Jumat, 25 Februari 2011

Film 2012 yang Aneh

Satu tahun lagi kiamat. Menakutkan? Tapi itu hanya terjadi di Amerika.

Entah. Film 2012 terasa sangat janggal buat saya. Bagi saya, alam tidak pernah sejahat itu. Dia akan perlahan memberitahu kepada makhluk hidup yang ada tentang perubahan yang ia alami. Tidak akan serta merta bumi retak tanpa gempa yang cukup signifikan. Apakah alam memang semurka itu? Atau manusia sudah kehilangan sadarnya akan alam? Atau manusia lupa akan peringatan-peringatan yang sudah pernah diberikan?

Untungnya, Indonesia -seingat saya- tidak disebutkan dalam film itu. Entah karena sudah tenggelam lebih dulu atau memang tidak penting. Saya lebih suka anggap itu hanya terjadi di Amerika. Film Amerika manapun memang mendahulukan negaranya.

Yang paling membuat penasaran adalah apa agama yang mereka yakini? Tidakkah ada peringatan akan hari-hari menjelang kiamat? Tapi apa yang terjadi di film itu juga tidak bisa dibilang kiamat karena masih ada saja manusia yang hidup. Jadi? Apa yang ingin disampaikan oleh film itu? Bahwa kita harus mempersiapkan diri menjadi supir limosine dengan bos Rusia yang mempunyai mantan pacar yang berpacaran dengan dokter bedah yang juga pernah mengambil kelas menerbangkan pesawat?

Apakah memang ada bedanya kita mati hari ini dan esok lusa? Bagi saya, itu semua berakar pada harapan. Kalau memang yang kita jalani dalam kehidupan ini sudah dipenuhi kebaikan, apa yang patut ditakuti? Ketakutan itu hanya ilusi. Bahkan kepada Tuhan kita tidak boleh takut tapi berserah diri. Melakukan ibadah atas dasar keimanan dan kecintaan, bukan ketakutan.

Aneh. Film super aneh. Tidak penting. Film yang sangat tidak direkomendasikan, apalagi kalau tahun 2013, film itu tidak layak tonton. Sangat tidak layak.

Kalau bencana alam yang sangat besar terjadi pada tahun 2012, apa yang kalian akan lakukan? Apakah kalian akan membuat kapal?

Saya hanya berharap ketika waktu itu tiba, saya masih bisa mengingat bahwa kehidupan yang saya alami begitu indah. Membuat kenangan lama kembali hidup di saat yang singkat dan menikmati waktu terakhir dengan kebahagiaan. Tutup mata dan bermimpilah.

Selasa, 15 Februari 2011

Sarkasme Gita

Segelas es teh tarik diantar oleh pelayan. Diletakkannya di atas meja, selepasnya pergi, langsung kuseruput. Terlalu manis. Bukan rasa yang tepat untuk lidahku.
"Terlalu manis", ujarku.
"Sarkastik Gita", balas temanku

Tertegun sesaat. Sayangnya, itu memang benar. Aku seringkali otomatis berkata spontan yang terdengar sarkastik bagi orang lain. Tak pernah bermaksud untuk menyakiti perasaan orang lain tapi itulah yang terjadi.

Perlahan seiring waktu berlalu, aku berusaha merubahnya. Kepada orang yang baru dalam kehidupanku, aku lebih berhati-hati dalam bersikap. Layaknya seorang manusia sosial Indonesia, aku masih mempertimbangkan pandangan orang lain pada diriku. Entahlah. Kadang terasa lebih baik untuk kita menutup mata atas semua itu. Kadang juga teringat bahwa kita membutuhkan sumbangsih pikiran untuk kita mengevaluasi diri kita.

Setelah temanku mencoba, minuman itu memang terasa terlalu manis, terlalu banyak susu kental manis. Selalu ada sesuatu dibalik sesuatu, sampai kita bertemu pada intinya maka akan berhenti lapisan pembungkus. Temanku memilih berkata lebih dulu sebelum mencoba minuman itu.

Maka, itu adalah salah satu kejadian dimana kata tiap orang bisa berarti lebih bagiku.

Dulu, aku pernah foto bersama teman-teman setelah mengadakan acara. Kita semua bersepakat untuk memakai baju panitia dan bertemu di studio foto. Berpose beberapa kali dan kita harus memilih beberapa dari sekitan frame foto yang diambil oleh fotografer. Ketika memilih, aku tidak memilih foto yang diinginkan salah satu temanku.
"Kenapa ga yang ini aja? Di sini semua menunjukkan kepribadiannya. Gita di sini kan tampak seperti diktator.", katanya.
Tanpa menginginkan perdebatan berkepanjangan, aku membayar biaya untuk penambahan pilihan foto.

Malam itu, kata "diktator" menjadi buah pikiran tiada henti. Separah itukah? Diktatorkah aku? Masih kurang mampu aku melemahkan egoisme dalam diri? Membuatku menangis. Kalau memang aku diktator yang tidak menguntungkan berarti ada eksistensi temanku yang tidak aku akui dalam proses persiapan acara. Sungguh menyedihkan.

Keesokan harinya, aku mendatangi dirinya dan bertanya tentang kediktatoran itu. Nyatakah terjadi? Aku lupa perbincangan yang terjadi dengannya. Toh, yang terpenting, aku dan dia sampai sekarang masih berteman. Dia tetap menjadi teman terbaikku. Aku merindukannya.

Terserah mau dibilang apa. Sarkastik atau diktator. Selama aku masih menjadi diriku sendiri dan semua bisa menjelaskan apa yang mereka nyatakan, tidak akan ada masalah besar. Hanya Tuhan Maha Tahu.

Jumat, 11 Februari 2011

Untuk Semua Teman

Aku akan terus merindukan perbincangan yang pernah terjadi di dalam persinggungan waktu kita.

Aku juga selalu mendambakan perbincangan kita yang akan terjadi di masa depan.

selalu.

Senin, 07 Februari 2011

Penghargaan untuk Tamu

Ketika kita menyelenggarakan suatu acara yang mengundang orang lain untuk hadir. Sudah dapat dipastikan bahwa kita memiliki ketergantungan kepada kehadiran para tamu di acara kita. Penghargaan atas tamu sepatutnya dilakukan semestinya. Tamu datang, kita senang. Mereka kenyang, hati senang.

Ini terkhususkan pada undangan pesta perayaan pernikahan, lebih tepatnya kebanyakan pesta yang saya datangi di Bandar Lampung. Syarat utama ketika mengundang adalah usahakan memulai acara tepat waktu. Ini penghargaan bagi yang mengundang dan juga para tamu yang datang.

Mama saya pernah bilang,
"Kalau kalian jadi calon pengantin nanti, bangun harus lebih pagi. Langsung mandi, dandan dan pakai baju yang bagus. Tiap tamu yang datang ke rumah ini pasti ingin ketemu calon pengantin."
Petuah itu dia dapatkan dari Mami-nya yang saya panggil, Mbah Putri.

Amanah yang pasti adalah saya harus bangun pagi. Itu berarti memulai hari lebih dulu dibanding orang lain pada umumnya. Berpenampilan menarik supaya hal itu menjadi pembeda antara calon pengantin dengan gadis-gadis lain dan atau dengan para tamu yang datang. Hal itu juga bisa kita anggap sebagai suatu kesiapan dari calon pengantin. Penghargaan bagi para tamu, apalagi kalau tamu adalah keluarga dari jauh, bahwa perjalanan mereka sepadan dengan acara saudara yang hendak mereka ramaikan.

Menjadi pengantin memang seperti menjadi Raja dan Permaisuri dalam sehari. Pengantin laki-laki dan perempuan didudukan di tempat yang sepadan singgasana kerajaan lengkap dengan rangkaian bunga nan megah. Tiap dari tamu bergiliran, berduyun-duyun, satu per satu menghampiri untuk sebuah jabatan tangan.

Namun, menjadi Raja dan Permaisuri bukan perkara mudah. Mereka harus tampil sempurna. Baju yang digunakan telah dipersiapkan jauh hari. Runut acara telah ditentukan agar kekhidmatan prosesi begitu terasa. Hiburan telah ditentukan. Dominasi warna disesuaikan dengan kegemarannya.

Rakyat lebih mudah merasa kecewa. Mereka tidak punya banyak waktu karena harus berbagi dengan setiap orang yang datang. Kekaguman mereka akan kemegahan akan tergantikan oleh tangisan anak yang mulai bosan karena terlalu lama berada di tempat yang sama. Atau karena rasa lapar dengan gemuruh perut karena buru-buru berangkat agar tiba tepat waktu. Bisa saja, mereka dikejar ketergesaan atas kegiatan setelah pesta, menjual hasil pertanian sebagai sumber pendapatan. Mungkin. Mereka tidak lagi menikmati pesta yang telah dipersiapkan oleh Raja-Permaisuri.


Para tamu sudah datang lebih awal, berharap dapat melihat pasangan pengantin yang memukau. Ternyata, yang terlihat hanya kursi-kursi kosong yang dihiasi rangkaian bunga dan dekorasi megah. Dimana mereka? Tiga puluh menit berlalu. Basa basi dengan teman yang sedari tadi juga menunggu telah menjadi basi. Kemana lagi perhatian harus dituju? Empat puluh menit berlalu, perut mulai lapar. Pesan singkat mulai bertubi. Kemana yang menjadi pengundang acara?

Tak lama, datang rombongan. Acara dibuka dengan membosankan. Pembawa acara menyambut dengan kata-kata yang terartikulasi dengan jelas dan per suku kata. Membiarkan detik berlalu terasa lama. Benarkah hari ini telah mereka persiapkan sejak lama?

Sabtu, 05 Februari 2011

Tulisan Tentang Teman

Seorang teman pernah bertanya,
"Kok aku ga dibuatin tulisan juga sih?"


Aku kesulitan untuk menjawab pertanyaan itu. Bukan karena tidak ingin atau tidak mampu. Hanya saja, hal tersebut tampak sulit untuk langsung dilakukan tanpa kesadaran penuh. Memang pernah menceritakan tentang si Pit, teman saya.

Kedekatanku dengannya membuat itu menjadi sulit. Membuat jarak dengan menjadi seorang penulis kisah adalah hal yang berat. Sempat juga terlintas, apa karena pribadi dia tidak menarik di dalam tulisan? Rasanya tidak benar. Dia salah satu teman yang aku kenal dengan baik.

Dia adalah penyuka makan. Entah kenapa kalau ditawari kue bolu, selalu saja ditolaknya. Mencoba pun tampak enggan. Perutnya pernah mulai membuncit dan tampak tambun. Kalau soal es krim -tanpa maksud menjadi agen promosi merek bersangkutan dan melakukan black campaign-, dia lebih suka keluaran Walls. Alasan utamanya adalah komposisi susunya lebih tinggi, katanya. Tapi kalau menurutku karena beberapa waktu kehidupannya banyak dibiayai oleh hasil kerja orang tuanya di Unilever.

Kesukaannya pada makanan ini diwujudkan dalam karya fotografinya. Mungkin lebih tepat bibit karya foto essainya yang masih belum rampung juga karena dia ketika itu mengganti subyeknya. Sulit sekali dia untuk menahan godaan. Jika di dompet atau kantongnya terdapat uang dan banyak sekali tukang yang berjualan makanan, entah apa kandungan di dalamnya, dia akan segera menghampiri untuk menikmati makanan jajan pinggir jalan dengan warna yang mencurigakan dan tersenyum bahagia. Kebahagiaanya sesaat saja karena dia baru sadar kalau uangnya sudah habis dan dia tidak bisa membeli apapun lagi.

Hampir menjadi orang yang paling keras kepala yang kukenal. Untungnya, ada yang lebih keras kepala dari dia, sepupuku sendiri. Punya teori tentang hidup adalah suatu lingkaran. Pembuktian awalnya dimulai dengan bentuk telapak tangan yang (hampir) lingkaran. Dilanjutkan dengan bentuk sempurna lainnya yang menyerupai lingkaran. Angka delalapan (8) menjadi angka favorit dia karena dapat dibentuk dengan garis tanpa putus.

Aku dan temanku yang lain kadang bingung dengan teori-teorinya. Akhirnya, kami menjadi orang jahil. Kami berdiskusi tentang hidup itu adalah lingkaran. Seingat saya, asumsi dia terpatahkan. Entah apa alasan yang kami berdua gunakan, aku sulit untuk mengingatnya. Berharap dia akan memandang kehidupan dari segi yang berbeda. Ternyata, tidak. Dia hanya menyembunyikannya dari kami.

Itu salah satu yang menjadikan bukti bahwa dia seorang yang keras kepala. Seringkali kalau terlibat dalam suatu diskusi, pada awalnya dia akan menyampaikan pandangannya dengan bebas. Biasanya kalau dalam diskusi, akan menghasilkan suatu sintesis yang baru. Itu akan sangat jarang terjadi pada dirinya. Apa yang menjadi hipotesis awal, baginya, juga akan menjadi sintesis diskusi. Seakan-akan diskusi sia-sia.

Itu dulu. Sekarang? Ke-keras kepala-annya mulai melunak. Di beberapa hal dia masih mau melakukan kompromi dengan lingkungannya. Namun, dalam hal lain, entah sampai kapan dia berdiri sendiri. Tidak ada salahnya jika kita memang menginginkan atau berpegang teguh atas hal. Masing-masing dari kita sudah sepatutnya menghargai perbedaan pendapat. Kita harus bijak dalam menentukan mana yang harus tetap ada dan mana yang harus menjalani adaptasi dalam kehidupan ini.

Mungkin aku belum kenal betul. Mungkin hanya sulit untuk menjabarkannya dalam kata-kata. Mungkin aku memiliki resistensi lain. Mungkin. Yang pasti, tidak terbantahkan bahwa dia adalah salah satu teman terbaik.

Rabu, 02 Februari 2011

Pemecah Kebosanan

Saya cenderung apatis.

Mungkin banyak teman saya tidak setuju dengan pernyataan saya. Suara saya lebih sering terdengar lantang dan menggema (khususnya ketika saya masih di SMA). Kalau berbincang dengan teman, seringkali saya tampak berapi-api. Mungkin karena elemen zodiak saya adalah api. Entah berkaitan apa tidak, belum pernah ada penyelidikan lebih lanjut untuk merujuk pada hipotesis dan menghasilkan sintesis bertanggung jawab. Itu sepertinya bukan sikap yang apatis.

Kalau sedang berkendaraan, saya akan mengomentari banyak hal. Lebih sering, pengendara bodoh yang tidak mengerti apa fungsi toleransi dalam penggunaan jalan umum dan fungsi rem pada roda kendaraannya. Untungnya, mobil keluarga saya super sederhana (kalau sederhana sungguhan, harusnya tidak ada tambahan 'super'). Tidak ada radio penghibur suasana hati. Jarang sekali ada aroma tambahan untuk meningkatkan konsentrasi. Yang kadang saya sesalkan, kenapa di mobil itu tidak ada pengeras suara. Percuma saja kalau saya berpendapat tapi yang seharusnya mendengar tidak dapat mengetahuinya.

Ya. Saya apatis. Itu yang kadang bikin saya mudah kesal. Kehilangan semangat dan tenaga untuk melakukan sesuatu. Berpikir mengenai segala kemungkinan yang bisa dilakukan. Tetap saja. Kehilangan daya.

Toh. Semuanya tetap harus dilakukan. Cepat atau lambat. Apapun itu tetap harus diputuskan.

Orang suka bilang, berdoalah kepada Tuhan. Saya sulit menerima pemikiran itu. Bukan berarti saya menolak konsep Tuhan dalam hidup. Hanya saja, saya belum mampu melakukan berdoa dan meminta di kala senang dan duka. Kalau hanya teringat untuk berdoa atau berdoa secara khusus ketika ditimpa kedukaan, rasanya tidak adil. Kadang, saya anggap hal duniawi harus diselesaikan secara duniawi. Apa yang terkait dengan Tuhan, maka itu harus dengan penuh kerelaan dan berserah diri.

Saya bosan merasa apatis tapi masih belum bisa penuh ambisi. Butuh pertolongan.