Rabu, 22 Juni 2011

Entahlah

Aku menyerah. Terbingungkan oleh orang kalau mereka mulai berkomentar tentang seseorang yang belum juga menjadi orang terdekat. Kenal pun belum. Kenapa, ya?

Paling takut kalau itu terjadi sebaliknya pada diriku. Coba bayangkan, kalau suatu hari aku sudah memilih pakaian yang baik untuk keluar dari rumah. Ketika di suatu keramaian, seseorang melihatku, dia berpendapat, "Pasti dia orangnya bawel deh." Memang tidak perlu tersinggung dengan pernyataan itu, sudah benar adanya. Yang menjadi menakutkan adalah pernyataan itu keluar sebelum dia mengenalku. Belum ada interaksi signifikan.

Bahkan sudah sekian lama kenal dengan orang, rasanya masih saja tidak cukup baik mengenalnya. Ada teman yang dikenal semenjak Sekolah Dasar tapi tidak menjamin persahabatan. Hanya mengingat orang yang hendak diingat saja. Ketika di SMA, hanya satu tahun sekelas dengan temanku tapi ternyata beberapa waktu belakangan, dia menjadi partner in crime. Menjadi tamu perkawinan teman sekolah bersama-sama. Kalau diingat-ingat, dulu hanya sesekali aku berbincang panjang lebar dengannya. Entah apa yang membuat menjadi akrab kembali.

Ngomong-ngomong, paling sebal kalau dengar, "Kenapa lo ga sama si -entahsiapa- itu aja?". Kalau memang berjodoh, siapa yang menolaknya. Kalau tidak, jangan pernah ungkit itu lagi. Dengan menganggap, semua itu mungkin dan kepastian hanya terjadi pada waktunya. Yang lampau menjadi fakta. Semua orang memiliki kemungkinan untuk berjodoh. Makanya, sulit untuk bilang, "Ah, itu ga mungkin.". Kalau itu hal itu benar terjadi, berarti mengingkari perkataan sendiri. Pengingkaran berarti pembohongan. Dan aku juga tidak pernah terlalu suka dengan si bohong.

Anggapan itu juga yang membuatku tidak bisa menjawab, "Maunya gimana?". Siapa yang bisa tahu kalau yang kita mau itu benar terhadap yang kita juga butuhkan. Apalagi kalau, "Maunya siapa?", itu lebih tidak akan terjawab sama sekali. Mulut bisa terkunci. Setiap orang istimewa, kedekatan yang dimiliki memiliki keunikan yang khas. Teman saya bilang, "Harus tahu dong yang kamu mau.". Kalau itu yang harus, aku menyerah saja. Aku tidak bisa menentukan.

Mungkin ini buruknya jadi Sagitarius si jiwa bebas. Keinginan untuk bermain terlalu tinggi. Ada juga berasumsi, sulit untuk berkomitmen.

Kalau tiap kalimat yang terucap akan mengirimkan gelombang kepada dunia, itu artinya kalau ada yang menyatakan sesuatu, hal itu mungkin terjadi. Kalau lebih sering terucap dan diucap, kemungkinan terwujud semakin besar.

Entahlah. Bingung.

Pikiranku meracau.

Senin, 13 Juni 2011

Orang Baik

Saya kangen menulis. Beberapa waktu lalu, sempat pengen nulis tentang Negara. Topik yang jarang sekali saya bahas di blog ini, bukan berarti tidak mungkin. Sayangnya, kalau mau membicarakan negara, tidak sembarangan. Saya harus menelaah beberapa, memiliki contoh satu-dua. Saya juga patut mengetahui apakah contoh itu tepat atau tidak. Untuk saat ini, itu bukan topik yang mudah buat saya bahas.

Tapi saya merindu. Kalau orang bilang -tentu saja orang yang bilang karena saya belum bisa bahasa makhluk hidup lain-, menulis itu jangan dipaksakan. Itu pun ada benarnya karena blog ini saya buat untuk berbagi kesenangan dan kebencian saya terhadap hidup. Kalau tidak ada waktu senggang, tidak perlu susah mencari. Kalau tidak ada yang mau dibagi, jangan pula menjadi pembohong.

Salah satu teman saya juga melabelkan blog saya yang ini sebagai blog curhat, curahan hati. Untuk mendukung pernyataan, marilah kita mencelotehkan apapun yang saya punya. Kadang saya merasa tidak adil kalau meracau tentang hal-hal personal di kala orang juga ingin membahas atau membutuhkan stimulan bagi ide pikiran yang lain. Sudahlah. Apapun yang membuat saya senang.

Tadi sore ada teman ketika saya SMP menegur via online. Sebenarnya saya juga satu SD dengannya. Diawali dengan menanyakan kabar. Kemudian dia berbasa-basi juga. Ada yang membuat saya tertegun. Ketika dia bertanya tentang rumah saya, apakah masih di lokasi yang sama. Dia juga menanyakan kabar abang saya.

Apa yang aneh? Kok jadi tertegun? Karena saya tidak tahu berapa saudara kandung yang dia miliki, bahkan alamat rumah dia, sekarang ataupun dulu. Dia lebih peduli dari saya. Saya jadi malu. Saya cuma ingat nama lengkapnya dan hari dia ulang tahun karena sama dengan hari ulang tahun papa saya.

Kalau mau diingat orang harusnya kita juga belajar mengingat orang. Tadi di acara keramaian, ada dua orang menegur, "Inget aku ga mbak?". Saya cuma bisa senyum dan menggali ingatan sebentar yang tetap saja kosong. Berpikir, harusnya sih ingat tapi kenyataannya tidak. Ingin bilang, "Maaf, loh, aku ga inget". Kesannya, kok, tega.

Terasa seperti kita mengingat orang yang tidak mengingat kita dan kita tidak mengingat orang sebaik orang lain mengingat diri kita. Tidak adil, ya? Padahal kan harusnya kita berusaha dengan baik untuk menjadi baik. Sepertinya usaha saya tidak cukup baik atau belum cukup baik.

Pelajaran saya hari ini adalah kenali musuhmu, lebih baik dari temanmu. Eh, salah. Jadilah orang baik, dengan cara mengenal orang lebih banyak. Cheers!