya layar datar yang berukuran besar! Luar biasa.

Aku pun kemudian bertanya tentang aktivitas yang dia kerjakan. Dia menceritakan dengan kerendahan hatinya tentang keramba ikan yang dia miliki. Tempatnya dulu bukan rumah yang sekarang dia tempat. Dia bilang, "Makanya saya bilang rumah ini rumah ikan karena hasil dari ikan itulah saya bisa bikin rumah ini.". Hasil panen ikannya berton-ton, satu kilogram ikan nila itu memiliki harga jual sekitar Rp. 25.000, tergantung harga di pasar. Ketika ramadhan tiba, panen terkadang tidak sesuai dengan berat ikan ideal. Itu berarti dengan kehidupan yang seperti dia jalani mampu menghidupi keluarganya.

Kalau aku tidak bertanya? Tahukah aku tentang kisah itu?

Kadang membuat terpikir, mungkin itu salah satu peluang yang patut dicoba, berternak ikan. Kalaupun memang iya hendak dilakukan, sepertinya saya harus belajar banyak. Tiap dari kita memiliki kisahnya sendiri. Mungkin kalau kita mendengar lebih banyak, kita bisa belajar lebih banyak.