Kamis, 26 Mei 2011

Maukah Kamu?

Would you like to spend a day with me?


Itu seperti kata yang tersirat ketika nonton Before Sunrise dan Before Sunset. Ketika nonton kedua atau salah satu film itu rasanya ingin sekali merasakan hal seperti itu. Berjalan terus sekeliling kota dan berbincang atas semua hal. Tampak menggiurkan dan sangat menggoda. Menghabiskan waktu bersama.

Kemarin memang sempat nonton Before Sunset. Dulu juga sempat melihat film making-nya. Film lanjutan ini skenarionya dibuat dalam diskusi yang panjang. Si pemeran perempuan itu berperan pula pada penulisan dialog. Itu yang menarik. Dia menumpahkan segala impian yang begitu menggoda.

Yang membuat film ini berbeda dari yang lain adalah disebutkan 16 Desember. Terdengar sebagai pujian bagi saya walau itu tidak ada ucapan selamat ulang tahun di dalamnya. Dan karakter perempuan itu berzodiak sagitarius. Saya lupa zodiak si laki-laki.

Sejenak merasa saya seperti apa yang terjadi di dalam film itu. Sebenarnya itu hal yang wajar, biasanya orang yang menikmati suatu karya (entah itu karya sastra atau hal lain yang mengundang interpretasi karya) memilih sudut pandang yang sangat familiar dengan mereka. Dalam kasus saya, saya melihatnya dari diri saya sebagai kacamata utama. Tokoh perempuan tampak sangat memonopoli pembicaraan. Caranya memonopoli begitu memukau, mungkin saya tidak mampu memukau dengan indahnya seperti itu tapi jelas sering memonopoli.

Membuat iri. Menghabiskan beberapa waktu dengan orang yang menyenangkan pasti akan menyenangkan.
sedih + sedih = bunuh diri massal
sedih + senang = senang
senang + senang = super senang
Senang selalu menang. Itu salah satu alasan kalau saya pergi ke luar kota, saya membuat janji untuk bertemu dengan teman-teman, jika hal itu memungkinkan.

Mungkin itu yang membuat orang ingin memiliki teman, pasangan, atau kenalan baru. Manusia juga makhluk sosial. Kalau terkait sosial, pasti juga berhubungan dengan manusia lain. Untuk saya, saya suka sekali memperhatikan orang. Apalagi kalau sedang tidak ada yang dipikirkan. Memerhatikan sesuatu yang terjadi di depan mata begitu menarik.

Apakah kita memiliki pilihan minum yang sama? Dengan tambahan gula yang sama? Atau pilihan makanan yang tampak lebih enak? Lalu, jadi terpikir, kita lebih suka dengan orang yang memiliki selera yang berbeda atau cenderung memiliki banyak kesamaan? Seperti di film Runaway Bride, si tokoh utama perempuan baru memiliki masakan telur yang sungguh dia suka setelah jalinan hubungan berkali-kali.

Mungkin ini menjadi suatu tulisan yang penuh curahan hati. Tak apalah. Saya juga bingung ini membicarakan apa.

Jumat, 20 Mei 2011

Komunikasi yang Baik

Dulu, waktu kuliah, saya punya teman yang sering sekali ,mengucapkan kata maaf. Dia mengucapkannya dengan sungguh. Justru itu yang membuat kesal rasanya. Kenapa dia harus meminta maaf, selalu?


Maaf adalah salah satu kata yang katanya sulit diucapkan oleh orang pada kebanyakan*. Maaf juga berarti ada suatu kesalahan yang dilakukan kepada orang lain oleh seseorang. Itu memang harus dinyatakan, atas alasan yang tepat dan orang yang juga harus sangat tepat. Saya pun patut mengucapkan maaf kepada orang yang telah saya ganggu ketenangannya.

Sebelum ada maaf, tentunya ada kejadian. Bisa saja kejadian itu secara disengaja dilakukan dan ternyata menyebabkan respon yang tidak sesuai harapan, perasaan orang tersakiti. Misalnya, teman saya (yang lain lagi) pernah hendak menyampaikan kesulitannya dalam suatu acara kampus dan dengan santainya saya memilih kata-kata yang bermakna tajam. Kata-kata saya membuat dia langsung berdiri dari tempat duduknya dan melangkah keluar ruangan. Saya berlari mengejarnya. Saya meminta maaf. Kemudian saya jelaskan mengapa saya memilih kata-kata itu dan saya juga sadari bahwa intonasi yang saya pilih tidak tepat dengan kondisi dia saat itu. Sampai sekarang kami masih berteman.

Ada juga kejadian yang tidak disengaja. Kita tidak tahu apa yang salah terjadi. Seketika lawan bicara kita memberikan respon yang sepertinya dia marah atau kecewa. Dalam kondisi normal, kita harus segera meminta maaf.

Kadang saya tidak menginginkan maaf. Saya lebih suka kalau orang lain mengerti benar mengapa saya memilih untuk memberi respon negatif terhadap interaksi yang terjadi. Saya pernah menjadi orang yang sangat menyebalkan, saya mengabaikan perasaan orang lain. Mungkin maaf sudah tidak ada pengaruhnya. Saya hanya bisa berusaha untuk mengurangi kebiasaan saya dan memasang penuh senyum.

Lebaran tahun lalu, saya mengundang teman SMA untuk hadir di rumah. Bersilaturahmi, mengenang masa lalu, dan menikmati waktu bersama. Ada beberapa dari mereka yang belum pernah banyak berbincang bersama. Seperti mengenal orang yang baru, padahal mereka sudah lama kita kenal.

Ini lebih sulit dibanding dengan orang yang kita baru kenal. Dengan orang yang masih asing, kita biasanya sudah memiliki batasan, secara otomatis demi kebaikan sosial, apa yang masih wajar untuk dibagi. Kalau dengan orang lama tapi interaksi baru. Itu yang unik. Kita merasa memiliki kedekatan yang berbeda tapi ketidaktahuan yang banyak.

Ketika lebaran itu, ada teman saya yang muncul pertama dan sangat tepat waktu. Selama SMA, kita tidak pernah satu kelas. Hal yang saya ingat dan tahu adalah dia teman sekelas ketika SD dan pernah menjadi pacar dari dua teman saya. Saya pun bingung harus memilih kalimat basa-basi untuk memecah kejanggalan sampai teman yang lain hadir.


Watch and learn. Ketika cukup ramai, saya banyak berinteraksi dengan orang yang memiliki kecenderungan menguasai pembicaraan. Kemudian melihat respon dan interaksi tiap dari teman-teman saya. Itu yang kemudian membuat semuanya berjalan dengan baik saja.

Kadang kita mendengar kisah seorang teman dari cerita orang lain. Si itu gini, yang satu lagi begitu, dan siapa itu begini. Orang tua dari teman dekat dari si itu ternyata adalah orang yang dikenal oleh salah satu anggota keluarga. Ternyata istri siapa pernah berjumpa dimana dan kita pernah berbincang panjang lebar. Kita bisa tahu kalau yang satu lagi kuliah dimana karena temannya pernah cerita ketika bertemu di pusat keramaian. Memusingkan. Semacam gosip tapi itu sekedar dari upaya pengumpulan informasi. Berbekal informasi ini juga yang membantu kita untuk memiliki buah perbincangan yang aman. Kita pun harus bijak memilih informasi yang tepat kita pilih sebagai dasar informasi seseorang. Jangan penuhi pikiran dengan asumsi, cukup kenali dengan baik orang yang kita kenal.

Layaknya komunikasi yang baik, komunikator memilih media untuk menyampaikan pesan kepada komunikan yang kemudian akan memberikan timbal baik. Jika komunikasi yang baik terjadi, maka timbal balik ini akan sesuai dengan tujuan komunikasi tersebut. Jika tidak, berarti saya, anda, dia atau mereka adalah komunikator yang buruk.

Kembali ke perihal maaf. Sebelum meminta maaf kepada orang lain, sebaiknya kita tahu bahwa kita telah mengetahui apa yang salah. Beri waktu sejenak buat kita sendiri untuk memahami hal yang terjadi. Dengan begitu, kita bisa memahami orang lain. Jika maaf diperlukan, maka ucapkan dengan tulus. Jika sekedar konfirmasi dan klarifikasi yang diiringi kata maaf, tidak ada salahnya. Kalau dalam tujuan berkomunikasi tidak pernah menginginkan maaf dilibatkan, jangan.

Kalau sekedar maaf, semua orang pasti bisa memberi. Maaf bukan sesuatu yang dapat diukur dengan alat tukar uang yang digunakan dalam kehidupan ekonomi. Jangan membuat maaf itu suatu hal yang ada harganya, murahan. Urusan horisontal, antar manusia, hal yang sangat duniawi. Manusia bisa juga dengan keterbatasannya tidak semudah itu memberikan maaf, maka mintalah kepada Yang Pemaaf. Hiduplah dengan penuh ikhlas, permudah hidup. Nikmati hidup.



* Kata lain yang juga sulit diucapkan adalah tolong dan terima kasih. Satu hal yang sering dilupakan adalah tersenyum.

Rabu, 18 Mei 2011

Kalau Memang Berjodoh

Hari tadi, saya berjumpa dengan seseorang yang hanya beberapa tahun lebih tua dari saya dan memiliki suami yang umurnya dua kali lipat dari umurnya saat ini. Seperti umur antara bapak dan anak. Itu satu kisah tentang jodoh.

Saya jadi terpikir. Dengan ketulusan yang mereka miliki, harusnya itu juga yang dimiliki setiap pasangan suami-istri. Kalau kata mama saya, "Soal cinta aja kok dipersulit". Sederhana aja, jangan ditambahi bumbu yang tidak perlu. Kalau memang jodohnya, harus dilanggengkan jalannya. Teman saya dulu berslogan, "Tidak boleh ada yang menghalangi cinta".

Teman dekat saya lagi dilanda kegalauan. Saya sedih kalau dia terbebani banyak pikiran, seringkali dia menjadi sangat sulit tidur. Padahal, pada kondisi normal, dia adalah ratu tidur. Sebisa mungkin memiliki waktu tidur siang. Agak rancu. Biasanya anak kecil diminta untuk istirahat siang karena membantu proses regenerasi atau pertumbuhan mereka. Entah untuk apa tujuan tidur siang teman saya itu.

Kegalauan dia disebabkan oleh seorang pria, sebut saja Timon*. Keraguan muncul atas suatu hal yang terjadi pada dirinya. Dia ingin sesuatu yang teateritikal. Timon mendatangi teman saya dan mereka akan berbincang serius. Dalam perbincangan itu, ada satu adegan dimana Timon akan mengonfrontasi pemicu masalah di antara mereka berdua. Dia akan merasa puas jika itu terjadi. Itu akan menjadi titik dimana dia akan melangkah berikutnya.

Apakah pertemuan itu akan benar menyelesaikan masalahnya? Kalau memang sesederhana itu, kenapa teman saya harus sampai sulit tidur? Jika pasangan melandasi interaksi mereka dengan kepercayaan, berarti itu yang dibutuhkan. Lalu jika pertemuan itu menjadi sangat krusial dalam pembentukan kepercayaan? Saya bingung.

"Dia tampak tidak ambil pusing dengan masalah ini", seru temanku.

Kalau saya sungguh cinta pada seseorang, apa yang penting baginya adalah penting bagi saya. Dengan respon Timon yang sepertinya tidak menghargai perasaan teman saya, rasanya tidak adil. Mungkin teman saya juga terbawa emosi. Entah. Bisa juga ini adalah proses yang mereka harus lalui.

Saya hanya berharap teman saya sungguh tahu apa yang dia mau. Harus tahu betul apa yang dia rasakan. Keraguan boleh hadir tapi seiring waktu harus terus dipenuhi dengan keyakinan akan hal-hal baik. Apapun yang saya sarankan, toh, pada akhirnya teman saya yang memutuskan dan menjalaninya.

Kebaikan untuk semua orang yang berusaha. Harus!


*Terinspirasi Lion King

Rabu, 11 Mei 2011

Kumki


Aku lupa. Apakah aku pernah memperkenalkan Kumki kepada khalayak umum di dunia digital? Sepertinya belum. Kumki adalah kumbang yang aku temukan di Masjid Agung Lampung Barat, Liwa. Aku mendapatkan dia ketika malam dan di tempat itu begitu banyak lampu sorot. Umumnya, hewan nokturnal memang mencari kehangatan, salah satunya panas yang dikeluarkan oleh lampu.

Aku hanya berhasil memeliharanya selama 5 (lima) bulan. Hewan yang paling mudah untuk dipelihara. Makanan favoritnya adalah tebu. Itupun dapat bertahan selama dua hari. Diberi semangka, dia juga suka. Tapi kalau semangka lebih sering mengundang lalat-lalat kecil yang mengganggu pemandangan. Sekalipun tidak ada buah, kita masih bisa memberikan dia larutan gula.

Semoga Kumki bahagia dan saudara-saudara Kumki masih hidup sehingga tidak ada species yang punah.



* Akan kucari nama ilmiah si Kumki. Saya lupa lagi.

Senin, 09 Mei 2011

Tradisi Lampung

Seperti biasa, hari Minggu di Kompas ada kolom dari Samuel Mulia. Minggu ini, 8 Mei 2011, topik yang dia angkat adalah Loyal Wedding. Dalam tulisan ini sedikit menyebutkan mengenai tradisi. Hal itu yang mencetuskan ide untuk saya menuliskan apa yang akan saya alami kalau nanti saya menikah.

Papa saya adalah orang Lampung. Mama saya keturunan Jawa-Lahat. Berdasarkan kebudayaan, saya menganut patrilineal. Jadi, kalau saya ditanya oleh seseorang tentang suku saya, sepatutnya saya jawab, "Lampung". Walau kadang saya sulit melakukan hal itu karena saya juga senang pengaruh yang Mama saya berikan ke dalam keluarga ini.

Dengan keajaiban dan kemampuan bersosialisasi secara adat yang luar biasa oleh Papa saya, adat istiadat Lampung menjadi sangat kental dilaksanakan dalam keluarga besar saya, khususnya pernikahan. Semua proses harus dilakukan sesuai ataupun selaras dengan adat istiadat, tentunya tanpa mengurangi nilai dalam Islam. Setelah dua orang kakak saya dan dua orang sepupu saya menikah dengan rangkaian acara adat Lampung, hal itu mempermudah saya (dan juga saudara lainnya) untuk memahami pentingnya menjaga hal tersebut.

Salah satu teman saya, berasumsi kalau saya menikah maka akan banyak kerepotan. Mungkin yang benar adalah teman saya salah, bukan salah satu teman saya. Kalau salah satu dari sepuluh soal, nilainya masih sembilan. Kembali kepada pernikahan dan adat istiadat. Ada orang yang anggap kalau saya harus mencari calon suami yang juga bersuku Lampung. Papa dan Mama saya tidak pernah sekalipun berkata demikian.

Saya selalu berharap, saya menikah dengan jodoh saya. Kepada orang yang telah memilih saya dan saya pilih untuk menjadi suami saya, maka saya akan bahagia atas itu. Kalau ternyata dia adalah orang bersuku Lampung, maka proses pernikahan akan diawali dan ditutup dengan acara adat yang telah disepakati oleh para perwatin. Tentu, ketika akad nikah, sepenuhnya mengikuti syarat sah nikah dalam Islam.

Kalau bukan bersuku Lampung atau berwarga negara asing? Mari di-Lampung-kan. Maksudnya? Dalam rangkaian acara adat, dia harus sebagai orang Lampung. Demi memperpanjang tali silaturahmi, keluarga calon mempelai pria akan diangkat bersaudara oleh keluarga Lampung. Keluarga Lampung ini seringkali adalah teman dekat keluarga perempuan. Ini seperti penghargaan untuk menjadi saudara.

Karena kedudukan keluarga saya di dalam adat, maka saya pun menjadi Muli Adat. Itu yang mengartikan kalau saya menikah, hal tersebut harus dilakukan oleh masyarakat adat. Jika tidak, maka saya mencoret keluarga saya dalam sosial adat. Sekitar dua hari sebelum akad nikah nanti, di rumah saya akan ramai orang berkumpul. Secara adat, diumumkan bahwa saya gadis dari desa dan marga tertentu akan menikah. Nanti juga ada acara muda-mudi berkumpul, dulunya ini dijadikan ajang perkenalan.

Dalam acara itu, akan ada satu bagian yang saya suka. Ketika perwatin dan panitia acara memperkenalkan gadis-gadis dari desa dan atau marga lain yang hadir. Mereka diperkenalkan melalui pantun dalam bahasa Lampung. Pantun itu memperkenalkan gelar yang mereka miliki dan makna dalam gelar mereka. Dikumandangkan dengan lantunan yang sangat khas. Saya iri sekali karena saya pasti terbata-bata kalau harus menggantikan mereka.

Semua acara adat itu dilakukan di dalam ruang, yang disebut Sessat. Tidak sembarang orang boleh lewat atau berada di dalam Sessat. Hanya orang-orang yang berkepentingan dalam acara tersebut. Kalau ada orang yang masuk ke dalam Sessat, mereka harus menggunakan sarung. Kalau pria, seperti sarung tumpal. Kalau perempuan, dikenakan seperti sarung biasa atau rok panjang. Kalau ada yang melanggar, orang tersebut akan dikenakan denda dan Batangan, keluarga pelaksana acara, yang harus membayarnya.

Setelah akad nikah, keluarga perempuan akan melepas pengantin. Kemudian pengantin akan menuju rumah keluarga mempelai pria. Kalau pasangan saya nanti orang Lampung, bisa jadi ada acara lanjutan di rumah itu.

Tidak ada yang merepotkan, sepertinya. Kalaupun para perempuan harus menggunakan Siger dalam proses upacara adat, itu semua hanya rangkaian proses yang harus dilalui. Ini hanya sepenggal cerita dari yang saya saksikan sebelumnya. Dan ini juga yang mungkin akan terjadi nanti. Hal yang terpenting sebelum dimulai adalah harus memiliki calon suami terlebih dahulu.

SEMANGAT!

Sabtu, 07 Mei 2011

Hilang

Seketika, menginginkan benda yang bisa memutarkan lagu-lagu yang bisa kudengarkan hingga kuterlelap tidur. Aku pun tenggelam dalam alam mimpi.

Sedih terasa kalau sesuatu menganggu pikiran kita dan hal itu pun tidak segera pergi karena kita pun masih terjebak dalam putaran pikiran. Kadang ingin menyalahkan kerumitan dalam menentukan buah pikiran. Atau dalam keadaan sadar akan kemungkinan terburuk pun masih dipikirkan.

Aku kehilangan kepercayaan diriku.

Untungnya, beberapa jargon dari filsuf ternama yang sesaat aku pelajari ketika kuliah tidak ada pernyataan, "Saya percaya diri, maka saya ada". Itu artinya, aku masih ada dan aku masih hidup. Aku belum pernah secara serius juga mempelajari tentang filsafat. Hanya berusaha memaknai tiap apa yang terjadi pada diri sehingga tidak kehilangan akal.

Mungkin karena kurang banyak bersyukur. Atau mungkin terlalu banyak harapan dan kurang dalam upaya pencapaian. Mungkin juga karena rumput tetangga lebih hijau dan halaman rumahku tidak ada rumput.

Apa yang harus kulakukan?

Pilihan menenggelamkan diri dalam awan kelabu seperti pilihan termudah. Tidak mengizinkan matahari masuk. Badan melingkar, tergeletak. Pandangan kosong. Pikiran terhenti.

Tapi itu tidak benar. Membiarkan tubuh dan pikiran tergerogoti oleh lumut adalah hal yang tidak bijak. Kita harus menyambut sinar matahari pagi. "Good morning, sunshine!". Mendengar kicau burung. Menghirup udara pagi yang menyegarkan. Nikmati hari penuh keceriaan.

Seperti kata mama, "Kalau mau sukses, harus bangun pagi".

Minggu, 01 Mei 2011

Mungkin

Rasanya perih kalau orang yang paling dipercaya tidak mau mempercayai apa yang aku lakukan. Dengan cepat topik pembicaraan dibelokkan. Sungguh mematahkan hati. Tidak bolehkah aku menjadi diriku sendiri?

Peringatan yang tidak terlalu dini patut disampaikan. Tulisan ini kuketik dalam keadaan hormon tinggi. Suasana berlebihan dan pikiran menggila cenderung akan muncul.

Aku sadar atas segala yang aku lakukan. Dengan kesadaran itu juga aku memilih segala konsekuensi yang muncul. Buah pikiran selalu muncul. Kadang aku merasa seperti orang penuh ketakutan dan kehati-hatian. Semua pikiran tidak langsung dinyatakan kepada orang lain, namun ditahan dalam putaran. Disalurkan pada pelampiasan yang memungkinkan, seperti menuliskannya dalam rangkaian atau berbagi kepada teman.

Pemilihan kata dan pernyataan kalimat seringkali diberi analisis tambahan olehku. Mungkin alasan utama adalah pengisi waktu luang. Alasan lainnya, tidak memiliki pekerjaan lain, terhipnotis oleh kata, atau beranggapan kemungkinan selalu ada. Dari kata atau kalimat yang terucap oleh orang lain, memunculkan pikiran dengan segala kemungkinan yang bisa kupikirkan. Sangat menyeramkan. Kalau pikiran mampu membunuh, aku takut sekali aku terbunuh oleh kata-kataku sendiri.

Satu waktu, aku ingin berbagi tentang keraguanku dan reaksiku mengenai satu hal kepada salah seorang yang kupercaya. Dan hal itu ditolaknya mentah-mentah. Dia ganti topik pembicaraannya. Aku hanya bisa terdiam. Aku tahu kenapa dia mengganti topiknya, aku juga masih bisa berpikir. Dia berharap aku bisa melupa. Dengan menekankan topik tertentu, dia berharap telah mengingatkanku atas apa yang dia anggap penting dan patut.

Dulu, seingatku, ketika dia dalam penuh keraguan, aku pernah bilang, "Apapun yang lo putuskan, gue tetep temen lo. Apapun itu, sebaiknya lo pertimbangkan dengan baik dan tidak boleh ada penyesalan sedikitpun di masa depan." Kondisi itu terjadi ketika dia berada dalam kesepakatan bersama pihak-pihak lain.

Lalu, siapakah dia yang mampu membatasi apa yang terjadi di dalam diri? Apakah dia mencoba memberikan jalan pintas? Tuhan pun begitu adil, Dia memberikan kebebasan terhadap manusia untuk berbuat. Perbuatan yang baik dan buruk telah Dia sampaikan, manusia hanya perlu melakukan mana yang ia lakukan karena semua penghargaan dan balasan akan dilakukan di hari kiamat.

Aku juga tidak cukup berani mengembalikan pembicaraan yang aku inginkan. Aku tidak merasa ada alasan yang tepat bagi dirinya. Hal yang dibicarakan adalah hal-hal yang aku alami. Jelas sulit dimengerti oleh dirinya yang tidak berada di dalam pikiranku. Entah aku perlu dimengerti atau tidak.

Kalau dia membunuh pikiranku, berarti dia membunuhku. Kalau secara nyata, aku pun masih hidup. Maka, bisa saja aku telah dianggap mati oleh pikirannya. Itu berarti aku sudah tidak layak lagi menjalani kehidupan yang bersinggungan dengannya.

Maukah kamu menggunakan kalimat yang sama untukku? Aku butuh proses ini. Aku perlu menjalani hal ini tanpa ada rasa ragu dan penyesalan di masa datang. Ini aku yang menjalaninya. Ini prosesku.

Aku, saat ini, masih menginginkan segala kemungkinan.